Duh! BI prediksi pelemahan rupiah terjadi hingga tahun depan

Kamis, 20 September 2018 | 22:42 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) memperkirakan pelemahan nilai tukar rupiah masih akan berlanjut hingga tahun depan karena neraca transaksi berjalan (current account) yang diperkirakan masih akan defisit.

Bank sentral sebelumnya memperkirakan defisit transaksi berjalan masih akan berada di kisaran 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun depan. Angka itu sebenarnya membaik dari proyeksi tahun ini sebesar 2,5 persen dari PDB. 

"Depresiasi rupiah adalah hal yang niscaya bisa terus terjadi selama neraca pembayaran dan transaksi berjalan Indonesia defisit. Kalau current account surplus, itu bisa terapresiasi nilai tukar," ucap Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi di Gedung DPR/MPR, Rabu (19/9/2018). 

Kendati begitu, Doddy memperkirakan pelemahan rupiah pada tahun depan tidak akan sedalam tahun ini lantaran sentimen dari eksternal diproyeksi mereda, meski tekanan tetap ada. 

Sentimen yang mereda itu, sambungnya, berasal dari kebijakan tingkat suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve yang diperkirakan tidak seagresif tahun ini. 

"The Fed masih berencana menaikkan suku bunga sampai 2020, tapi kami lihat kenaikannya sudah semakin lambat. Artinya, walau masih ada, tapi tidak akan seberat sekarang," terangnya. 

Di sisi lain, Doddy menilai depresiasi pada rupiah di sepanjang tahun ini masih cukup wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, meski rupiah hampir menyentuh Rp15 ribu per dolar AS, pelemahannya secara presentase tak berbeda jauh dengan negara-negara lainnya.

"Kalau depresiasi masih sekitar 3-4 persen, itu sama seperti inflasi, itu normal. Tapi kalau depresiasi sampai 40 persen seperti Turki, itu baru bahaya," katanya. 

Kendati begitu, sejatinya depresiasi rupiah berdasarkan kurs referensi BI, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) sebenarnya sudah mencapai 9,99 persen secara tahunan. 

Sementara pada perdagangan pasar spot sore ini, rupiah diperdagangkan di level Rp14.875 per dolar AS. Posisi ini sudah melemah 9,74 persen dibanding posisi awal tahun. 

Di sisi lain, pemerintah dan DPR menyepakati sementara asumsi makro nilai tukar tahun depan sebesar Rp14.500 per dolar AS dari asumsi awal Rp14.400 per dolar AS. Perubahan asumsi dinilai merupakan bukti pemerintah kian realistis dalam menyusun APBN. 

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF Kemenkeu Adriyanto mengatakan perubahan asumsi kurs itu mempertimbangkan pergerakan rupiah saat ini dan berbagai sentimen yang sekiranya masih akan menekan rupiah pada tahun depan. 

"Makanya kami sepakat dengan kisaran yang ditetapkan Bank Indonesia di Rp14.300-14.700 per dolar AS. Tapi akhirnya disepakati Rp14.500 karena merupakan kesepkatan dengan DPR juga," ucap Adriyanto.

Kendati sentimen kenaikan Bunga The Fed diperkirakan bakal mulai mereda di tahun depan, ia menyebut, pemerintah tetap berusaha mengantisipasi munculnya sentimen yang bisa menekan rupiah dari sisi lain. Sentimen tersebut, yakni kelanjutan perang dagang AS-China dan perkembangan ekonomi global ke depan. 

"Jadi kami proyeksi sentimen memang akan mereda, tapi tekanan masih ada. Untuk itu, perlu tetap kami antisipasi dan hitung, termasuk dalam menetapkan asumsi rupiah. Meski, saat ini pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pembatasan impor dan lainnya agar tekanan terhadap rupiah berkurang," katanya.

Sementara Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai langkah pemerintah dan DPR yang mengubah asumsi kurs rupiah menjadi Rp14.500 per dolar AS sudah tepat. Sebab, angka ini menunjukkan kerealistisan pemerintah dalam menyusun APBN 2019.

"Saya rasa angka Rp14.500 sudah cukup pas. Jadi pemerintah sudah realistis, tapi tidak pula mematok angka yang terlalu lemah, karena itu takutnya justru bisa memberikan sentimen kekhawatiran kepada masyarakat," jelas Josua. kbc10

Bagikan artikel ini: