Penegakan aturan jadi jurus Menteri Susi dongkrak ekspor perikanan

Sabtu, 22 September 2018 | 00:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengklaim capaian positif ekspor produk perikanan karena dukungan kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Pemberantasan Illegal Unreported Unregulated Fishing seperti pelarangan alat tangkap tak ramah lingkungan (di antaranya cantrang), penyetopan izin pihak asing menangkap ikan, hingga penenggelaman kapal disebut berhasil meningkatkan produksi komoditas perikanan sehingga mendongkrak penjualan dan ekspor.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor perikanan semester I tahun 2018 sebanyak 510,05 ribu ton, naik 7,21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar  475,74 ribu ton. Nilai ekspor perikanan juga meningkat 12,88% menjadi US$ 2,27 juta pada semester I 2018 dari US$ 2,01 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Berarti regulasi yang dibuat pemerintah sudah benar,” kata Susi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21/9/2019).

Namun Susi   mengakui adanya tren penurunan volume ekspor, kendati hal itu mampu dikompensasi oleh meningkatnya tren nilai ekspor. Pada 2014, volume ekspor mencapai 1,27 juta ton dengan nilai US$ 4, 64 juta. Tahun lalu, volume ekspor yang hanya 1,07 juta ton bisa mencapai nilai US$ 4,05 juta.

Susi menjelaskan kebijakan KKP membuat proses penangkapan produk perikanan semakin tepat sasaran. Sebab, nelayan lebih diarahkan untuk menangkap komoditas perikanan yang boleh ditangkap dan bernilai tinggi.

Beberapa komoditas perikanan ekspor utama dari Indonesia adalah udang, tuna, rajungan-kepiting, cumi-sotong-gurita, dan rumput laut. “Bukannya ikan-ikan kecil yang masih bisa berkembang dan tidak ada nilainya,” ujarnya.

Kendati demikian,  Susi juga mengakui masih ada impor produk perikanan sekitar 300 ribu ton setiap tahun untuk komoditas yang tak tersedia di Indonesia seperti salmon, makarel, dan trout. Namun, neraca perdagangannya sektor perikanan hingga kini masih surplus.

Di Asia Tenggara, Indonesia menempati urutan pertama surplus neraca perdagangan  sektpr perikanan dengan US$ 4,09 juta tahun 2017. Sejak 2014, Indonesia posisi Indonesia telah mampu melampaui Thailand dan Vietnam.

Susi menjelaskan,  per tahun KKP menargetkan produksi perikanan naik hingga 20%. Adapun pada  2017, produksi perikanan tangkap mencapai 6,8 juta ton. Sedangkan produksi perikanan budidaya sebesar 16,1 juta ton dengan rincian 5,65 juta ton ikan dan 10,45 juta ton rumput laut.kbc11

Bagikan artikel ini: