Angger sukses lepas dari masalah berkat Dus Duk Duk

Minggu, 23 September 2018 | 18:46 WIB ET
Pendiri Dus Duk Duk, Angger Diri Wiranata.
Pendiri Dus Duk Duk, Angger Diri Wiranata.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Ide atau kreativitas muncul kadang saat adanya persaingan yang ketat atau keinginan untuk memperluas serta menciptakan pasar baru. Hal itu pula yang dirasakan Angger Diri Wiranata, pendiri Dus Duk Duk.

Lulusan Desain Produk Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu mengaku bisa menciptakan ide kreatif dari masalah yang dihadapinya. “Ide kreatif itu bukan hanya milik seniman. Semua orang bisa punya ide kreatif. Munculnya dari banyak cara dan kesempatan,” ujar Angger saat menjadi pembicara di ajang Diskusi Kepemudaan yang PT HM Sampoerna Tbk di House of Sampoerna (HoS) Surabaya, Minggu (23/9/2018). 

Diceritakannya, saat itu ide kreatif muncul karena dia dihadapkan pada masalah tugas akhir di kampusnya. Selain itu, dia bersama tiga teman lainnya berpikir bahwa kuliah di ITS itu apalagi jurusan desain produk sangatlah mahal. 

“Jangan sampai lepas kuliah di ITS menjadi rugi. Harus untung. Dari sana kami berpikir untuk membuat sesuatu. Bikinlah proposal untuk program kreativitas mahasiswa (PKM). Dan akhirnya berhasil lolos untuk mendapat hibah dari pemerintah,” jelas Angger.

Waktu itu, Angger dan tiga temannya memang sengaja memilih bahan baku dari kardua untuk dijadikan banyak produk fungsional karena melihat banyaknya kardus—kardus bekas tidak terpakai. “Kita ingin memanfaatkan barang sampah itu menjadi sesuatu yang berguna bahkan bisa bernilai tinggi. Kalau dijual sebagai rongsokan, harganya hanya Rp 120 per kilogramnya,” tukasnya. 

Waktu pertama kali membuatnya pada 2013 lalu, Angger mengaku sengaja membuat furnitur berupa kursi. Diakui Angger membuat kursi adalah sesuatu untuk meyakinkan orang banyak dalam hal ini konsumen bagaimana kardus bisa menjadi produk yang bisa menahan beban berat hingga 180 kilogram. 

Walau sudah berhasil membuat produk dari kardus yang cukup kuat menyamai produk dari bahan kayu dan besi, namun Angger mengaku kebingungan. Dia dan temannya tidak tahu bagaimana harus memasarkan produknya itu. 

“Akhirnya kami mencoba memasarkannya melalui sosial media. Kami mencoba memaksimalkan sosial media agar produk ini dikenal. Dan tak lama memang sudah mulai dikenal, terutama pasar luar negeri,” tukasnya. 

Namun pemasaran melalui sosial media itu tidak sembarangan. Diakui Angger, semua harus dikelola dengan baik agar hasil yang didapat maksimal. “Waktu itu sampai ada pesanan dari Amerika, Australia, Malaysia dan banyak yang lain,” tambahnya. 

Dengan semakin dikenalnya produk ini di masyarakat luas, justru ekspor ke beberapa negara itu dihentikan. “Kami ingin mengekspor untuk produk yang akan kami produksi massal. Sehingga biaya pengirimannya bisa lebih murah. Contohnya untuk produk furnitur dan toys,” tuturnya. 

Tapi untuk menuju ke sana, Angger mengaku harus menjalin hubungan kerjasama dengan banyak pihak. Kolaborasi bagi Angger adalah hal mutlak yang harus dilakukannya. Karena semua tidak bisa dilakukan sendiri tanpa melibatkan pihak lain. 

“Bisa gila kalau memikirkannya sendiri. Kolaborasi penting dilakukan asalkan orangnya bisa saling dipercaya. Kalau tidak, harus ada perjanjian hitam di atas putih. Tidak ada untungnya keren sendiri,” tukasnya. 

Kini, bisnis yang hanya tinggal dua orang ini sudah memiliki omset yang cukup menggembirakan. Bahkan di semeter pertama 2018 ini angkanya sudah menyamai omset pada 2017 lalu. “Prospek bisnis ini cukup besar, apalagi pemainnya masih belum banyak. Komunitas kardus Indonesia anggotanya baru sepuluh. Peluangnya terbuka lebar,” tandasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: