BI diminta tak kerek suku bunga lagi, ini alasannya

Senin, 24 September 2018 | 09:27 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rapat The Federal Open Market Comitee (FOMC) yang rencananya akan diselenggarakan pekan ini akan menentukan arah perekonomian terutama pasar saham pekan depan, terutama beberapa keputusan penting yang akan diambil seperti rencana kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Analis Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji mengatakan, rencana Fed untuk menaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,25% akan diamati dan dicermati oleh para pelaku pasar. Biasanya hal tersebut akan memberikan efek positif bagi meningkatnya capital inflow yang masuk ke dalam US Markets.

"Kemudian secara domestik, kebijakan penetapan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate diharapkan mampu menjaga stabilitas rupiah, sehingga memberikan katalis positif bagi indeks," kata Nafan, Minggu (23/9/2018).

Ia meyakini The Fed akan tetap menaikkan suku bunga, apalagi akan ada data GDP AS setelah pengumuman penetapan suku bunga AS yg diprediksikan akan stabil di level 4,2%.

Nafan juga bilang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh pelaku pasar mengenai ketidakpastian global tersebut mengingat stabilitas fundamental makroekonomi domestik sudah dikelola secara efektif oleh pemerintah, apalagi akan ada penetapan BI 7DRR.

"Selama posisi rupiah tidak menyentuh level Rp 15.000 seyogyanya BI tidak perlu dinaikan suku bunga tersebut mengingat BI memiliki ruang satu kali lagi untuk menaikkan suku bunga acuan," kata Nafan.

Sementara, The Fed memiliki peluang untuk menaikkan suku bunganya dua kali lagi pada tahun ini, mengingat data makroekonomi AS yang cenderung positif.

Kecuali jika BI ingin menjaga cadangan devisa agar tidak mengalami penurunan yang signifikan, maka BI bisa menaikkan suku bunga acuannya. kbc10

Bagikan artikel ini: