Serunya bersepeda santai di kompleks Candi Muaro Jambi

Selasa, 25 September 2018 | 21:00 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Jika datang ke Jambi, rasanya belum lengkap jika tak mengunjungi Kompleks Candi Muaro Jambi. Pemandangan eksotis peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya, mampu melahirkan sensasi tersendiri saat datang berkunjung.

Yang paling pas saat mengelilingi salah satu destinasi wisata terbaik di Jambi tersebut adalah dengan menyewa sepeda. Dengan biaya penyewaan sebesar Rp 10 ribu, kita bisa berkeliling melihat langsung reruntuhan candi yang tersebar kurang lebih seluas 3.000 hektare itu.

Kompleks Muaro Candi yang dibalut dengan pohon-pohon besar nan rindang, cocok dikunjungi bersama keluarga. Seperti yang dilakukan Sudirman Arsyad bersama keluarga besarnya yang datang dari Jakarta untuk pulang kampung ke tanah kelahirannya tersebut.

“Saya mengajak anak-anak kesini. Berwisata sekaligus mengenal sejarah dari tanah leluhurnya. Disini selain bisa berwisata, anak-anak juga bisa belajar soal sejarah,” ungkap Sudirman.

Kompleks percandian Muaro Jambi sendiri terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Dimana total ada sembilan candi ada didalamnya. Seperti Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajp, Kembang Batu, dan Astano.

Situs Muaro Jambi sendiri  diperkirakan dibangun sejak abad keempat hingga kesebelah Masehi. Di mana saat itu, tempat ini menjadi lokasi pengembangan ajaran Buddha pada masa zaman Melayu Kuno.

Kompleks percandian Muaro Candi memiliki 82 reruntuhan (menapo) bangunan kuno. Saat ini sudah ada sembilan bangunan candi yang telah dilakukan ekskavasi atau pemugaran dan pelestarian secara intensif oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi.

“Ada beberapa destinasi wisata unggulan di Jambi. Seperti Kerinci dan situs sejarah Kompleks Candi Muaro Jambi. Untuk Candi Muaro Jambi, itu adalah salah satu destinasi sejarah yang juga banyak dikunjungi untuk berwisata,”kata Asisten Deputi Bidang Pemasaran I Regional I Kemenpar Iyung Masruroh.

Sementara itu, Juara Ketek Race Festival Sungai Batanghari 2018 akhirnya terkuak. Supriansyah tergetar ketika ditanya apa yang memotivasinya tampil sebagai juara Ketek Race Festival Sungai Batanghari 2018. Dengan suara lirih, pria yang sedang menantikan kelahiran anak keduanya itu mempersembahkan keberhasilannya untuk sang calon momongan.

Supri begitu pria berusia 32 tahun itu disapa, kegirangan ketika ketek yang dipacunya finis terdepan dari total 20 peserta yang ambil bagian dalam perlombaan kali ini. Setibanya di garis finis, dirinya langsung membuka baju sambil melocat-loncat kecil di atas keteknya. Supri berlagak ala selebrasi ketika seorang pemain bola sukses menjebol gawang lawan.

Namun ketika diminta komentarnya atas sukses tersebut, Supri seolah terbayang anak serta istrinya yang sedang mengandung di rumah. " Ini berkat doa anak dan istri saya. Istri saya sedang mengandung anak kadua kami," ungkap Supri di tepi Sungai Batanghari, Kawasan Tangga Rajo, Kota Jambi, Minggu (23/9/2018).

"Hadiahnya akan digunakan untuk biaya persalinan istri saya nanti. Juga untuk membeli semua perlengkapan bayi yang lahir nanti," sambung Supri yang berhak atas hadiah uang Rp.500 ribu, plus mesin ketek, dan tropi.

Ketek memang transportasi warisan masyarakat Jambi yang sampai saat ini masih digunakan sebagai moda penyebrangan di sungai Batanghari. Yang unik kenapa disebut ketek, itu dikarenakan suara mesin yang memang berbunyi tek-tek. Bagi masyarakat yang bertempat tinggal ditepian sungai Batanghari, suara tersebut sudak tak asing lagi.

Namun ada kekawatiran yang muncul, terkait pelestarian transportasi ketek yang juga digunakan untuk menyebrangkan kendaraan bermotor itu. Adanya jembatan Perendustrian Gentala Arasy yang resmi dibuka 2015 lalu, dikawatirkan masyarakat lebih memilih menyebrang melewati jembatan dibanding harus menyewa ketek.

Dan ternyata, hal itu jadi alasan tersendiri Ketek Race dipilih sebagai salah satu ajang yang diperlombakan pada Festival Sungai Batanghari tahun ini. "Ini warisan budaya. Tidak boleh punah walaupun sekarang sudah ada jembatan yang menyambungkan antara Kota Jambi dan Kota Seberang," tutur Rido Wildansyah yang menjadi kordinator perlombataan Ketek Race.

"Dengan adanya perlombaan-perlombaan Ketek Race seperti saat ini, akan muncul ketek-ketek baru. Karena selain sebagai moda transportasi, ketek juga menjadi bagian dari pariwisata di Jambi. Banyak yang datang kesini hanya untuk menaiki ketek di sungai Batanghari," tutup Rido

Bagikan artikel ini: