Mantan menkeu ramal rupiah terus tertekan sampai tahun depan

Rabu, 03 Oktober 2018 | 18:56 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, mengerek suku bunga acuan secara agresif menjadi pemacu utama tekanan terhadap kurs rupiah. Hal ini diprediksi akan terus berlangsung hingga Juni 2019.

"Financial market mungkin akan bereaksi sampai Juni 2019. Kalau rupiah hadapi penguatan, jawaban saya enggak," ujar Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri di Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Pergerakan nilai tukar rupiah semakin tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah pada hari ini, Rabu (3/10/2018) resmi tercatat di Bank Indonesia (BI) , US$ 1 berada di level Rp 15.088. Posisi rupiah tersebut merupakan yang‎ terlemah sejak masa krisis moneter 1998.

Menurut Chatib, situasi yang terjadi di AS saat ini berbeda dengan situasi 2007-2008 di mana Fed Fund Rate (FFR) di kisaran 3,5% dan ketika terjadi krisis keuangan global The Fed menurunkan FFR menjadi 0,25%.

“10 tahun terakhir era bunga rendah. The last 10 years false normal world. Dunia semu. The Fed tak boleh di level ini," jelasnya.

Saat ini, lanjut Chatib, The Fed harus lakukan penyesuaian, suku bunga The Fed harus kembali ke level norma. Saat ini FFR 2,25% dan akan dinaikkan lagi secara bertahap sebesar 25 bps sebanyak 3 kali. Akhir 2019, FFR akan di kisaran 3%.

The Fed memang harus menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga perekonomian AS tidak overheating. Pasalnya, Trump mengeluarkan berbagai kebijakan ketika AS berada pada posisi full employment, hampir semua orang bekerja.

 

Bila lakukan ekspansi fiskal saat semua sumber daya dikerahkan, maka akan naik yang berdampak pada inflasi yang akan menjadi alasan The Fed mempercepat proses kenaikan suku bunga acuan.

 

Chatib yang juga pernah menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal ini  menjelaskan kenaikan FFR harus direspons dengan kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI). BI 7 Days Repo Rate akan harus dinaikkan dan diprediksi kembali ke 7% dan suku bunga kredit akan berada di level 12-13%."istilahnya Liverpool we never walk around, kalo hike we never alone. Itu dunia yang normal, yang terjadi itu kembali ke dunia normal dan cycle ini akan berakhir 2019," terang Chatib.

 

Adapun kebijakan BI  menaikkan suku bunga acuan 7 day reverse repo rate yang saat ini sudah mencapai 150 bps akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Diperkirakan suku bunga kredit akan berada di level 12-13%.

 

Namun Chatib memperkirakan pelemahan ini akan dirasakan tahun depan. "Efek dari interest rate baru terjadi 2019-2020. Economy slow down not this year, but next year," ujar Chatib.

 

Menurut Chatib, untuk menahan perlambatan ekonomi opsi yang dapat dijalankan pemerintah adalah menjalankan kebijakan yang dilakukan pemerintah sebelumnya.

 

"Policy options seperti dejavu. Saya tak tahu apakah anda ingat, kalau tak ingat berarti saya Menkeu yang baik. Yang jelas [kebijakan dijalankan] 6 bulan setelah tapper tantrum. Pemerintah dengan BI mau stabilitas, sektor pariwisata berkembang," ujar Chatib.

 

Pada 2014, tutur Chatib pemerintah dengan sengaja melemahkan nilai tukar rupiah hingga 20% karena nilai rupiah sudah overvalue. Makanya pada tahun itu eksportir mengabaikan nilai tukar rupiah di pasar non delivery forward (NDF) Singapura dan kembali menggunakan patokan Jakarta Interbank Spot Dolar Rupiah (JISDOR).

Langkah lainnya, pemerintah membiarkan yield surat utang mengambang untuk menarik investor membeli surat utang pemerintah."Asuransi, dapen harus ditarik untuk membeli obligasi pemerintah. Porsi non-residence makin kecil. Ini bukan karena asing diusir," ujar Chatib.

 

Ekspor barang yang menyerap banyak tenaga kerja di dorong oleh karena itu daya beli naik.Pemerintah juga memutuskan menaikkan harga BBM. Kenaikannya hingga 40%. "Ada demo besar-besaran [kenaikan BBM]. Waktu itu 3 bulan gak nonton lokal tv dan news. Saya tonton travel and living dan asian food," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: