Fuad Bawazier ramal rupiah bakal tembus Rp16.000/US$

Senin, 08 Oktober 2018 | 23:13 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat menembus level terlemah saat krisis moneter 1998,  yaitu Rp 15.250/US$. Namun, intervensi Bank Indonesia (BI) ke pasar spot membuat rupiah melemah tipis menjadi Rp 15.185 dibandingkan sebelumnya 15.183/US$

Pada Senin Senin (8/10/2018) pukul 14:29 WIB, US$1 sempat melemah hingga pada Rp 15.253 di pasar spot.Jika menilik dari awal tahun, pelemahan rupiah memang tajam. Dari posisi Rp 13.565/US$ di awal Januari 2018 dan saat ini telah menembus Rp 15.253/US$. Artinya rupiah telah terdepresiasi hingga Rp 1.688/US$ atau sekitar 12,56%.

Ekonom yang merupakan Mantan Menteri Keuangan dan Dirjen Pajak, Fuad Bawazier bahkan memprediksi rupiah bisa menembus level psikologis baru di Rp 16.000/US$. Berdasarkan catatannya, ada enam alasan yang mendasari prediksi tersebut.

Pertama, Utang Valas Jangka Pendek. Menurut catatan Fuad, utang valas mencapai US$ 50 miliar. Kebutuhan terhadap valas yang tinggi serta pelemahan yang terjadi, mendorong perusahaan berebut valas. Akibatnya, ketersediaan valas di pasar semakin terbatas dan mendorong pelemahan rupiah semakin dalam.

Kedua, Aliran dana portofolio semakin terbatas ke negara emerging market. Dalam dua tahun ke belakang, investasi portofolio ke negara-negara emerging telah menurun hingga US$ 70 miliar. Di tahun ini saja, aliran hot money yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai Rp 53,68 triliun.

Ketiga, Proyeksi aliran portofolio di pasar global. Aliran portofolio diperkirakan akan selektif memilih instrumen investasi. Akibatnya, pemerintah dan swasta akan kesulitan menerbitkan obligasi atau surat utang. Ketertarikan yang menurun, jadi alarm pemerintah sebab pelemahan rupiah bisa semakin besar karena aliran modal asing semakin terbatas.

Keempat, Mencuatnya era perang suku bunga. Dewasa ini, era suku bunga acuan tinggi mulai berlangsung. Di Asia saja, sudah ada tiga negara yang menaikkan suku bunga acuan lebih dari 100 bps yaitu Pakistan, Indonesia dan Filipina. Belum lagi AS yang juga telah menaikkan hingga 75 bps. Perang ini menjadikan investor berpikir ulang untuk memilih negara tujuan termasuk Indonesia.

Kelima, Tren Penurunan Kepemilikan Asing di Surat Berharga Negara (SBN). Sejak pelemahan rupiah, tren kepemilikan asing terus berkurang. Di awal 2018, porsi kepemilikan asing mencapai 39,92%. Sementara pada akhir September, porsi kepemilikan tinggal 36,89%. Meskipun secara nominal naik Rp 15 triliun, namun hal ini tidak berarti apa-apa dibandingkan utang pemerintah yang naik Rp 1 triliun per hari.

Keenam, Kenaikan Harga Minyak Global. Harga minyak jenis Brent yang menjadi acuan, telah mencapai US$80/barel. Sementara proyeksi di RAPBN 2019 sebesar US$68,7/barel. Di sisi lain, nilai tukar rupiah ditaksir Rp 14.400/US$ dan saat ini telah menyentuh Rp 15.253/US$. Asumsi-asumsi yang meleset, menjadi beban tersendiri bagi Indonesia. Akibatnya devisa yang keluar semakin besar dan rupiah tidak memiliki pijakan untuk menguat.

Di samping enam alasan tersebut, faktor melesetnya penerimaan pajak dari target yang ditetapkan ikut menjadi faktor lain. Hingga September 2018, penerimaan pajak telah mencapai Rp 900,82 triliun atau 63,26% dari target sebesar Rp 1.424 triliun.

Realisasi yang masih jauh dari target bisa menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi investor pemegang SBN. Sebab hal ini berkaitan dengan kemampuan pemerintah dalam melunasi utang dan bunga-bunganya. Jika pemerintah sampai mengalami gagal bayar (default), tentu jadi sentimen negatif bagi Indonesia di mata global. Akibatnya, aliran modal asing semakin sedikit yang masuk dan mendorong pelemahan rupiah semakin dalam.kbc11

Bagikan artikel ini: