Indonesia berpeluang jadi raja ikan hias dunia

Selasa, 16 Oktober 2018 | 17:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Eksportir ikan hias diajak memanfaatkan Pusat Pengembangan dan Pemasaran Ikan Hias (Raiser Ikan Hias) di Cibinong, Bogor. Raiser mengajarkan para eksportir untuk menyeleksi ikan hias sebelum diekspor.

"Penting semua eksportir ikan hias bisa memanfaatkan Raiser agar ikan hias yang akan diekspor diseleksi dulu. Jadi harganya bisa berkali-kali lipat," ujar Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rifky Efendi Hardijanto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Saat ini jumlah (volume) ekspor ikan hias Indonesia masih yang tertinggi di dunia. Namun, jelasnya, secara nilai (value) ekspor ikan hias Indonesia masih di bawah Singapura.

"Ikan Indonesia yang diekspor belum semuanya masuk seleksi. Seperti ikan hias yang diekspor ke Singapura, ikan yang masuk dipilih dan seleksi baru diekspor lagi dengan harga yang jauh berkali-kali lipat," ungkap dia.

Oleh karenanya Rifky mengajak para pengusaha eksportir ikan hias maupun pembudidaya bisa memanfaatkan Raiser agar ekspor ikan hias juga mampu menggenjot harga.

"Indonesia bisa jadi number one atau raja ikan hias dunia, asalkan ikan hias yang akan diekspor bisa diseleksi dulu. Jadi harganya jauh bisa lebih besar," beber Rifky.

Jika sudah masuk seleksi, kualitas ikan hias akan sama bagus. Kemudian, imbuhnya, langkah yang harus ditempuh selanjutnya adalah dengan melakukan branding ikan hias Indonesia. Sehingga para pemburu ikan hias dunia mencarinya langsung ke Indonesia.

"Kalau sudah seperti itu, tidak mustahil kita jadi number one eksportir terbesar ikan hias dunia," tegasnya.

Adapun pasar ikan hias dunia pada 2017 mencapai USD350,12 juta atau naik 0,86 persen dibanding 2016. Pasar ikan hias global didominasi ikan hias air tawar dengan presentase sebanyak 71,85 persen.

Sementara, eksportir utama ikan hias air tawar global 2017 adalah Singapura (15,03 persen), Jepang (12,96 persen), Myanmar (12,73 persen). Sedangkan Indonesia menempati urutan ke-5 dengan pangsa 8,11 persen atau senilai USD20,41 juta.

Sedangkan untuk eksportir utama ikan hias air laut global 2017 adalah Spanyol (39,31 persen), Belanda (12,69 persen), dan Indonesia dengan nilai USD7,2 juta (7,75 persen).

Untuk importir ikan hias air tawar global adalah Amerika Serikat (20,01 persen), Inggris (7,15 persen), dan Jerman (6,01 persen). Importir ikan hias air laut global adalah Belanda (14,06 persen), Amerika Serikat (13 persen) dan Italia (enam persen).

Sementara itu, nilai ekspor ikan hias Indonesia pada 2017 sebesar USD27,7 juta atau naik 12,27 persen dibanding 2016. Didominasi oleh ekspor ikan hias air tawar seperti arwana, botia, dan ikan hias air tawar lainnya sebesar 74 persen.

Adapun negara tujuan utama ekspor ikan hias air tawar Indonesia adalah Tiongkok (31,85 persen), Jepang (12,2 persen), Singapura (8,1 persen), dan Amerika Serikat (6,7 persen). Sementara negara tujuan utama ikan hias air laut milik Indonesia adalah Amerika Serikat (22 persen) dan Tiongkok (15 persen).

Hingga saat ini, sumbangsih komoditas ekspor ikan hias Indonesia didominasi arwana, menyumbang 30 persen dari jumlah ekspor ikan hias nasional. "Saat ini secara nilai, arwana masih jadi primadona ekspor ikan hias," tutup Rifky. kbc10

Bagikan artikel ini: