ITTS lantik 120 mahasiswa baru dari 8 provinsi

Senin, 22 Oktober 2018 | 22:36 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Rektor Institut Teknologi Telkom Surabaya (ITTS),  Dwi S Purnomo melantik 120 mahasiswa baru Tahun Akademik 2018/2019 dalam rangkaian acara Sidang Terbuka Senat Institut Teknologi Telkom Surabaya. 

Jumlah Penerimaan Mahasiswa Baru ITTelkom Surabaya 2018-2019 berdasarkan Registrasi On-Site dari Batch 1 s/d 4 per tanggal 19 Oktober sebanyak 120 cmahasiswa. Dari 120 mahasiswa peminat tertinggi mengambil jurusan Sistem Informasi sebesar 26 orang (22%.) Teknik Telekomunikasi: 25 orang (21%), Teknik Industri: 20 orang (17%), Teknologi Informasi: 21 orang (17%), Teknik Elektro: 11 orang (9%), Teknik Komputer: 9 orang (7%) dan Rekayasa Perangkat Lunak: 8 orang (7%).

Mahasiswa baru ITTS tersebut masing-masing berasal dari dari Provinsi Jawa Timur: 106 orang, Prov. Sumatra Utara: 3 Orang, Prov. Nusa Tenggara Barat: 2 Orang, Prov. Nusa Tenggara Timur: 2 Orang, Prov. Jawa Tengah: 2 Orang, Prov. Sumatra Selatan: 2 Orang, Prov. Bali: 1 Orang dan Provinsi  Papua: 1 Orang 

Menurut Rektor ITTS Dwi S Kuncoro mengatakan, di saat teknologi sudah semakin maju, kita masih menghadapi beberapa masalah yang dari tahun ke tahun belum terselesaikan. "Ada dua masalah yang akan disampaikan yang menjadi salah satu dasar utama mengapa Intitut Teknologi Telkom Surabaya didirikan. Yang pertama, adalah kemaritiman. Orasi ilmiah Menteri kelautan Indonesia, Ibu Susi Pudjiastuti pada dies natalis di salah satu kampus negeri di Surabaya tahun 2015 silam, dua per tiga wilayah Indonesia adalah laut yang merupakan masa depan bangsa (future of the nation). Namun, laut yang mestinya berpotensi menjadi penghubung antar pulau di Indonesia ternyata masih menjadi pemisah," kata Dwi didampingi Heroe Wijanto selaku VP Higher Education Strategic Policy YPT dan Wakil Rektor ITTS, Tri Agus Djoko Kuncoro sesaat setelah pengukuhan Mahasiswa Baru di Aula Balairung, Telkom Ketintang, Senin (22/10/2018).

Biaya transportasi dan logistik di Indonesia masih sangat mahal, khususnya pengiriman antar pulau. Telah menjadi rahasia umum bahwa mendatangkan sapi dari Nusa Tenggara Timur ke Jawa lebih mahal dibandingkan mendatangkan sapi dari Australia. “Demikian halnya ongkos mengirim barang ke Papua dapat lebih mahal dibandingkan harga barang yang dikirim. Belum lagi harga semen dan BBM di Papua yang sangat mahal," lanjutnya.

Di sinilah diharapkan Insitut Teknologi Telkom Surabaya dapat berperan aktif dalam ikut mengembangkan dan mewarnai pembangunan transportasi dan logistik, khususnya di sektor maritim Indonesia melalui teknologi telekomunikasi dan informasi.

"Peran tersebut diharapkan datang dari institusi, dosen, mahasiswa, dan Insya Allah lulusannya kelak," tegas Dwi.

Yang kedua, kata Dwi, sebagian besar nelayan Indonesia tergolong dalam golongan masyarakat miskin. Penyebab utamanya adalah nelayan kita melaut dengan masih menggunakan teknologi tradisional. 

“Di satu sisi, kapasitas kapal yang terbatas menyebabkan nelayan tidak mampu melaut di lautan-lautan yang dalam di mana sumber ikan sangat melimpah. Kita sering mendengar bahwa nelayan pulang melaut tanpa membawa hasil yang memadai sehingga nelayan dan keluarganya semakin terjerat dalam kemiskinan dan hutang. Di sisi lain, melaut dengan cara tradisional menyebabkan aktivitas melaut menjadi sangat berisiko. Tidak jarang nelayan tidak dapat kembali ke tengah-tengah keluarganya, karena hilang di tengah laut," katanya.

Berkaitan dengan kondisi ini, pentingnya pengembangan teknologi transportasi seperti pesawat terbang dan perkapalan di wilayah kepulauan seperti Indonesia pernah disinggung oleh Presiden ketiga Indonesia, Bapak Prof. B. J. Habibie.

“Di sinilah peran teknologi informasi dan telekomunikasi untuk mendukung teknologi transportasi di Indonesia. Teknologi informasi dan telekomunikasi telah menghasilkan informasi dan prediksi cuaca maupun prediksi lokasi-lokasi sumber ikan. Di sisi lain, pengembangan sistem telekomunikasi antar nelayan diharapkan dapat membuat antar nelayan dapat saling berkomunikasi dan berkoordinasi," tegas Dwi kembali.

Peran Institut Teknologi Telkom Surabaya sangat diharapkan untuk turut serta meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia melalui penerapan teknologi informasi dan telekomunikasi.

civitas akademika Institut Teknologi Telkom Surabaya memiliki pemahaman yang sama, bahwa keberadaaan dan keberlangsungan kita sangat bergantung pada kontribusi kita dalam hal: menghasilkan lulusan yang cerdas, tangguh, dan bertakwa; mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan berkontribusi secara aktif kepada masyarakat, khususnya di sektor transportasi, maritim, dan logistik. 

"Bagi para mahasiswa baru, belajarlah dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab agar Anda dapat berkontribusi aktif dalam turut memajukan masyarakat, bangsa, dan negara," tandas Dwi. kbc7

Bagikan artikel ini: