Bupati Banyuwangi bahas turisme milenial bareng mahasiswa pariwisata se-Indonesia

Rabu, 31 Oktober 2018 | 06:37 WIB ET

BANYUWANGI, kabarbisnis.com: Sebanyak 214 mahasiswa dan pelajar SMK se-Indonesia hadir di Banyuwangi dalam forum olimpiade pariwisata (Tourism Olympiad Festival Indonesia/TOFI), 29-31 Oktober 2018. Acara yang digelar Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) dengan dukungan Kementerian Pariwisata itu mengusung tema “Masa Depan Pariwisata bagi Generasi Milenial”.

Ratusan peserta tersebut merupakan mahasiswa dan pelajar jurusan pariwisata dari 70 Politeknik dan 150 SMK se-Indonesia, mulai Jakarta, Bandung, Samarinda, Palembang, Bali, Malang, Surabaya, hingga Semarang.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, generasi Z dan milenial adalah salah satu penggerak utama sektor pariwisata. Mereka tidak hanya menjadi wisatawan, tapi juga penggerak aktif promosi wisata.

“Sekitar 50 persen populasi Indonesia adalah milenial dan Generasi Z. Merekalah masa depan pariwisata Indonesia,” ujar Anas saat sesi dialog wisata dengan ratusan mahasiswa tersebut.

Generasi milenial yang lahir tahun 1980-an dan generasi Z yang lahir mulai 1995 memiliki karakteristik perilaku yang spesial dibanding wisatawan generasi yang lebih tua.

“Ada perilaku hidup yang berubah. Kalau dulu kita lebih suka beli barang saat punya uang, tapi kini anak-anak muda lebih suka pelesiran saat pegang duit. Mereka bahkan menabung bukan untuk beli jam tangan mewah, tapi untuk berwisata. Makanya anak-anak muda itu pasar yang sangat besar bagi pariwisata,” ujarnya.

Selain sebagai pasar wisatawan, kaum muda itu juga menjadi kanal promosi yang efektif. Unggahan mereka di media sosial mampu menjadi pemikat orang lain untuk datang. Sehingga, penting untuk mengonsep destinasi wisata agar “instagramable”.

“Karena itu saya berterima kasih kepada anak-anak muda yang telah berjasa mengembangkan pariwisata Banyuwangi lewat unggahan-unggahan di media sosialnya,” ujar Anas.

Dia menambahkan, yang juga perlu diperhatikan saat mencoba menggaet pasar wisatawan milenial adalah keamanan daerah. 

Dalam skala global, ada Safe Cities Index yang diriset secara global. 

“Mana negara yang tidak aman? Ada Kolombia, El Savador. Mana kota yang tidak nyaman? Ada Dhaka di Bangladesh dan Yangon di Myanmar. Tempat-tempat itu akhirnya jadi rekomendasi daftar destinasi yang dilarang orang tua untuk dikunjungi. Jadi anak-anak muda, Generasi Z, takut datang. Kalau takut datang, nggak ada uang berputar. Yang rugi kita. Maka mari jaga keamanan wisatawan,” pesan Anas.

Sementara itu, Direktur Politeknik Negeri Banyuwangi Son Kuswadi mengatakan, forum olimpiade pariwisata yang digelar di Banyuwangi itu diperuntukkan bagi anak-anak muda yang mendalami kepariwisataan.

“Kami adakan beragam lomba, mulai fotografi, video promotion, paper contest, lomba membuat paket tur wisata, hingga menjadi pemandu wisata di dalam bus (tour package and guiding),” jelasnya.

Bagikan artikel ini: