Stok beras berlimpah tapi harga tetap mahal, Mentan: Ada anomali

Jum'at, 09 November 2018 | 21:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Memasuki pekan kedua November 2018, harga beras beranjak mulai naik.Padahal, stok di Pasar Beras Induk Cipinang mengalami kenaikan dua kali lipat dibandingkan bulan lalu. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman pun beranggapan ada anomali.

Pusat Informasi Pangan Strategis (PIPS) menyebutkan rerata harga beras medium nasional kelas I sebesar Rp 11.700 per kilogram (kg). Adapun harga beras medium II sebesar Rp 11.600 per kg.

Saat ini, stok beras di Food Station Tjipinang mencapai 51.820  ton, naik delapan persen dibandingkan tahun lalu.Sementara jika dibandingkan periode sama tahun lalu ada kenaikan. Harga beras terus beranjak naik dari yang terendah Rp 9.689 per kg pada Juni hingga Rp 10.231 per kg November ini.

Padahal, apabila merujuk Harga Eceran Tertinggi (HET)  beras medium sebesar Rp 9.450 per kg. Ketentuan tersebut dituangkan dalam Permendag  57 tahun 2017. Artinya harga beras medium yang notabene paling banyak dikonsumi masyarakat stabil tinggi hampir sepanjang tahun.  

Mentan Amran Sulaiman beranggapan ada anomali di tengah harga beras yang terus beranjak naik.Pasalnya trend kenaikan harga tersebut bersifat asimetris dengan volume pasokan beras di PBIC . Sementara stok cadangan pangan pemerintah pun terbilang besar.

Karenanya Amran mengklaim harga beras tidak berhubungan dengan keseimbangan hukum pasar.”Tidak ada alasan harga naik, semua syarat supaya harga turun mestinya sudah terpenuhi karena stok banyak dan suplai banyak,”tegasnya dalam kunjungan ke PBIC Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Amran menduga anomali pergerakan harga beras dimainkan oknum spekulan yang mempermaikan spesifikasi beras yang semestinya medium namun dialihkan ke konsumen.

Dirut Perum BULOG Budi Waseso pun membenarkan pernyataan Mentan. Menurutnya, stok beras yang dikelolaBULOG terbilang melimpah. Stok beras saat ini mencapai 2,7 juta ton.Sementara 550.000 ton berada di gudang yang disewa BULOG.

Meski begitu Buwas begitu biasa disapa operasi pasar mulai mengalami peningkatan. Apabila di bulan Oktober masih 1.000 ton, kini sudah mulai beranjak naik menjadi 2.000 ton per harinya. Namun penyaluran beras OP tersebut masih dibawah target sebesar 15.000 ton.

"Ada fenomena apa kok beras mahal, ada kenaikan. Padahal tidak ada alasan untuk naik. Karena memang seperti tadi, ini suplai banyak berlebihan tapi harganya merangkak naik. Nanti biar Satgas Pangan yang mengawasi," ujar Buwas.

Namun, Direktur Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi justru berpendapat pasokan beras mengalami peningkatan yang dipasok dari sejumlah sentra .Bahkan PBIC belum membeli beras OP sebagai stok dari Perum BULOG .

Arief mengakui kenaikan harga beras medium tidak terlepas dari pergeseran dari prilaku masyarakat  yang lebih menyukai beras premium. Apalagi beras yang masuk di PBIC merupakan panen di musim kering, artinya kualitas gabah kering panen petani juga lebih bagus. Alhasil penggilingan lebih memilih memproduksi beras premium ketimbang beras medium karena marginnya lebih besar.

Saat ini, stok PBIC didominasi beras medium atau setara 80% , sementara beras medium hanya 20% . Padahal beberapa bulan lalu,komposisi beras medium sebesar 40 % dan beras premium 60%. Kbc11

Bagikan artikel ini: