BI kembali kerek bunga acuan jadi 6%, ini alasannya

Kamis, 15 November 2018 | 22:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen pada bulan ini. Begitu pula tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility, masing-masing naik 25 bps menjadi 5,25 persen dan 6,75 persen. 

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 14-15 Oktober 2018 memutuskan untuk menaikkan 7DRRR 25 basis poin menjadi 6 persen," ujar Perry di Kompleks Gedung BI, Kamis (15/11/2018). 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi ekonomi di dalam maupun luar negeri. Sekaligus untuk menjaga daya tarik pasa keuangan serta stabilitas sistem keuangan dan ekonomi Indonesia. 

Dari luar negeri, ekonomi dunia diperkirakan tetap pada rentang perlambatan akibat ketegangan hubungan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China serta mulai menurunnya harga minyak mentah dunia.

Ekonomi AS diperkirakan tetap tumbuh kuat sampai akhir tahun ini dan memasuki masa konsolidasi pada tahun depan. Ekonomi Negeri Paman Sam diperkirakan juga mendapat topangan dari inflasi yang tetap tinggi, sehingga bank sentral AS, The Federal Reserve diperkirakan akan kembali melanjutkan kenaikan tingkat suku bunga acuannya.

Sementara ekonomi China diperkirakan tetap melambat sebagai dampak dari kebijakan domestik dan ketegangan hubungan perdagangan dengan AS. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dilihat masih cukup kuat dengan tumbuh di angka 5,17 persen secara tahunan pada kuartal III 2018. 

"Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh permintaan domestik dan investasi bangunan dan non bangunan. Meski, kontribusi ekspor net menurun karena lemahnya permintaan global dan peningkatan impor," terangnya. 

Kendati begitu, beberapa indikator ekonomi dalam negeri tetap stabil dan cukup kuat. Misalnya, cadangan devisa berada di angka US$115,2 miliar pada akhir bulan lalu.

Begitu pula dengan neraca transaksi modal dan keuangan yang positif US$4,2 miliar. Meski, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) meningkat menjadi minus US$8,8 miliar atau 3,37 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III 2018. 

Namun, menurut BI, pergerakan nilai tukar rupiah justru lebih positif. Depresiasi rupiah pada Oktober 2018 tercatat hanya sekitar 1,98 persen dan 3,84 persen pada kuartal III 2018. Walhasil, depresiasi rupiah secara tahun berjalan  pada Januari-November 2018 menjadi 8,25 persen. 

"Penguatan rupiah pada bulan November karena pengaruh masuknya modal asing dengan kondisi ekonomi Indonesia yang tetap kondusif," katanya. 

Kemudian, tingkat inflasi sebesar 0,28 persen secara bulanan  pada Oktober 2018. Sementara secara tahun berjalan, inflasi sebesar 2,22 persen dan secara tahunan mencapai 3,16 persen.

Sedangkan dari sistem keuangan, BI melihat kondisi perbankan masih cukup baik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit yang terus meningkat menembus angka 12,7 persen pada September 2018. Lalu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 6,6 persen, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) 22,9 persen, dan Alat Likuid DPK (AL/DPK) 19,2 persen. 

Lalu, aliran transaksi obligasi, MTN, dan instrumen lainnya di pasar uang sekitar Rp168,1 triliun pada Januari-September 2018. Meski, nilai ini lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp205,9 triliun. 

Terakhir, transaksi uang beredar dan uang elektronik tumbuh 12,1 persen pada kuartal III 2018 atau meningkat dari kuartal II I 2017 sebesar 9,6 persen. Khususnya uang elektronik tumbuh hingga 304 persen. "Hal ini karena masyarakat mulai sadar bertransaksi di teknologi finansial dan e-commerce," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: