Barata Indonesia dukung infrastruktur industri gula

Rabu, 05 Desember 2018 | 17:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Barata Indonesia (Persero) mendukung infrastruktur industri komponen gula nasional dengan menyediakan kebutuhan mesin pengolahan gula.

Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero) Tony Budi Santosa melakukan aksi jemput bola dengan menyediakan stok komponen pabrik gula lebih awal tanpa menunggu order terlebih dahulu. Sebanyak 50 unit mesin gilingan telah diproduksi oleh Barata Indonesia lebih awal dan mengantisipasi untuk memenuhi order ke depan.

Ia mengatakan berbagai macam alternatif serta opsi tersebut dilakukan untuk memangkas waktu, sehingga produk yang rutin masuk order ke perusahaan bisa sampai di tangan pelanggan dengan cepat.  "Hal ini telah sejalan dengan keinginan dari perusahaan untuk memberikan kontribusi terhadap terciptanya percepatan kemandirian industri gula dalam negeri, lewat proyek -proyek strategis pemerintah," ujar Tony dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (5/12/2018).

Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, kata Tony Barata Indonesia berhasil mendapatkan beberapa proyek pabrik gula, baik itu revitalisasi maupun membangun pabrik gula baru. Itu di antaranya proyek revitalisasi pabrik gula Rendeng, Asembagus Bombana serta Bioethanol Gempolkrep yang diperoleh November lalu.

"Apalagi kami memiliki sejarah yang sangat panjang dalam industri gula, baik itu memproduksi komponen pabrik gula, maupun membangun pabrik gula baru," imbuhnya.

Tony mengatakan proyek yang didapatkan tersebut semakin memantapkan posisi Barata Indonesia sebagai perusahaan yang memiliki kompetensi mumpuni di bidang Industri Gula. Barata Indonesia mampu membuat berbagai macam komponen pabrik gula serta  pabrik gula lengkap dengan berbagai kapasitas sampai dengan 15.000 TCD.

Selain Pabrik Gula, Barata Indonesia juga memiliki kapabilitas untuk membangun pabrik sagu, pabrik bioethanol serta pabrik kelapa sawit. Pada 2019, target order book perusahaan berada di angka Rp 4,5 triliun.

Angka tersebut naik jika dibandingkan dengan raihan kontrak perusahaan pada 2018 yang ada di angka Rp 3,7 triliun.

"Dari target perolehan kontrak pada 2019 yakni Rp4,5 triliun tersebut, sebanyak Rp1,1 triliun diharapkan datang dari Divisi Industri Agro," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: