loading...
Kategori
This Week Issue
Mode Baca

Perputaran uang narkoba capai Rp23 triliun

Online: Sabtu, 13 Februari 2010 | 13:58 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Universitas Indonesia (UI) tahun 2008 menyebutkan nilai nominal perputaran uang narkoba di Indonesia mencapai Rp23 triliun per tahun. Angka sebesar itu yang terditeksi dipermukaan, yang terungkap dan terdata secara resmi. Disinyalir dark number masih lebih besar lagi, bisa-bisa melebihi nilai perputaran itu.

Dark number merupakan korban narkoba yang sengaja disembunyikan, dilindungi oleh keluarganya lantaran malu ada anggota keluarganya terjerat mengkonsumsi barang haram, takut karena harus berhadapan dengan proses penegakkan hukum, juga ada yang menganggap sebagai aib keluarga.

"Dark number itu terjadi karena pengetahuan sebagain besar masyarakat Indonesia akan bahaya narkotika masih tergolong rendah. Saya yakin perputaran uang di narkoba bisa lebih besar di atas Rp23 triliun," ungkap Bambang Abimanyu, Sekretais BNN kepada kabarbisnis.com di Jakarta, akhir pekan ini.

Perputaran uang sebesar Rp 23 triliun itu, dengan rincian Rp 11 triliun merupakan kerugian negara yang harus ditanggung untuk menangani korban narkoba yang masuk pusat rehabilitasi dan pengobatan yang umumnya butuh waktu selama 11 bulan. Mengingat, dana rehabilitasi yang ditanggung pemerintah sebesar Rp3,8 juta perorang perbulan.

Sisanya sekitar Rp 12 triliun, merupakan hasil transaksi narkoba yang dilakukan oleh para pecandu, pengedar dan bandar narkoba. Mengingat, hampir tiap hari transaksi 'barang setan' itu terjadi di negeri ini yang sudah menjadi negara tujuan bagi pengedar sindikat internasional, negara konsumen narkoba sekaligus produsen.

Saat ini prevalensi jumlah pecandu narkoba di Indonesia mencapai 1,99% dari total populasi penduduk atau sebanyak 3,6 juta korban narkoba.

Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2004 mencapai 1.75% atau 3,2 juta orang, dimana 1 orang harus mengeluarkan uang dari saku kantongnya mulai Rp 25.000 sampai Rp 2 juta untuk membeli ganja, ekstasi, sabu-sabu atau heroin.

Bayangkan, saat ini harga ganja di Jakarta kelas murahan Rp 25.000 - Rp 50.000 per am (amplop) namun ada ganja yang bisa bikin tertawa, gembira, happy harganya Rp100.000 per am yang umumnya marak dijual di Bali dan kini mulai merambah Jakarta serta kota besar lainnya.

Ekstasi, kini muncul barang baru dengan lebel Super Blue yang harganya dibandrol Rp 400.000 - Rp 500.000 perbutir untuk harga Jakarta dan Singapura. Konon ekstasi warna biru ini dikonsumsi lantaran dapat menumbuhkan PD (percaya diri), biasanya dikonsumsi eksekutif muda, olahragawan, artis. Lantaran harganya mahal, konsumennya kelas tinggi.

Jenis ekstasi lainnya, Happy live yang harganya Rp150.000 - Rp200.000 perbutir yang diyakini bisa menimbulkan rasa gembira, bahagia dan banyak diminati konsumen usia muda hingga tua yang sering mangkal di diskotik, karaoke serta tempat hiburan.

Ada juga ekstasi jenis live green Rp 100.000- Rp125.000 perbutir. Juga ada pink lady harganya Rp 100.000 perbutir, yang diyakini untuk libido atau umumnya dipakai untuk percintaan. Bahkan ada ekstasi harganya di bawah Rp 100.000 perbutir yang umumnya warna kuning, merah, biru yang kini jarang dikonsumsi karena kualitasnya kurang dan barang palsu.

Sedangkan harga sabu-sabu di Jakarta paling mahal Rp 800.000 - Rp1,2 juta per gram dan harga standar atauy menengah Rp 300.000 - Rp 700.000 per gram dan harga paling murah Rp 250.000- Rp 700.000 biasanya sabu yang tak berkualitas atau oplosan.

Harga heroin di Jakarta dan Bali antara Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta per gram, yang disinyalir konsumennya orang-orang tertentu, kelas tinggi juga wisatawan asing.

Tingginya harga narkoba itu membuat perputaran uang juga makin besar. Karenanya jangan heran jika kini semakin marak orang berpacu untuk membuat pabrik ekstasi dan sabu-sabu sendiri di perumahan, atau home industri. Maraknya home industri barang menyesatkan ini, memang tidak melihat kualitas, tapi orientasi pembuatnya demi mengerukkan keuntungan tanpa memikirkan bahaya dan dampaknya.

Di sisi lain, semakin banyak orang, terutama ibu-ibu rumah tangga, pengangguran, bahkan anak jalanan yang ekonominya lemah, yang berpikiran pendek mau jadi kurir narkoba. Sebab dengan mengantarkan barang ke seseorang imbalannya dinilai cukup besar. Mereka senang dapat uang Rp 500.000 sampai Rp 5 juta, namun tak tahu jika ketangkap hukumannya adalah vonis mati sesuai undang-undang baru No. 35 tahun 2009.

Bahkan kini ada modus baru, penjual narkoba mendapatkan fee satu butir jika berhasil menjual dua butir ekstasi dari BD (bandar). Maraknya fee ini, membuat ibu-ibu rumah tangga, pekerja wanita di pusat hiburan, orang-orang perkantoran bahkan mahasiswa di kampus menjadi sales dadakan. Dampaknya omset penjualan narkoba grafiknya juga melonjak.

"Penyalahgunaan narkotika merupakan permasalahan serius yang membutuhkan perhatian kita semua. Karena bila kondisi itu tidak ditangani segera, bisa jadi nasib generasi muda Indonesia di masa depan akan menjadi generasi yang terbelenggu oleh barang yang menyesatkan," ucap Bambang.

Bayangkan, saat ini setiap hari 40 orang di Indonesia meninggal dunia akibat mengkonsumsi narkoba. Ini berarti setiap tahun rata-rata 15.000 orang pertahun tewas. Padahal, korban yang tewas itu merupakan usia produktif, usia generasi muda penerus bangsa, usai remaja yang masih membutuhkan sebuah harapan hidup.

Kini sebuah harapan baru muncul dengan lahirnya Undang-undang No.35 tahun 2009, yang diharapkan dapat membawa paradigma baru dalam menuntaskan permasalahan narkotika di Indonesia. Mengingat dasar hukum yang sebelumnya menjadi acuan dirasakan masih memiliki celah-celah hukum yang seringkali dijadikan alasan bagi para pelanggar untuk berkelit.

Selain itu, dalam undang-undang yang baru ini lebih bersifat humanis kepada pecandu yaitu kewajiban bagi mereka yang terbukti sebagai pecandu narkotika untuk menjalani proses terapi dan rehabilitasi serta bersifat sangat tegas, keras bagi pengedar, produsen dan pengimpor narkotika.

Sikap tegas dan keras dalam aturan hukum seperti dalam pasal 101 berbunyi perampasan aset dan harta bagi pelaku kejahatan narkotika, juga dalam ayat 3 disebutkkan semua harta kekayaan yang merupakan hasil tindak pidana narkotika, dirampas oleh negara dan akan digunakan untuk program rehabilitasi dan medis bagi korban narkotika, juga untuk kampanye anti narkotika.

"Karena itu dalam undang-undang yang baru ini bagi pengedar, bandar, produsen juga importir narkotika pasti akan jatuh miskin karena semua aset dan kekayaannya akan diambil negara," ungkap Kombes Pol. Sumirat Dwiyanto, Kabag Humas BNN.

Undang-undang yang baru ini, memang mengacu dari undang-undang internasional. Dan pengalaman pernah terjadi saat Badan Narkotika Amerika Serikat menangkap bandar narkotika internasional. Dalam pengakuannya, terungkap bahwa hasil penjualan narkotika itu salah satunya dibelikan sebuah hotel internasional di Bali.

"Mereka meminta bantuan polisi Indonesia untuk menyita hotel di Bali, dan memang benar bahwa hotel itu milik jaringan narkotika internasional. Hotel itu langsung dijual dan uangnya dipakai untuk rehabilitasi serta dana operasional Badan Narkotika Amerika Serikat. Karenanya, kita akan menerapkan undang-undang ini," ungkap Kabag Humas BNN.

Jadi, sambung dia, kalau selama ini bandar, pengedar bahkan produsen narkotika saat ditangkap mereka happy-happy saja di dalam penjara dan tak memikirkan keluarga yang ditinggal karena sudah ada warisan hasil penjualan barang haram itu. Namun setelah undang-undang diterapkan jangan harap bisa mimpi seperti itu, karena negara akan menyita dan langsung menjual harta kekayaan mereka.

Namun, namanya maling, penjahat apalagi penjahat narkotika kini semakin pinter, semakin lihay, semakin licin dalam menyimpan hartanya bahkan semakin pandai dalam transaksi narkotika. Ini butuh perjuangan keras bagi penegak hukum juga masyarakat harus membantu dalam pemberantasan narkotika. Karena jika saat ini gagal memberantas narkotika, gagal juga pencapaian target tahun 2015 bebas narkoba di Indonesia. (endy poerwanto)

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
12/22/2014
12.441
IHSG
12/22/2014
5.125,77
-18,85 (-0,37%)