Satu keluarga di Surabaya meninggal diduga terpapar Covid-19, ini penjelasan si bungsu

Jum'at, 5 Juni 2020 | 11:15 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Wabah virus corona (Covid-19) kian merajalela. Kali ini, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak di Surabaya meninggal diduga karena terpapar Covid-19. 

Diceritakan DW, anak bungsu keluarga tersebut mengatakan bahwa awalnya kakaknya yang tengah mengandung diantar sang suami untuk kontrol kandungan di salah satu rumah sakit di kawasan Ampel Surabaya. Kemudian kakaknya sempat menginap di rumah milik keluarganya yang ada di Ampel.

"Ini dugaan kuat ya, karena saya diceritakan juga oleh mama dan kakak sendiri waktu itu. Saya lupa tepatnya tanggal berapa, kakak saat itu kontrol kandungan di RS Muhammadiyah di Ampel. Saat itu kakak gak pulang, jadi sempat nginep 1 malam di rumah Ampel," kata DW seperti dikutip, Kamis (4/6/2020).

Kemudian, lanjut DW, setelah kakaknya pulang ke rumah di Gubeng Kertajaya, suami kakaknya tersebut langsung sakit selama 3 hari. Sakit tersebut yakni demam dan batuk.

"Dari situ terus ketularan semua satu per-satu anggota keluarga. Tapi karena mungkin imun tubuh suami kakak kuat, jadi dia sembuh. Sedangkan kakak yang sedang hamil 8 bulan gak kuat mungkin imunnya lemah, akhirnya positif Covid-19 dan meninggal. Sementara orang tua saya sendiri sudah tua juga akhirnya terpapar dari hasil rapid test reaktif," jelasnya.

DW menyebut kedua orang tuanya disiplin selama pandemi Covid-19. Bahkan keponakan DW yang tinggal serumah dengan kedua orang tuanya tidak diperbolehkan keluar rumah.

"Jadi di sana (rumah Gubeng) ada kakakku pertama (yang meninggal) dan kakak kedua. Kakak-kakakku udah punya anak semua masing-masing 1 dan di sana sama orang tua saya. Mereka disiplin, apalagi semenjak ada pandemi ini gak pernah keluar rumah," terang DW yang mengaku tidak tinggal di rumah Gubeng.

Untuk kondisi keluarganya yang meninggal dunia, DW menjelaskan hanya ayahnya yang memiliki riwayat penyakit penyerta yakni jantung dan diabetes. Sementara ibu dan kakak DW tidak memiliki riwayat penyakit.

Sementara, 3 anggota keluarga DW yang meninggal telah dimakamkan dengan protokol Covid-19. DW menegaskan bahwa yang meninggal karena Covid-19 adalah kakaknya. Sementara kedua orang tuanya meninggal dengan status PDP. Mereka reaktif namun belum melakukan tes swab.

Untuk itu, dia membantah bila disebut bahwa ayah, ibu, dan kakaknya meninggal karena positif Covid-19.

"Kalau kabar positif Covid-19 keluarga saya, nggak benar. Hanya Kakak yang meninggal dinyatakan positif Covid-19 karena sudah di-swab. Kalau Mama dan Papa berstatus PDP," kata DW.

Dia menjelaskan ayah dan ibunya baru menjalani rapid test dan belum swab test. Dari hasil rapid test, kedua orang tuanya reaktif. Sedangkan kakak pertamanya yang meninggal telah di-swab dan dinyatakan positif Covid-19.

"Mama dan Papa baru rapid test dan reaktif, tapi belum swab. Kalau Kakak memang sudah di-swab dan dinyatakan positif. Kakak saya meninggal bersama janinnya, ya yang dimaksud keponakan itu bayi di kandungan Kakak. Karena kakak posisi hamil 8 bulan," terangnya.

DW mengaku keberatan dengan kabar yang mengatakan kedua orang tuanya positif Covid-19. Dalam surat kematian yang diberikan pihak Rumah Sakit Islam Jemursari, kedua orang tuanya berstatus PDP.

"Karena dari mulai awal sampai pemakaman saya yang urus semua. Jadi saya tahu pasti, Mama dan Papa belum di-swab, juga hasil rapid test memang reaktif. Di surat kematian pun yang dikeluarkan RSI berstatus PDP," pungkasnya.

Dalam kesempatan itu DW berpesan kepada masyarakat khususnya warga Surabaya bahwa virus Corona itu nyata dan berbahaya. Dia menilai banyak orang yang masih menganggap remeh virus tersebut.

"Virus ini jahat, tapi virus ini benar-benar ada dan gak bisa dianggap remeh. Jadi harus sadar akan kesehatan, kebersihan dan kalau memang tidak perlu kemana-mana lebih baik di rumah saja," pungkasnya.

Satu gang di-rapid test

Sementara itu usai meninggalnya tiga orang dalam satu keluarga meninggal diduga Covid-19 tersebut langsung ditanggapi Pemkot Surabaya dengan melakukan rapid test serentak sepanjang gang Gubeng Kertajaya IX. Setidaknya 69 warga dilakukan rapid test.

"Hasil rapid testnya 5 warga reaktif. Saat ini ada yang sudah dibawa ke hotel, ada yang diisolasi di rumah," ujar Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M Fikser di Balai Kota, Kamis (4/6/2020).

Dia mengatakan, nantinya kawasan tersebut menjadi skala prioritas untuk melakukan swab untuk mengetahui hasil yang pasti. Sehingga, Pemkot Surabaya dapat melakukan langkah selanjutnya.

Fikser berharap hasil swab dari lima orang yang reaktif ini negatif. Tetapi, jika pun nantinya terdapat hasil positif bisa dirawat ke rumah sakit dan jika OTG diisolasi di Asrama Haji.

"Ini langkah pemerintah kota bagaimana melakukan percepatan untuk memutus mata rantai di lingkungan kampung yang ada di sana," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: