Enam paradigma baru pariwisata era new normal, beda total dengan sebelum Covid-19

Rabu, 10 Juni 2020 | 16:20 WIB ET
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas membeberkan enam paradigma baru pariwisata di era new normal, saat melakukan musyawarah daring bersama para pelaku wisata di Banyuwangi.

”Ada perbedaan strategis era sebelum Covid-19 dan new normal. Ini harus kita pahami agar bisa menang persaingan pariwisata dengan daerah alternatif destinasi lainnya,” ujarnya.

Pertama, soal sumberdaya manusia (SDM) pariwisata. Era sebelum Covid-19, nilai yang diunggulkan sebagai ”jualan” adalah keramahan dan kompetensi. Kompetensi meliputi penguasaan daerah destinasi hingga kemampuan berbahasa asing. Namun, di era new normal, itu saja tidak cukup, harus ditambah kesehatan.

”Misalnya, jualannya ke depan, ini lho di destinasi kami, hotel kami, para driver kami, sebelum memulai new normal sudah rapid test Covid-19. Ini lho kami beri vitamin ke petugas. Secara berkala kami juga kerja sama dengan Puskesmas cek kesehatan staf. Itu nanti jadi jualan pikat wisatawan,” ujarnya.

Kedua, pengaturan jam pelayanan. Era sebelum Covid-19, pelayanan 7 hari sepekan, dan sebagian bisnis akomodasi pariwisata malah 24 jam sehari. Di era new normal, harus ada waktu libur.

”Perlu libur memberi waktu ’bernafas’ untuk kesehatan dan kebersihan. Kafe-resto wajib tutup sehari dalam seminggu untuk pastikan sampah bersih, untuk atur limbah makanan, dan sebagainya. Juga destinasi, dalam sepekan libur dua hari misalnya, evaluasi kesehatan dan kebersihannya,” paparnya.

Ketiga, sertifikasi kebersihan dan kesehatan. Dulu, aspek ini belum prioritas. Tapi kini wajib, karena itu menjadi ”jualan” ke wisatawan. 

”Sehingga Banyuwangi berinisiatif menerapkan stiker tanda new normal bisnis kuliner, dan berlanjut ke hotel, rent car, destinasi, dan sebagainya. Ini semacam legitimasi karena berdasarkan disupervisi Dinas Kesehatan, maka sebuah tempat layak disematkan lolos standar new normal,” jelasnya.

Keempat, preferensi wisatawan, yaitu ”dorongan” untuk memilih destinasi tertentu, dan tidak memilih destinasi lainnya. Era sebelum Covid-19, preferensi dipengaruhi viralitas di media sosial yang didorong atraksi ramai dan gegap gempita. 

”Namun, di era new normal, virality akan didorong aktivitas wisata yang membantu menyehatkan wisatawan, seperti outdoor activity, dan juga private tour. Itu karena orang memilih destinasi dan layanan yang aman dari potensi penyebaran virus,” ujarnya.

”Dalam hal ini, Banyuwangi punya kelebihan, karena sejak awal mendorong pariwisata berbasis desa dengan keindahan alam dan budaya," imbuh Anas.

Kelima, aspek akomodasi. Era sebelum Covid-19, wisatawan memilih akomodasi berharga kompetitif. Namun, di era new normal, wisatawan lebih memilih akomodasi yang menawarkan kebersihan, kesehatan, dan keamanan.

Keenam, aspek atraksi wisata. Jika sebelumnya berlomba menyajikan wisata gebyar dan kolosal, ke depan harus memperhatikan jarak penonton.  "Artinya, kapasitas destinasi dan atraksi harus diatur," jelasnya. (*)

Bagikan artikel ini: