Neraca beras ditaksir surplus 6,1 juta ton di tengah pandemi Covid-19

Rabu, 10 Juni 2020 | 16:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memperkirakan neraca beras hingga Desember 2020 masih surplus, dengan stok tersisa mencapai 6,1 juta ton sehingga bisa memenuhi kebutuhan pangan sampai 2021 mendatang.

Dalam perhitungannya, luas tanam musim pertama pada Oktober 2019-Maret 2020 mencapai 6,7 juta hektare sehingga terdapat produksi beras mencapai 16,65 juta ton. Sementara itu, stok beras hingga akhir Juni diproyeksikan mencapai 7,49 juta ton.

“Kita masih punya stok dari sebelumnya hampir 5 juta ton sehingga saat ini masih tersisa 7,49 juta ton. Stok ini akan ter-carry over pada Desember 2020,” kata Syahrul dalam webinar bertajuk Strategi Ketahanan Pangan di Era New Normal Pandemi Covid-19, kemarin.

Syahrul menjelaskan pada musim tanam kedua, Kementan menargetkan luas tanam mencapai 5,6 juta hektare dengan produksi diperkirakan minimal 12,5 juta ton setara beras. Untuk mengantisipasi kekeringan, Mentan menegaskan pihaknya mengambil langkah percepatan tanam dengan mendorong para petani untuk memanfaatkan curah hujan yang masih tersisa pada Juni ini.

Sejumlah daerah yang menjadi andalan produksi padi pada musim tanam kedua ini ialah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatra Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Utara. Dengan stok akhir Juni mencapai 7,49 juta ton dan perkiraan produksi pada musim tanam kedua mencapai 12,5 juta ton, Kementan memproyeksikan stok akhir beras pada Desember mencapai 6,1 juta ton.

Kesempatan terpisah Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Helmy Elisabeth mengungkapkan luas lahan baku sawah yang dimiliki sebesar 83.195,17 hektar (ha). Dengan realisasi tanam periode Oktober-Maret 2019/2020 seluas 85.834 ja dari target periode Oktober 219-September 2020 seluas 149.469 ha.

Kekurangan tanam pada peride bulan April sampai September 2020 seluas 43.818 ha. Khususnya di Kecamatan Kanor merupakan daerah pompanisasi yang terdiri dari hamparan persawahan dengan luas sekitar 4.600 hektar. Ditargetkan tanam bulan Juni sekitar 1.700 hektar.

”Dengan dukungan sarana prasarana, Bojonegoro siap mendukung percepatan tanam padi termasuk Kecamatan lain di Bojonegoro dan mampu memenuhi target luas periode Oktober 2019/Sept 2020 seluas 148.504 hektar," ujar Helmy

Helmy berharap Bojonegoro sebagai salah satu pendukung lumbung pangan bisa mempertahankan ketersediaan pangan Jatim dan Nasional. Petani dapat panen dengan harga baik, dan bisa mempertahankan Bojonegoro sebagai daerah lumbung pangan nasional.

"Bojonegoro merupakan salah satu sentra produksi padi di Provinsi Jatim, selama ini mampu berkontribusi menopang kebutuhan padi Jatim dan nasional sekitar 17 persen," sebutnya.

Lahan persawahan Bojonegoro mendapat pengairan dari aliran Bengawan Solo, sehingga pada musim kemarau stok pangan tetap tersedia. "Harapanya, mudah-mudahan Bojonegoro menjadi pemasok lumbung pangan nasional dan dapat menjaga ketersediaan pangan di Jatim tetap aman," tegas Helmy.

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementan Takdir Mulyadi mengatakan seluruh insan pertanian tidak pernah terhenti di tengah wabah Covid 19. "Tetap berada di lapangan untuk segera melakukan Gerakan Percepatan Tanam Padi dan meyakinkan pertanaman tetap ada," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: