Agroindustri kelapa sawit miliki imun dari dampak Covid-19

Rabu, 10 Juni 2020 | 21:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pandemi wabah Covid-19 berdampak negatif terhadap perekonomian global, tidak terkecuali Indonesia.Kinerja industri manufaktur dan jasa nasional pun terantuk seiring Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selam tiga bulan guna mencegah mata rantai penyebaran virus.

Namun, tidak demikian halnya industri sawit nasional yang dianggap memiliki imunitas terhadap dampak pandemi. Bahkan agroindustri  tanaman yang mampu berbuah sepanjang tahun ini berpeluang besar menjadi lokomotif pemulihan ekonomi nasional.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribisnis Strategis Policy (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan produksi industri sawit nasional memiliki sumber daya dan infrastruktur pengolahan yang mandiri sehingga tidak bergantung dengan  bahan baku impor.

Tungkot membeberkan sejumlah alasan agroindustri sawit memiliki imunitas terhadap Covid-19. Pertama, lokasi perkebunan kelapa sawit yang jauh dari perkotaan dan pemukiman padat. Aktivitas perkebunan dan mata rantainya yang terkait pemenuhan kebutuhan pangan tidak terkena kebijakan lock down.

Industri sawit ini juga memiliki basis yang kuat di pasar domestik dan ekspor. ”Pada masa pandemi ini sepanjang triwulan pertama , ekspor ke China mengalami perlambatan. Tapi di bulan April mulai pulih. Begitu juga India,Pakistan, Bangladesh. Bahkan Uni Eropa yang selama ini kerap menghambat juga meningkat,” terang Tungkot dalam webinar Tantangan dan Peluang Agribisnis Sawit di Era New Normal di Jakarta, Rabu (10/6/2020).

Tungkot juga berpendapat terjadi simbolis mutualisme ketika  perkebunan sawit berdiri maka dilingkungan disekitarnya terbangun pemukiman dengan profil  petani tanaman pangan. “Perkebunan sawit memang tidak menghasilkan pangan. tapi kehadiran mereka mendorong tumbuhnya sentra produksi pangan di sekitarnya, Misalnya produksi pangan, hortikultura, ternak dan ikan,” kata dia.

Akibat imunitas itu, menurut Tungkot tidak ada kegiatan industri sawit yang terhenti, bahkan tidak ada PHK. Hal ini berbeda dengan yang lain, industri yang bahan bakunya impor justru banyak yang terkena PHK.

Mengutip data GAPKI ,ekspor minyak sawit dan produk turunannya memang mengalami penurunan dari sisi volume sebesar 12,6%. Sementara dari sisi nilai, sampai April sudah mencapai US$7 miliar. Sedangkan tahun 2019 hanya sekitar US$ 6,3 miliar. ”Volume ekspor turun karena dampak El Nino tahun lalu,” kata Tungkot.

Menurutnya dalam new normal atau tatanan kehidupan normal baru , prospek  agrobisnis sawit semakin besar. Tuntunan protokol kesehatan masyarakat guna mencegah penyebaran virus covid 19 maka kebutuhan produk biosurfaktan dan biodesinfektan makin dibutuhkan.

Asal tahu saja, biosurfaktan merupakan salah satu produk turunan minyak sawit. Produk ini merupakan bahan baku yang menghasilkan sabun mandi, sabun cuci, deterjen, shampo, hingga hand sanitazer.

 Sementara biodisenfektan dari minyak sawit diperuntukan untuk kepentingan sanitasi peralatan makanan , perabot , rumah hingga kepentingan dinas kebersihan.Sebagian negara UE sudah menggunakan karena ramah lingkungan dan pasokannya berkesinambungan.

”Tuntunan kebutuhan hidup bersih untuk menjaga imunitas tubuh dalam tatanan new normal membuat prospek minyak sawit semakin diperhitungkan,” terangnya.

Selain itu, minyak kelapa sawit menghasilkan vitamin A dan vitamin E terbesar diantara tanaman apa pun di dunia. Produksi minyak sawit Indonesia sekitar 50 juta ton per tahun, dapat dihasilkan sekitar 25.000 ton vitamin A dan 30.000 ton vitamin E.

Minyak sawit sebagai bahan pangan ternyata bukan bahan pangan berminyak biasa, di dalamnya ada asam lemak yang sangat penting yakni asam lemak palmitat untuk memelihara fungsi paru-paru. Minyak sawit adalah minyak nabati yang paling besar mengandung asam palmitat sehingga diperkirakan pada era new normal akan terjadi peningkatan konsumsi minyak sawit. kbc11

Bagikan artikel ini: