Kisah Nadjani mampu eksis saat pandemi Covid-19 berkat celemek dan masker

Kamis, 11 Juni 2020 | 10:13 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pandemi virus corona alias Covid-19 telah mengganggu bisnis dari baik skala besar, menengah bahkan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Sejumlah sektor industri pun terdampak pandemi ini, termasuk fesyen.

Salah satunya adalah brand Nadjani. Akibat dari pandemi ini transkasi penjualannya menurun hingga 30 persen. Meski demikian, menurut owner Nadjani, Nadya Amatullah Nizar, semua para pegawainya tidak ada yang diberhentikan alias dipecat. 

"Industri fashion ini berbeda dengan industri makanan dan minuman, kalau makanan dan minuman kan tentu banyak dicari orang-orang. Industri seperti saya ini, justru tidak dicari apalagi ada pandemi membuat orang-orang banyak yang memilih di rumah saja," ujarnya dalam media briefing UMKM Lokal di New Normal yang disiarkan secara virtual, Rabu (10/6/2020).

Nadya membeberkan, ada beberapa strategi yang dia lakukan agar bisnisnya masih tetap bisa hidup di tengah pandemi ini.

Pertama adalah harus bisa melihat peluang. Nadya menceritakan, awalnya, jauh-jauh hari sebelum Ramadan tiba, ia sudah membuat produk baju lebaran untuk dijual. Namun, dikarenakan ada pandemi yang mewajibkan masyarakat untuk tidak keluar dan bersilahturahmi Ramadhan secara virtual, membuat baju-baju lebarannya tidak dilirik oleh pasar. 

Akhirnya, Nadya pun mencoba untuk berpikir dan melihat peluang bahwa saat ini banyak masyarakat semenjak di rumah saja memilih untuk menyibukkan diri di dapur dengan memasak.

"Saya kira saat ini banyak yang sibuk memasak dan saya berpikir sepertinya celemek sangat dibutuhkan masyarakat. Sisa bahan untuk membuat baju lebaran tadi saya manfaatkan dengan membuat celemek dan ternyata sangat diterima dan dicari oleh banyak orang," kata Nadya.

Dia menyebut dari total jumlah celemek yang ia jual sebanyak 1.300 buah, semuanya lenyap terjual hanya dalam waktu 2 hari.

Kedua, lanjut dia, harus terus berinovasi. Nadya mengatakan semenjak pemerintah sudah mewajibkan masyarakat menggunakan masker, terbesitlah idenya untuk membuat dan menjual masker kain yang motifnya beragam. 

Masker tersebut dia jual secara online, tidak menunggu beberapa jam saja, maskernya habis diburu pembeli. "Masker saya pun juga banyak yang nyari, bayangkan saja, dari 2.000 produk masker yang saya buat, hanya dalam waktu 2 menit saja saya iklankan di Tokopedia, sudah langsung terjual habis," jelas Nadya.

Lalu tips yang ketiga, kata dia, harus gencar membuat promo. Seperti biasanya dengan membuat promo bisa menggaet keinginan masyarakat untuk berbelanja.

Nadya juga mendorong para pegiat usaha lokal lainnya khususnya yang berada di industri fahsion muslim untuk bisa berjuang, berinovasi dan melihat peluang agar bisa tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19.

"Jangan pantang menyerah, teruslah berinovasi, dan liihatlah peluang sekecil apapun itu. Kita harus terus berjuang di new normal ini," pungkas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: