Siap-siap! KAI bakal kerek harga tiket kereta

Jum'at, 12 Juni 2020 | 09:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT KAI (Persero) mempertimbangkan untuk menaikkan tarif tiket kereta jarak jauh sejalan dengan kebijakan atau ketentuan maksimal penumpang 70%.

Hal itu dikatakan Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam diskusi online Transformasi Kereta di Era New Normal, Kamis (11/6/2020).

"Mengenai kenaikan tarif tiket, jadi kami PT KAI akan melakukan kenaikan tarif tiket karena okupansi yang disyaratkan ini tidak mencapai 100%," katanya.

Menurutnya, kenaikan ini dihitung secara proporsional. Dia menjelaskan, biasanya KAI menghitung biaya operasi dan margin dengan membaginya dengan jumlah penumpang.

"Jadi kami akan naikkan secara proporsional artinya apa biaya operasi kami plus margin yang biasanya kami bagi dengan jumlah penumpang okupansi 100% maka pembaginya 70%," ujarnya.

Didiek menyatakan, telah mendapat restu dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk menaikkan tarif tersebut. Jadi, tarif yang dipesan penumpang nantinya sudah mengalami kenaikan.

"Kami sudah diskusikan dengan Dirjen KA dan kami sudah diperbolehkan. Sehingga tarif tiket yang muncul di aplikasi tarif tiket yang sudah mengalami penyesuaian," ungkapnya.

Dia menjelaskan, tiket kereta api sendiri terbagi menjadi dua yakni komersial dan PSO. Dia bilang, untuk komersial KAI bisa menaikkan tiket namun dalam koridor yang ditetapkan Kemenhub. Sementara untuk yang PSO harus izin pemerintah.

"Untuk komersial kita sesuaikan secara proporsional sesuai okupansi sementara untuk PSO kami akan berkonsultasi dengan pemerintah," terang Didiek.

KAI sendiri mengalami tekanan yang berat karena adanya virus Corona. Sebab, aktivitas masyarakat menjadi terbatas termasuk dalam hal penggunaan kereta. Didiek mengatakan, dari sisi angkutan penumpang mengalami penurunan sampai 93%.

"Pengaruh dampak mulai terasa 18 Maret jadi terdapat penurunan yang signifikan dan semakin menurun dan sekarang sudah mencapai level titik nadir di mana untuk angkutan penumpang mengalami penurunan hampir 93%," katanya.

Hal itu tercermin dalam pendapatan harian KAI. Biasanya, KAI memperoleh pendapatan harian mencapai Rp 22 miliar, meningkat saat akhir pekan mencapai Rp 26 miliar hingga Rp 28 miliar.

"Sekarang ini pendapatan dari angkutan penumpang hanya sekitar Rp 400 juta. Jadi betul-betul memberikan tekanan yang luar biasa pada KAI," ujar Didiek.

Sementara, dari sisi angkutan barang mengalami penurunan sekitar 30%. Dia bilang, pendapatan KAI tahun ini diperkirakan turun sampai 50%.

"Berdasarkan hasil analisa stres test yang kami lakukan maka pendapatan KAI tahun 2020 kira-kira akan mengalami penurunan secara total itu 50%," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: