Hendy Setiono, antara kepiting dan strategi bisnis kuliner di masa pandemi

Jum'at, 12 Juni 2020 | 11:30 WIB ET
Hendy Setiono (istimewa)
Hendy Setiono (istimewa)

HENDY Setiono tak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada salah satu usaha rumahan di Surabaya yang menjual kepiting lezat berharga miring. Usaha rumahan itu mampu menjajakan kepiting yang sama lezatnya dengan salah satu restoran terkenal di kawasan Surabaya Barat. Soal harga: jauh lebih murah, sampai sepertiga dari harga di restoran terkenal itu.

”Kepiting yang dari restoran di Surabaya Barat itu memang favorit, saya suka beli. Tapi kemudian saya dapat info salah satu usaha rumahan jual kepiting yang rasanya sama enaknya dengan yang hasil produksi restoran. Harganya sepertiga lebih murah. Dan ternyata sangat laris lewat pemasaran online,” ujar Founder dan CEO Baba Rafi Enterprise itu.

Menurut Hendy, model bisnis usaha rumahan itu bisa menjadi contoh usaha kuliner yang bisa eksis di masa pandemi dan hingga new normal ke depan. Hendy mencontohkan pengalamannya menikmati kepiting tersebut dalam webinar bertajuk Siap Makan-Makan: Kreativitas Kafe-Resto Menyambut Era New Normal, hasil kolaborasi kabarbisnis.com, Kadin Surabaya, dan Apkrindo.

Business model penjual kepiting itu layak menjadi contoh. Infrastrukturnya cukup home kitchen, tapi dengan product development yang luar biasa, dengan cost control yang baik, akhirnya produknya sama-sama lezat dengan yang dihasilkan restoran terkenal, namun harganya jauh lebih murah,” papar Hendy yang mengembangkan berbagai bisnis kuliner, dari kebab, kopi, hingga olahan ikan.

Hendy pun memaparkan sejumlah strategi bagi bisnis kuliner agar tetap bisa eksis di masa pandemi. Pertama, harus pandai beradaptasi.

”Calm down, jangan melawan arus dulu, karena krisis saat ini beda, yaitu krisis ekonomi dan krisis kesehatan. Dari adaptasi itu, bisa muncul ide-ide baru. Misalnya, kami meluncurkan dapur virtual, bagaimana mitra kami tidak perlu investasi outlet dan cari lokasi, tapi bisa melayani penjualan kebab dari dapur rumahan yang efisien,” jelas dia.

Kedua, perkuat efisiensi tanpa harus merumahkan karyawan. ”Contohnya, produksi yang dulu tiap hari, misalnya, kini bisa 3 kali dalam seminggu,” ujarnya.

Ketiga, transparansi, baik itu ke karyawan, partner, maupun perbankan. ”Harus membangun kesepahaman untuk bersama-sama melewati masa sulit ini,” kata Hendy.

Bahkan, lanjut Hendy, dimulai dengan transparansi, pelaku bisnis justru bisa mendapatkan insight  berharga dari karyawan, partner, hingga perbankan.

"Saat ini kita mendiskusikan berbagai tantangan yang ada, justru kadang-kadang ada insight dari partner, dari investor, itu sesuatu yang berharga untuk bekal inovasi di masa pandemi," ujarnya.

Hendy juga memberikan semangat kepada siapa saja yang sedang menghadapi kesulitan saat ini. Sebab, di dalam kesulitan, jika kita pantang menyerah, justru akan menghasilkan terobosan baru yang bisa mengantarkan kita ke gerbang kesuksesan.

"Jadi buat yang sedang kesulitan, atau misalnya ada pekerja yang dirumahkan, jangan menyerah. Mulai bisnis sendiri. Bisa dari kamar kos, dari rumah, kembangkan produk dengan bagus, kontrol cost-nya dengan baik, tekun, itu akan jadi pintu membuka kesuksesan," ujarnya. kbc9

Bagikan artikel ini: