Pandemi Covid-29 bikin ekspor non migas Jatim di bulan Mei terjun bebas

Senin, 15 Juni 2020 | 21:57 WIB ET
Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan
Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan melambatnya kinerja ekonomi di Jawa Timur, temasuk realisasi ekspor non migas Jatim ke sejumlah negara. Bahkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat, realisasi ekspor non migas Jatim di bulan Mei 2020 mengalami kontraksi seebsar 9,53 persen jika dibanding bulan April 2020.

"Nilai ekspor sektor nonmigas tersebut menyumbang sebesar 98,56 persen dari total ekspor bulan ini. Dibandingkan Mei 2019, nilai ekspor sektor nonmigas juga mengalami penurunan sebesar 28,24 persen," ujar Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan di Surabaya, Senin (15/6/2020).

Hampir seluruh komoditas ekspor andalan mengalami penurunan, kecuali komoditas perhiasan dan permata, tembaga dan tembakau. Penurunan terbesar terjadi pada komoditas Ikan dan udang yang turun dari US$ 97,96 juta menjadi US$ 46,34 juta atau turun 52,69 persen atau sebesar US$ 51,61 juta.

Penurunan terbesar ke dua terjadi pada ekspor komoditas kayu dan barang dari kayu, dari US$ 114,609 juta menjadi US$ 73,263 juta, atau turun sebesar 36,08 persen. Sementara Penurunan terbesar ketiga terjadi pada ekspor komoditas produk kimia, dari US$ 53,894 juta menjadi US$ 35,700 juta.

"Adapun komoditas ekspor non migas Jatim yang menjadi kontributor terbesar adalah Perhiasan/Permata. Komoditas ini menjadi komoditas ekspor nonmigas utama JawaTimur dengan nilai transaksi sebesar US$ 278,07 juta," jelas Dadang.

Nilai tersebut naik 248,08 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 79,89 juta. Perhiasan/Permata berkontribusi sebesar 22,49 persen pada total ekspor nonmigas Jawa Timur bulan ini. Golongan komoditas ini paling banyak diekspor ke Swiss dengan nilai US$ 152,48 juta.

Peringkat kedua yang terbanyak diekspor Jawa Timur adalah Tembaga yang menyumbang nilai ekspor sebesar US$ 110,18 juta, atau naik sebesar 18,65 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Golongan barang ini menyumbang 8,91 persen dari total ekspor nonmigas dan utamanya dikirim ke Tiongkok dengan nilai US$ 81,13 juta.

"Komoditas ekspor non migas yang menduduki peringkat ketiga adalah golongan lemak dan minyak hewan/nabati dengan nilai ekspor sebesar US$ 101,62 juta atau turun sebesar 21,70 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kelompok barang ini menyumbang 8,22 persen dari total ekspor nonmigas bulan ini dan utamanya diekspor ke Tiongkok senilai US$ 41,55 juta," lanjutnya.

Jika dilihat menurut negara tujuan utama ekspor nonmigas, Tiongkok adalah negara tujuan utama ekspor Jawa Timur bulan Mei 2020, disusul ke Jepang dan Swiss. Selama bulan ini, ekspor nonmigas Jawa Timur ke Tiongkok mencapai US$ 218,17 juta, sedangkan ekspor ke Jepang dan Swiss berturut-turut sebesar US$ 156,72 juta dan US$ 152,64 juta.

"Kawasan negara ASEAN masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Timur selama bulan Mei 2020, dengan peranan sebesar 15,54 persen. Singapura menjadi negara utama dengan peranan 4,30 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Timur, diikuti Malaysia dengan peranan sebesar 4,15 persen. Ekspor nonmigas bulan ini ke kawasan ASEAN sebesar US$ 192,13 juta," tambah Dadang.

Sementara itu ekspor nonmigas ke kelompok negara Uni Eropa menyumbang 6,82 persen atau dengan nilai US$ 84,33 juta. Ekspor ke kawasan ini, dominan ke Belanda sebesar US$ 28,06 juta dan diikuti ekspor ke Jerman sebesar USs 12,27 juta.

Secara kumulatif selama Januari-Mei 2020, ekspor nonmigas ke kawasan negara ASEAN sebesar US$ 1.770,99 juta atau dengan peranan 21,57 persen. Singapura menjadi tujuan utama dengan nilai ekspor nonmigas mencapai US$ 836,09 juta (dengan peranan sebesar 10,18 persen).

Ekspor nonmigas ke Uni Eropa pada periode tersebut mencapai US$ 589,95 juta dengan kontribusi sebesar 7,19 persen. Ekspor ke Belanda merupakan yang terbesar ke Uni Eropa selama Januari-Mei 2020 senilai US$ 172,79 juta, atau dengan peranan sebesar 2,10 persen.

Ekspor nonmigas negara utama lainnya selama periode ini, yang terbesar adalah ke Jepang dengan nilai US$ 1.174,03 juta atau dengan kontribusi sebesar 14,30 persen, disusul ke Amerika Serikat sebesar US$ 1.012,03 juta atau dengan peranan sebesar 12,33 persen dan ke Tiongkok sebesar

US$ 993,97 juta atau dengan peranan sebesar 12,11 persen.kbc6

Bagikan artikel ini: