Covid-19, gering, dan perspektif kearifan lokal masyarakat Bali terhadap wabah penyakit

Rabu, 17 Juni 2020 | 08:43 WIB ET
(dok. badungkab.go.id)
(dok. badungkab.go.id)

PANDEMI Covid-19 telah berdampak luas bagi masyarakat dunia, tak terkecuali Pulau Bali yang merupakan destinasi wisata paling terkenal di Indonesia, tempat lebih dari 9 juta wisatawan mancanegara tiap tahun menghabiskan liburan.

Meski demikian, Bali dianggap sebagai salah satu daerah yang cukup berhasil mengendalikan penyebaran Covid-19. Sebagai pusat mobilitas antarorang lintas benua tertinggi yang ada di Indonesia, penyebaran Covid-19 di Bali bisa ditekan. Per Selasa (16/6/2020), jumlah kumulatif pasien positif Covid-19 di Bali sebanyak 782 orang.

Itu semua tidak terlepas dari cara pandang masyarakat Bali terhadap wabah penyakit dan penanggulangannya berdasarkan local wisdom setempat.

Bagaimana masyarakat Bali memandang wabah penyakit?

Menurut sastra Bali Kuno, wabah penyakit merupakan bagian dari siklus alam, yang bisa datang secara berulang dalam kurun waktu dasawarsa, abad, bahkan millennium (ribuan tahun).

Ada tiga jenis wabah penyakit dalam keyakinan masyarakat Bali. Pertama, wabah yang menimpa manusia yang disebut ”gering”. Kedua, wabah yang menimpa binatang atau hewan yang disebut ”grubug”. Ketiga, wabah yang menimpa tumbuh-tumbuhan yang disebut ”sasab merana”.

Sebelumnya, pada tahun 1599, Pulau Bali pernah diserang wabah penyakit lepra yang menyerang manusia.

Wabah Covid-19 sendiri disebut sebagai ”gering agung” karena penularannya yang mendunia.

Lantas, apa yang menjadi sebab munculnya wabah penyakit?

Dikutip dari penjelasan Laporan Perkembangan Covid-19 di Bali, wabah muncul sebagai pertanda adanya ketidakharmonisan/ketidakseimbangan alam beserta isinya pada tingkatan yang tinggi akibat ulah manusia yang tidak melaksanakan tata kehidupan berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal: bahwa hidup harus menyatu dengan alam.

Dalam keyakinan masyarakat Bali, manusia adalah alam itu sendiri, sehingga manusia harus seirama dengan alam. Hidup manusia harus menghidupi, urip yang menguripi. Bahwa hidup harus menghormati alam, alam ibarat orang tua, oleh karena itu hidup harus mengasihi alam.

Munculnya pandemi COVID-19 harus dimaknai sebagai suatu pertanda dari alam yang merupakan proses alam untuk mencapai titik nol, sebagai pondasi menuju suatu keseimbangan baru yang akan menjadi tatanan kehidupan secara holistik dalam era baru.

Masyarakat Bali juga punya caranya tersendiri dalam mengembalikan keseimbangan alam. Cara masyarakat Bali dalam menyikapi munculnya wabah penyakit dilakukan sesuai dengan kearifan lokal yaitu dengan mengembalikan keseimbangan alam secara niskala, antara lain melaksanakan Upacara Bhuta Yadnya (Kurban Suci) dan Dewa Yadnya (Persembahan Suci kepada Hyang Widhi Wasa) dengan tingkatan yang mengikuti skala wabah, serta sipeng atau ngeneng ngening (tidak bepergian dan tidak beraktivitas di luar rumah selama wabah berlangsung).

Upacara Bhuta Yadnya dan Dewa Yadnya merupakan upaya pengembalian keseimbangan alam, memerlukan proses dan tahapan yang dilakukan pada hari-hari baik tertentu (subha dewasa).

Tujuannya adalah untuk mengembalikan wabah pada posisi dan fungsinya sebagaimana diciptakan oleh Hyang Maha Kuasa, karena setiap mahluk ciptaanNya memiliki tempat dan fungsinya masing-masing (Habitat) sehingga keseimbangan akan normal kembali.

Oleh karena itu, wabah pandemi COVID-19 tidak sepatutnya dihadapi dengan sikap/diksi melawan tetapi harus menghormati dengan cara mengembalikan kepada tempat dan fungsinya masing-masing (Habitat). Karena dengan diksi melawan, justru wabah COVID-19 akan semakin sulit dikendalikan, dan semakin ganas. kbc9

Bagikan artikel ini: