Menyeruput cuan bisnis kopi nusantara

Kamis, 18 Juni 2020 | 17:59 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Beberapa tahun terakhir, kedai kopi Indonesia mulai bergeliat dengan kekhasannya masing-masing. Kondisi ini kemudian mengubah karakter konsumen dalam negeri, yang awalnya hanya mengonsumsi kopi sachet menjadi penikmat kopi original.

"Kopi Indonesia sekarang kualitasnya jauh lebih baik dibanding beberapa tahun silam. Inilah yang kemudian membuat industri kopi nusantara menjadi semakin bergairah. Apalagi jenis kopi Indonesia sangat banyak dengan karakteristik yang berbeda," ujar Barista Smith Coffee, Muhammad Aga saat Webinar "Bisnis kopi tetap viral di New Normal" yang digelar BI Kanwil Jatim, Surabaya, Rabu (17/6/2020).

Dengan semakin membudayanya kopi nusantara di seluruh kalangan masyarakat, utamanya millenial, tak ayal bisnis ini menjadi semakin menjanjikan, tidak terkecuali disaat new normal seperti saat ini. Wajar jika kemudian banyak cafe bermunculan dan kondisi ini diprediksi bakal bertahan sangat lama.

"Ngopi sudah menjadi kata ganti untuk bersosialisasi. Ayo ngopi sama artinya dengan ajakan untuk bertemu dan berinteraksi, bersosialisasi," ujar Co Founder Kopi, Omar Karim.

Untuk itu, sekitar lima tahun yang lalu, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan mulai berbisnis kopi  dengan membuka kedai Dua Kopi hingga kemudian bisa ekspansi ke Washington DC. Ia berharap, melalui bisnis kopinya (sociopreneur) bisa dapat membantu banyak unit ekonomi, misalnya petani dan UMKM.

Keinginan tersebut juga didasari oleh sebuah penelitian bahwa ada tiga jenis usaha yang akan booming dalam kurun waktu lima hingga sepuluhtahun ke depan. Pertama adalah pusat kebugaran atau fasilitas olah raga, kedua food healthy atau makanan kesehatan dan terakhir hospitality, termasuk didalamnya  cafe.

Saat akan membuka cabang di Amerika, ia melakukan riset dan menemukan cela untuk bisa masuk serta bersaing di sana. Dalam risetnya diketahui bahwa,  kedai kopi di Amerika tidak selalu menjaga kualitas dengan menerapkan standar produksi ketat. Hal ini besar kemungkinan karena banyaknya konsumen sehingga mereka lebih mengutamakan layanan kecepatan, sehingga standar kualitasnya tidak begitu diperhatikan.

"Saya memiliki prinsip bahwa kedai kopi adalah rumah. Kalau seseorang ke rumah kemudian tidak menemukan tuan rumah, maka orang yang berkunjung pasti akan kecewa. Untuk itu, saya berusaha membuat rumah saya terasa hangat bagi semua tamu yang datang. Saya percaya rumah memiliki kehangatan yang berbeda yang bisa menarik konsumen," jelasnya.

Sementara itu, Co-Founder Kopi Kenangan James Prananto,  yang dikenal dengan konsep kopi susu gula aren menyampaikan tipsnya bagaimana kehadiran 350 gerai kopi kenangan dapat terus bertahan hingga saat ini. Selain faktor penentuan lokasi yang mendekati masyarakat khususnya di commercial areas, juga perlu diperhatikan pemilihan bahan baku yang berkualitas sehingga Kopi Kenangan selalu dicari karena keunggulan produknya.

Disamping itu, terdapat pula SOP untuk setiap pembuatan produk, kelengkapan toko hingga pelayanan. Di saat pandemi seperti ini, kunci untuk menjaring dan mempertahankan pelanggan adalah konsistensi produk dan layanan. "Tips tambahan supaya dapat go internasional, tentu saja keunikan produk, khususnya kopi susu gula aren yang merupakan kopi style Indonesia," tambah James.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Kantor Perwakilan BI Jatim,  Difi A. Johansyah  menyampaikan bahwa Kopi di Indonesia sangat kaya dan sesuai karakteristik daerah. Bisnis kopi bukan semata bisnis F&B saja, namun merupakan bisnis kreatif, dan salah satu bisnis yang paling prospektif.

"Saya berhatap semakin banyak anak muda di Indonesia yang terjun di bisnis ini, baik di sisi hulu sampai hilir, karena potensinya yang besar," pungkas Difi.kbc6

Bagikan artikel ini: