Jangan pesimis, masa pandemi bisa jadi peluang kembangkan bisnis

Jum'at, 19 Juni 2020 | 09:09 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Merebaknya pandemi Covid-19 telah berdampak kepada semua aspek kehidupan manusia, tidak hanya pada aspek kesehatan tetapi juga pada aspek ekonomi dan sosial budaya. Bahkan World Bank memprediksi ekonomi dunia tahun ini bakal merosot hingga minus 5,2 persen.

Tetapi kondisi ini tidak harus dimaknai sebagai ancaman, karena ini juga bisa ditangkap sebagai peluang memulai usaha bahkan mempertahankan usaha agar tetap bisa melaju. Seperti yang telah dilakukan oleh Tom Liwafa, salah satu pelaku usaha garmen, fashion, food and baverage dan entertainment asal Jawa Timur.

Tom menegaskan, dalam masa pandemi Covid-19, pengusaha dituntut adaptif jika tidak ingin bangkrut. Karena ketika pengusaha tidak bisa beradaptasi dengan keinginan pasar, maka mereka tidak akan bisa bergerak dan mencari solusi. Untuk itu dibutuhkan kejelian dalam melihat peluang dan mengidentifikasi produk yang bakal ngetrend atau melejit di masa pandemi.

“Jangan idealis.. disaat krisis lalu hanya pasrah berdiam diri tanpa mau berusaha mencari solusi, jangan mengaku pengusaha! Jangan merasa hanya bisa di bidang ini dan berharap akan bisa melanjutkannya saat wabah sudah selesai. Saya jamin anda bangkrut!,” tegas Tom Liwafa saat menjadi pemateri dalam acara Webinar yang diselenggarakan oleh Kadin Jatim bersama kabarbisnis.com dengan tema Strategi Usaha Perdagangan di Masa Pandemi Covid-19 dan Era New Normal (Era Kenormalan Baru), Surabaya, Kamis (18/6/2020).

Menurutnya, pandemi bukan alasan bagi pengusaha untuk berhenti. Karena mereka harus terus mencari peluang pasar yang bisa dimasuki dan dikembangkan untuk bisa menyelamatkan usahanya. Ia mencontohkan, ada beberapa pengusaha yang berhasil keluar dari keterpurukan karena sangat adaptif dengan kondisi saat ini.

“Ada salah satu teman saya yang memiliki bisnis wisata yang terkenal di Surabaya, karena pandemi, usahanya berhenti. Apa yang dilakukan? Ia kemudian mengubah lahan besar miliknya untuk menjadi parker taksi. Ada juga pengusaha tas yang keluar dari keterpurukan karena banting setir memproduksi APD untuk tenaga medis. Dan perusahaan saya yang awalnya produksi tas, sepatu dan baju sekarang beralih jualan masker,” tambahnya.

Karena dalam masa pandemi, ada banyak peluang yang tersedia. Pengusaha, ujarnya arus siap bertarung dan bersiap memenangkan pertarungan dengan menggunakan strategi memanfaatkan kekacauan. “Jual lah barang yang demandnya tinggi tapi tetap dengan harga wajar. Sebab kalau saya lihat, pemula yang baru berbisnis dengan menjual kebutuhan yang diperlukan saat pandemi itu bisa langsung direspon pasar. Mereka bisa jualan dan laku,” tandasnya.

Peluang di masa pandemi ini juga bisa dilihat dari turunnya property dan biaya promosi atau influencer yang ditawarkan. Sehingga kondisi seperti saat ini sangat pas bagi pengusaha untuk bersiap membuka toko baru karena murahnya harga property. Selain itu biaya promosi juga menjadi sangat murah.

“Satu atau dua bulan lagi mungkin kondisi akan berangsur normal, harga juga akan berangsur naik. Ini adalah saat yang pas untuk  menggunakan Influenser karena mereka sedang corona sells, biaya sangat murah dan ini bisa digunakan dalam jangka waktu yang sangat lama. Ini adalah saat tepat curi start, kita manfaatkan saat semua mengalami penurunan harga,” tandas Tom.

 

Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Mendag Bidang Pengembangan Pasar, Sutriono Edi mengatakan memang pandemi Covid-19  telah mendorong bangsa dalam bersikap menghadapi tantangan. Menurutnya, diperlukan sinergi dan kekuatan bersama baik regulasi pemerintah pusat, daerah serta terobosan dari swasta.

"Kami dukung pemda yang membuka aktivitas ekonomi perdagangan, yang diharapkan ini bisa meningkatkan perekonomian yang positif," ujarnya.

Selain itu, pengusaha seperti yang tergabung dalam Kadin Jatim perlu mengidentifikasi kebutuhan domestik dan pasar luar negeri agar usaha yang dikembangkan saat pandemi ini tepat sasaran.

"Di Jatim bisnis pertaniannya unggul, industri makanan minuman juga banyak sekali. Jadi saya rasa potensi besar kalau kita lihat data makanan olahan itu meningkat permintaannya karena negara lain tidak bisa menenuhi stok produk tersebut," katanya.

Namun begitu, tambahnya, Indonesia juga perlu waspada terhadap permintaan pasokan dalam negeri jangan sampai terganggu sehingga ketahanan pangan juga harus disiapkan.kbc6

Bagikan artikel ini: