Memasuki era kenormalan baru, pasar properti diprediksi mulai pulih

Senin, 22 Juni 2020 | 20:36 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Anjloknya pasar properti nasional akibat pandemi Covid-19 kiranya tidak sepenuhnya terjadi di Surabaya. Hal ini terlihat dari presentasi penurunan yang terjadi di Surabaya jauh lebih kecil dibanding penurunannya di wilayah Jabodetabek dan Bandung. 

Business Development Executive Ray White Indonesia, Robby  Simon mengatakan bahwa pasar properti di Surabaya jauh lebih baik dibanding pasar properti di wilayah Jabodetabek. Pada kuartal pertama 2020, pasar properti di Jabodetabek mengalami penurunan sebesar 50,1 persen, sementara pasar properti di Surabaya hanya tergerus sebesar 20 persen hingga 30 persen. 

"Dan penurunan ini pun bukan disebabkan karena daya beli yang tidak ada tetapi lebih disebabkan karena psikologi pembeli saja. Hanya karena psikologi saja konsumen menunda pembelian. Jadi tinggal bagaimana mengubah persepsi mereka. Karena sebenarnya saat ini adalah waktu yang tepat untuk membeli properti," ujar Robby Simon saat Webinar yang diselenggarakan oleh Kadin Jatim dan didukung oleh kabarbisnis.com, Aptiknas dan Arebi, Surabaya, Senin (22/6/2020).

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 memang telah memberikan dampak yang cukup besar bagi banyak negara di belahan dunia, baik dari segi kesehatan ataupun ekonomi sebuah negara. Ada banyak industri yang kollaps dan tutup sehingga mengakibatkan terjadinya gelombang PHK hingga terjadinya resesi yang kian bertambah parah. Namun kondisi tersebut ia perkirakan tidak akan terjadi di Indonesia.

"Kalau saya lihat, arahnya tidak ke sana.daya beli masih ada dan isntitusi finansial juga masih bergerak positif. Dan saya lihat bisnis properti akan semakin cepat pulih dan semoga mulai mengarah pada kondisi recovery di Semester II/2020 ini," ujar Robby.

Sebenarnya, pada awal tahun 2020, pasar properti tanah air sudah menunjukkan gelagat yang cukup baik. Di kuartal I/2020, tercatat realisasi investasi properti mencapai Rp 100 triliun dengan jumlah proyek 

baru sebesar 1.245 proyek di seluruh Indonesia. Namun kinerja ini harus terhenti akibat pandemi Covid-19.

Karena pasar dan karakter konsumen sudah berubah, maka ada empat hal yang harus diperhatikan oleh pebisnis properti agar bisnisnya tetap bisa bertahan. Pertama adalah perencanaan bisnis atau bisnis plan, kedua produk yang dijual, ketiga strategi marketing atau pemasaran yang dilakukan dan terakhir adalah lokasi proyek.

"Kalau dulu rumah yang diminati konsumen itu adalah rumah berkonsep Mediterania, maka sekarang sudah berubah. Konsumen saat ini lebih cenderung pada hunian yang bisa memenuhi seluruh kebutuhan mereka, rumah yang lebih luas dengan green konsep. Kalau dulu rumah hanya berfungsi sebagai tempat istirahat, maka sekarang berfungsi sebagai center, tempat bekerja dan juga tempat bersekolah bagi anak-anak mereka," ujarnya.

Disisi lain, strategi marketing juga harus diubah karena Covid-19 menjadi pertanda selesainya masa industrialisasi dan dimulainya masa digitalisasi informasi. Sehingga model promosi yang dilakukan harus disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. 

"Properti adalah kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia, tetapi market saat ini lebih banyak berbicara tentang kebutuhan. Ada dua kriteria properti yang diminati dan cepat laku, pertama hunian yang ready stok dan kedua rumah second yang nilai jualnya dibawah pasar," pungkas Robby. kbc6

Bagikan artikel ini: