Penerapan pendidikan vokasi saat pandemi, Kadin Jatim siap koordinasi dengan instansi terkait

Rabu, 24 Juni 2020 | 21:03 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mendorong seluruh sekolah dan industri yang berkomitemen menerapkan pendidikan vokasi sistem ganda untuk segera melakukan persiapan dan perencanaan.

Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Badan Koordiansi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jatim menegaskan bahwa pandemi tidak harus menjadi penghalang untuk terus bergerak maju. Persiapan harus segera dilakukan oleh pihak sekolah dan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Sehingga ketika sekolah sudah dibuka, program sudah bisa langsung dijalankan, baik di sekolah maupun di tempat kerja.

“Pelaksanaan program vokasi ini sangat penting mengingat kebutuhan Sumber Daya Manusia ata SDM yang mumpuni dan sesuai dengan permintaan DUDI sangat tinggi. Untuk itu, Kadin Jatim akan segera melakukan rapat koordinasi dengan tiga instansi terkait, yaitu dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dieparindag) Jatim, Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi  dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jati dan Dinas pendidikan (Dindik) Jatim untuk membicarakan hal tersebut,” tegas Adik saat Webinar dengan tema “Bagamimana pemagangan semakin bermanfaat ditengah pandemic Covid-19”, Rabu (24/6/2020).

Adik mengatakan, program vokasi di Indonesia memang belum sepenuhnya sempurna dan masih dalam tahap mencari yang terbaik. Namun kondisi saat ini jauh lebih baik dibanding sistem pendidikan pemagangan sebelumnya, dimana anak didik tidak sepenuhnya dididik sesuai dengan keahlian dan kualifikasi keilmuan yang dimiliki.

Menurut Adik, sebenarnya pihak sekolah maupun DUDI sangat tertarik dan antusias untuk kembali melaksanakannya. Karena pasca pandemi, program vokasi menjadi mandeg dan sampai sekarang masih belum bisa kembali dilaksanakan. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta webinar yang digelar Kadin Jatim bersama BKSP Jatim dan IHK Trier Jerman yang mencapai 528 peserta. Dilihat dari presentasi jumlah peserta, 56,8 persen adalah perwakilan dari sekolah kejuruan di wilayah Jatim dan sekitarnya. Sementara peserta dari industry mencapai 13,6 persen atau sekitar 71 perusahaan yang tersebar di wilayah Jatim. Sedangkan 24,3 persen dari lembaga atau instansi.

Hal yang sama juga diutarakan oleh perwakilan dari IHK Trier Jerman Andreas Gosche bahwa pada saat pandmei Covid-19 adalah  waktu yang tepat untuk mempersiapkan segalanya, baik dari sisi sekolah maupun dari sisi industri.

“Praktik memang harus di lapangan. Memang sedikit agak susah, tetapi ada konten yang berkenaan dengan keilmuan atau profesi yang bisa dilakukan secara online. Ini bisa belajar dulu. Intinya kita harus memulai dari sekarang,” kata Gosche.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dalam penerapan pendidikan vokasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah isi atau kurikulum. Kurikulum, ujarnya, harus disusun dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan DUDI. Sehingga dalam penyusunannya, DUDI harus dilibatkan.

Kedua adalah pelaksanaan pelatihan di tempat kerja hasu disesuaikan dengan pemeblajaran di sekolah. Dalam hal ini, pihak industry harus mau memberikan kesempatan kepada siswa untuk benar-benar bisa belajar sesuai dengan keilmuannya.

Ketiga adalah enaga pendidik di sekolah dan di temper kerja aau industry haus benar-benar berkompeten. Pendidik, ujarnya, harus mampu mentransformasikan keilmuannya kepada siswa dengan metode dan cara yang tepat.

Gosche menegaskan bahwa pendidikan kejuruan modern atau system vokasi membutuhkan dua tempat atau dua kaki, sebelah kanan sekolah dan sebelah kiri industri. Dan ini tidak hanya dalam jangka waktu satu dua hari saja, tetapi harus pararel selama tiga tahun.

“Butuh tempat belajar di industri yang layak, yang bisa menerima siswa. Ada instruktur, kurikulum dan ada kolaborasi antara sekolah dengan DUDI sehingga industri dan sekolah berjalan bersama,”  tambahnya.kbc6

Bagikan artikel ini: