Di webinar HIPMI, Wamendes: Infrastruktur makin baik, saatnya genjot inovasi ekonomi desa

Kamis, 25 Juni 2020 | 20:51 WIB ET
Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi.
Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi.

SURABAYA – Pembangunan infrastruktur desa selama lima tahun ke belakang yang sudah sangat masif bisa menjadi modal untuk membangkitkan ekonomi perdesaan di era new normal ke depan.

”Ini bisa dikatakan infrastruktur desa semakin baik, karena Pak Jokowi memacu pembangunannya lima tahun terakhir. Jadi sekarang saatnya menggerakkan dan memajukan ekonomi perdesaan di era new normal. Produk desa harus berdaya saing, menguasai pasar Indonesia dan bertahap menuju pasar ekspor,” ujar Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi.

Budi menyampaikan itu dalam webinar ”Pengembangan Ekonomi Pedesaaan Melalui Percepatan Pembangunan Infrastruktur Dalam Menghadapi Kehidupan New Normal Sebagai Upaya Peningkatan Daya Saing Ekonomi Perdesaan” yang digelar BPP HIPMI, Kamis (25/6/2020).

Selain Budi, hadir Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (ASPEKSINDO) yang juga Bupati Penajam Paser Utara Abdul Gafur Masud dan Ketua Umum BPP HIPMI Mardani H. Maming, Ketua Bidang VIII HIPMI Ali Affandi, serta jajaran HIPMI se-Indonesia.

Budi mengatakan, alokasi dana desa dari APBN sepanjang 2015-2019 sudah mencapai Rp257 triliun.  Dana itu dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur perdesaan. Dia menyebut, ada peningkatan lebih cepat pada jalan aspal di desa dari 61 persen menjadi 72 persen serta jamban pribadi dari 62 persen menjadi 82 persen. Lalu elektrifikasi melonjak dari 90 persen menjadi 97 persen.

”Setelah dibangun infrastruktur, warga dari semua tingkatan menilai kualitas infrastruktur desa sudah relatif sama dengan kota. Infrastruktur inilah yang menjadi instrumen pemerataan desa dan kota, menjadi pendorong inovasi ekonomi desa,” ujar Budi.

Berkat pembangunan infrastruktur itu pula, biaya investasi di desa semakin menurun. Dengan biaya investasi yang menurun, diharapkan semakin banyak pelaku usaha lahir dari desa.

Budi menambahkan, era new normal yang produktif dan aman dari Covid-19 harus dimaknai untuk membangkitkan ekonomi Indonesia. Saat ini, pemerintah menggalang gerakan nasional ”Bangga Buatan Indonesia”, dan itu menjadi pemantik untuk menggeber pemasaran produk desa.

”Kita ingin semua warga, termasuk pengusaha-pengusaha muda, bangga produk desa. Makan buah, enggak perlu buah impor, banyak buah dari desa yang kaya manfaat. Begitu juga produk-produk lainnya, kita utamakan produk desa,” ujarnya.

”Arus ekonominya harus kita balik, bukan dari kota ke desa, tapi desa menyerbu kota. Produk-produk desa harus jadi tuan rumah di Indonesia,” imbuh Budi sembari mencontohkan seluruh keperluannya yang dipenuhi dari produk dalam negeri, mulai kopi, makanan, hingga busana. kbc9

Bagikan artikel ini: