Hybrid event, eksistensi bisnis MICE di era normal baru

Kamis, 25 Juni 2020 | 22:30 WIB ET
Dari kiri; Yusuf Karim Ungsi, Lusi Astuti, dan Mochammad Soleh
Dari kiri; Yusuf Karim Ungsi, Lusi Astuti, dan Mochammad Soleh

SURABAYA, kabarbisnis.com: Sejak pandemi virus corona (Covid-19) melanda Indonesia, para pelaku usaha Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) harus tiarap karena sejumlah kegiatan yang mengundang keramaian harus dibatalkan.

Namun kini, di tengah pandemi yang masih berlangsung ada secercah harapan dari kalangan pelaku bisnis MICE, dengan kreativitas yang diciptakan, mereka tetap masih berkarya di era tatanan kenormalan baru (new normal), namun dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Hal itu yang mencuat dalam webinar yang diselenggarakan Kadin Kota Surabaya dan kabarbisnis.com bersama Asosiasi Perusahaan Pameran dan Indonesia (Asperapi) Jawa Timur dengan tema 'Masa Depan Bisnis Wedding dan Event Organizer di era New Normal' di Surabaya, Kamis (27/6/2020).

Ketua DPP Asperapi Jawa Timur, Yusuf Karim Ungsi mengatakan, di saat pandemi Covid-19 dan menyambut era noew normal, Asperapi mencanangkan sebuah konsep yang disebut Indonesia New NorMice. Dalam konsep ini ada tiga hal yang diperhatikan, yakni tracing, physical distancing, dan hygien.

"Prinsipnya kita menerapkan kegiatan dengan protokol kesehatan dan tetap kehati-hatian," katanya.

Namun demikian, dalam kondisi saat ini, inovasi dan kreativitas sangat dibutuhkan. Ini bisa diterapkan baik pada konsep kegiatan maupun fasilitas yang ditawarkan.

Dia mencontohkan, untuk wedding, bisa dengan melakukan resepsi virtual. Di pameran juga disiapkan live streaming yang bisa diakses melalui website. Tren baru ini tejadi di berbagai negara untuk tetap menjalankan bisnisnya.

Yusuf berpendapat pebisnis wedding dan event organizer dapat menggabungkan resepsi virtual dengan interaksi sosial dengan pembatasan jumlah tamu undangan dengan konsep bernama hybrid event. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, peserta undangan dibatasi misalnya 50% dari kapasitas.

“Untuk pengunjung pameran juga diterapkan sistem pembayaran cashless, hingga menyediakan tenaga medis selama pameran berlangsung,” ujarnya.

Menurut Yusuf, konsep hybrid konsep ini diyakini akan turut menyelamatkan industri venue dan perhotelan. Pasalnya hal tersebut merupakan ekosistem yang saling terkait satu sama lainnya.

Meski diakuinya, menuju adopsi tatanan baru semua pagelaran event tersebut mendapat persetujuan surat dari dinas kesehatan serta aparat keamanan.

General Manager Dyandra Convention Center Lusi Astuti mengakui kontribusi pendapatan dari event wedding dengan MICE sebesar 50 : 50.  Karena itu, dia telah menyiapkan diri membuat prosedur yang ditekankan mulai kepada staff, tamu, dan vendor yakni mulai kontraktor dekokrasi dan stakeholders lainnya untuk memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan dari seluruh pihak yang terlibat.

Protokol kesehatan dasar seperti cek suhu tubuh,masker dan face lift,sarung tangan, menggunakan masker bahkan face shield serta jaga jarak. Hal itu mencakup penyesuaian  food and beverages harus menggunakan kemasan food grade & disposable (sekali pakai). Semua ketentuan itu harus dipatuhi demi keberlangsungan acara weeding  yang harus beradaptasi dengan new normal.

”Jadi kalau ada pengunjung tidak memakai masker , kita pasti tidak bolehkan  masuk,”ujar Lusi seraya menambahkan fasilitas penunjang seperti lift, mushola dan sarana lainnya mengikuti protokol Kementerian Kesehatan.

Berkaitan lay-out pernikahan turut diatur. Mulai pintu masuk-pintu keluar dibedakan, penataan booth, duduk tamu VIP, panggung pelaminan ,band,  jalur prosesi pernikahan pun akan dibedakan.”Hingga tempat souvenir akan dibedakan,”kata dia.

Lusi menambahkan, Dyandra juga melakukan penyemperotan disenfektan. Untuk pengunjung , pihaknya membatasi 50% dari kapasitas gedung.Karenanya, di era tatanan baru ini tentunya tidak menuntut banyaknya jumlah tamu undangan yang hadir.”Perizinan hanya membolehkan jumlah tamu undangan hanya 30%,” terang Lusi.

Karena itu, Dyandra melakukan koordinasi dengan event organizer dengan menyiapkan  konsep baru berupa menu box  kepada para tamu undangan sebagai gantinya berbagai hidangan menu. Hal ini sebagai untuk jalan tengah antara efisiensi dan kompensasi kenaikan biaya operasi terkait pemenuhan standar protokol kesehatan baru. “Kita pun  berencana sampai tahun 2022 tidak akan menaikkan tarif,” ujar Lusi.

Harapkan dukungan pemerintah

Dalam kesempatan itu, Yusuf mengungkapkan, di masa pandemi Covid-19 ini semua pemangku kepentingan memiliki satu suara untuk tetap mampu bertahan untuk menjalankan roda bisnis. Yang dibutuhkan saat ini adalah tetap survive, karena di setiap event baik itu pameran maupun wedding memiliki multiplier effect besar, selain mengerahkan tenaga tidak sedikit, juga banyak bisnis pendukung.

"Makanya kami berharap pemerintah ikut mendukung kami, misalnya dengan relaksasi pajak MICE, kemudahan dalam izin keramaian, atau pembebasan pajak untuk pameran UKM, dan sebagainya. Ini adalah bentuk kepedulian pemerintah agar kami tetap confidence dan ikut mendukung pertumbuhan ekonomi," harapnya.

Hal itu juga diamini Lusi. Dia menyebut, selama ini pajak untuk MICE cukup besar, seperti pajak bumi dan bangunan (PBB), promosi, hingga genset, selain perizinan.

"Untuk itu, di tengah pandemi saat ini, kami berharap ada relaksasi dari pemerintah," ucapnya.

Sementara itu Ketua Komite Tetap Perhotelan Kadin Surabaya, Mochammad Soleh yang didapuk sebagai moderator di acara webinar kali ini menyebut, acara ini digelar dengan tujuan untuk memberikan gambaran kepada para pelaku bisnis dan masyarakat akan prospek bisnis MICE di tengah pandemi.

"Karena banyak masyarakat yang berharap kapan bisa menggelar acara, wedding, pertemuan, dan sebagainya. Karena di bisnis ini multiplier effectnya luas, mulai hotel, venue, wedding dan event organizer, transportasi, dan sebagainya," jelasnya. kbc11/kbc7

Bagikan artikel ini: