Lepas ketergantungan impor, Bio Farma produksi PCR hingga 140.000 kit

Jum'at, 26 Juni 2020 | 18:19 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sampai Juni 2020, PT Bio Farma memproduksi Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) test kit sebanyak 140.000 kit. Hasil RT-PCR tersebut sudah dikirim ke seluruh Indonesia.

Selain itu, Bio Farma juga memiliki lima skenario untuk penanganan Covid-19 sehingga dipastikan wabah Covid-19 bisa diatasi dengan RT-PCR yang diproduksi di dalam negeri.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, pihaknya sudah mampu memproduksi sendiri RT- PCR test kit, yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo.

"Sampai dengan minggu ketiga bulan Juni 2020 total sudah sebanyak 140.000 kit yang dihasilkan. Kami juga sudah mengirimkan ke seluruh Indonesia. Selain itu, kami juga sudah memiliki lima skenario untuk menangani virus Covid-19 ," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (26/6/2020).

Dia melanjutkan, RT-PCR sendiri merupakan bagian dari kolaborasi antara Bio Farma, dengan starup Nusatics di bawah koordinasi BPPT/Ristek-BRIN dalam gerakan Indonesia Pasti Bisa. Bio Farma dengan kompetensi dalam bidang bioteknologi memiliki tugas tidak hanya untuk memproduksi saja.

Namun, juga untuk validasi, regristrasi dan distribusi RT-PCR ke seluruh pelosok Indonesia. Saat ini, Bio Farma mampu memproduksi sebanyak 50.000 kit per minggu dengan menggunakan fasilitas yang sekarang berlokasi di kawasan Bio Farma.

"Apabila fasilitas produksi eks produksi vaksin flu burung dapat difungsikan, Bio Farma diharapkan akan mampu secara rutin memproduksi RT-PCR sesuai dengan kebutuhan nasional, yaitu sebayak 20.000 kit per hari atau 700.000 kit per bulan," kata Honesti.

Dia menambahkan, rencananya akan memanfaatkan fasilitas produksi flu burung yang berada di kawasan Bio Farma untuk membantu penanganan Covid-19. Fasilitas produksi untuk produk tersebut akan memanfaatkan fasilitas produksi vaksin flu burung yang terletak di kawasan Bio Farma dan kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat yang sampai dengan saat ini masih dalam proses penyerahan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kepada Bio Farma.

Honesti menambahkan sudah menyiapkan lima skenario untuk menangani virus Covid-19 yaitu dengan pembuatan RT-PCR untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri khususnya pada masa pandemi Covid-19, pengembangan vaksin Covid-19, dukungan terapi plasma konvalesen, pembuatan Virus Transport Media (VTM) dan pembuatan Mobile Laboratorium BSL3.

"Bio Farma sebagai induk holding BUMN Farmasi menjadi yang terdepan untuk penanganan Covid-19, bersama dengan anggota holding BUMN farmasi lainnya yaitu PT Kimia Farma, Tbk dan PT Indofarma, Tbk untuk menyediakan obat yang sudah masuk ke protokol pemerintah yang sudah mampu diproduksi sendiri seperti Chloroquine, Hidrocholoroquine," kata dia.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menargetkan Indonesia tidak lagi mengimpor PCR kit atau alat pengetesan spesimen secara usap.

"Kalau bisa diusahakan dalam waktu yang tidak lama, nanti 100% sudah tertutup oleh produksi dalam negeri sendiri, sehingga tidak tergantung impor, syukur-syukur nanti kita ekspor," katanya.

Saat ini, kata Muhadjir perusahaan di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Biofarma, mampu membuat PCR kit sebanyak 50.000 per pekan. Dia berharap Indonesia tidak perlu lagi mengimpor barang tersebut dan justru harus bisa mengekspor.

Di kawasan PT Biofarma, kata dia ada gedung milik Kementerian Kesehatan yang bakal dialihfungsikan untuk tambahan tempat produksi PCR kit sehingga target produksi dua juta PCR kit dalam satu bulan bisa terpenuhi.

"Tadi Pak Menteri Kesehatan sudah menginstruksikan dan menyarankan supaya untuk dalam waktu dekat ini kebutuhan PCR kit sudah bisa dicukupi dari dalam negeri, dari Biofarma sendiri," kata dia.kbc11

Bagikan artikel ini: