Susul Unilever, Coca-Cola setop pasang iklan di Facebook Cs

Minggu, 28 Juni 2020 | 17:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Coca-Cola Company akhirnya mengikuti jejak sejumlah perusahaan multinasional yang berbasis di Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan penempatan iklan berbayar di media sosial.

Kebijakan Coca-Cola ini bukan hanya berlaku bagi media sosial di Amerika Serikat (AS), tapi terhadap seluruh platform media sosial di seluruh dunia.

CEO The Coca-Cola Company James Quincey menyampaikan kebijakan itu melalui sebuah pernyataan yang terpampang pada laman resmi perusahaan minuman cola berkarbonasi tersebut.

"Tidak ada tempat untuk rasisme di dunia dan tidak ada tempat untuk rasisme di media sosial. Perusahaan Coca-Cola akan menghentikan sementara iklan berbayar di semua platform media sosial secara global selama setidaknya 30 hari. Kami akan mengambil waktu ini untuk menilai kembali kebijakan periklanan kami untuk menentukan apakah revisi diperlukan. Kami juga mengharapkan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dari mitra media sosial kamim," demikian tulis CEO The Coca-Cola Company James Quincey, seperti dikutip.

Meski tak secara spesifik menyebut platform media sosial, publik segera menghubungkan pernyataan Coca-Cola itu dengan pidato Mark Zuckerberg melalui akun resminya di  Facebook. Beberapa jam setelah Mark mengunggah pernyataannya sebagai CEO Facebook, Coca-Cola ganti menyampaikan pernyataan tadi lewat lama resmi.

Jumat (26/6/2020) lalu Facebook Inc menyatakan akan mulai melabeli konten yang tetap layak diberitakan meski melangar kebijakan perusahaan itu, jika memiliki bobot kepentingan publik lebih besar ketimbang risiko yang ditimbulkannya.

Facebook juga akan melabeli semua postingan dan iklan yang berkaitan pemilu sekaligus memasang tautan ke informasi otoritatif, termasuk dari politisi.

Mark Zuckerberg, CEO Facebook, juga mengatakan Facebook akan melarang iklan yang mengklaim bahwa orang dari ras, agama, orientasi seksual, atau status imigrasi tertentu merupakan ancaman bagi keselamatan fisik atau kesehatan.

Perubahan kebijakan Facebook ini terjadi seiring merebak kampanye boikot iklan "Stop Hate for Profit". Seruan boikot sendiri dimulai beberapa kelompok hak-hak sipil Amerika Serikat (AS) untuk menekan Facebook agar bertindak mengatasi ujaran kebencian dan informasi yang salah.

Namun, seperti dikutip Reuters, rupanya pidato Zuckerberg yang termuat di akun Facebooknya itu gagal, menurut Menurut Rashad Robinson, presiden kelompok hak-hak sipil Color Of Change, salah satu kelompok di balik kampanye boikot.

"Apa yang kami lihat dalam pidato hari ini dari Mark Zuckerberg adalah kegagalan untuk bergulat dengan kerugian yang ditimbulkan FB pada demokrasi & hak-hak sipil kita," Robinson mencuit. 

"Jika pidato ini adalah respons yang dia berikan kepada pengiklan besar yang menarik jutaan dolar dari perusahaan, kita tidak bisa mempercayai kepemimpinannya," imbuhnya.

Saham Facebook ditutup anjllok lebih dari 8% pada perdagangan Jumat (26/6/2020). Demikian pula dengan Twitter yang harga sahamnya rontok 7% di hari yang sama. 

Salah satu pemicu penurunan harga saham itu adalah pernyataan Unilever PLC yang akan menghentikan iklan di Facebook, Instagram, dan Twitter di AS, selama sisa tahun ini seraya mengutip istilah  "perpecahan dan kebencian selama pemilihan terpolarisasi ini periode di AS".

Lebih dari 90 pengiklan termasuk anak perusahaan produsen mobil Honda Motor Co Ltd di AS, Ben & Jerry's dari Unilever, Verizon Communications Inc dan The North Face, telah bergabung dalam kampanye ini. Begitu kaim grup aktivis iklan Sleeping Giants.

Salah satu pengiklan teratas Facebook, raksasa barang-barang konsumen Procter & Gamble Co, pada hari Rabu berjanji meninjau penempatan iklan dan menghentikan pengeluaran di platfrom yang memuat konten penuh kebencian. P&G menolak mengatakan apakah mereka telah mencapai keputusan di Facebook. kbc10

Bagikan artikel ini: