Niskala dan Sakala di Pulau Bali mencegah penyebaran Covid-19

Selasa, 30 Juni 2020 | 17:40 WIB ET
(ilustrasi/istimewa)
(ilustrasi/istimewa)

PANDEMI Covid-19 telah ”menyerang” begitu banyak daerah, termasuk Pulau Bali. Sebagai destinasi wisata paling terkenal di Indonesia, tempat lebih dari 9 juta wisatawan mancanegara tiap tahun menghabiskan liburan, Bali menjadi tempat yang cukup berisiko.

Meski demikian, tingkat penyebaran Covid-19 di Bali relatif bisa dikendalikan, jika mengingat Bali adalah pusat mobilitas antarorang lintas benua tertinggi yang ada di Indonesia. Per Senin (29/6/2020), jumlah kumulatif pasien positif Covid-19 di Bali sebanyak 1.444 orang.

Rupanya Bali punya caranya sendiri dalam penanganan Covid-19. Selain berbasis data dan langkah-langkah aspek medis yang terukur, masyarakat Pulau Bali mengandalkan kearifan lokalnya yang begitu kaya.

Niskala dan Sakala

Upaya penanganan Covid-19 di Pulau Bali setidaknya bisa dikerangkai dalam dua hal. Pertama, langkah berbasis kearifan lokal (secara niskala). Sesuai dengan kearifan lokal masyarakat, telah dilaksanakan Upacara Yadnya secara bertingkat mulai dari skala terkecil di masing-masing rumah tangga, di masing-masing Desa Adat, hingga skala besar di Pura Agung Besakih. Upacara Yadnya ini dilakukan setiap hari mulai tanggal 31 Maret 2020 sampai pandemi COVID-19 berakhir.

Upacara Yadnya ini bertujuan untuk mengembalikan keharmonisan alam beserta isinya sekaligus mendoakan supaya pandemi COVID-19 segera berakhir.

Adapun langkah kedua terkait kebijakan dan upaya-upaya pemerintah atau secara sakala. Kebijakan dan upaya yang dilaksanakan oleh Gugus Tugas Provinsi Bali antara lain dengan menggerakkan dan mengorganisasi 1.493 Desa Adat se-Bali dengan membentuk Satgas Gotong-Royong untuk melakukan kegiatan secara niskala dan sakala dalam rangka pencegahan COVID-19.

Selain itu, berbagai aspek medis dilakukan, mulai penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai, rumah sakit rujukan, tenaga medis yang kompeten, hingga percepatan tes untuk deteksi dini dan memutus mata rantai penyebaran virus.

Pemerintah daerah di Bali juga menyediakan hotel dan transportasi bagi para tenaga medis yang menangani Covid-19, menyiapkan tempat karantina bagi pekerja migran dan anak buah kapal warga Bali, melakukan isolasi terhadap Desa Adat yang warganya terpapar virus, hingga fokus pada penanganan kasus transmisi lokal.

Pandangan Masyarakat Bali terhadap Wabah

Menurut sastra Bali Kuno, wabah penyakit merupakan bagian dari siklus alam, yang bisa datang secara berulang dalam kurun waktu dasawarsa, abad, bahkan millennium (ribuan tahun).

Ada tiga jenis wabah penyakit dalam keyakinan masyarakat Bali. Pertama, wabah yang menimpa manusia yang disebut ”gering”. Kedua, wabah yang menimpa binatang atau hewan yang disebut ”grubug”. Ketiga, wabah yang menimpa tumbuh-tumbuhan yang disebut ”sasab merana”.

Sebelumnya, pada tahun 1599, Pulau Bali pernah diserang wabah penyakit lepra yang menyerang manusia.

Wabah Covid-19 sendiri disebut sebagai ”gering agung” karena penularannya yang mendunia.

Lantas, apa yang menjadi sebab munculnya wabah penyakit?

Dikutip dari penjelasan Laporan Perkembangan Covid-19 di Bali, wabah muncul sebagai pertanda adanya ketidakharmonisan/ketidakseimbangan alam beserta isinya pada tingkatan yang tinggi akibat ulah manusia yang tidak melaksanakan tata kehidupan berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal: bahwa hidup harus menyatu dengan alam.

Dalam keyakinan masyarakat Bali, manusia adalah alam itu sendiri, sehingga manusia harus seirama dengan alam. Hidup manusia harus menghidupi, urip yang menguripi. Bahwa hidup harus menghormati alam, alam ibarat orang tua, oleh karena itu hidup harus mengasihi alam.

Munculnya pandemi COVID-19 harus dimaknai sebagai suatu pertanda dari alam yang merupakan proses alam untuk mencapai titik nol, sebagai pondasi menuju suatu keseimbangan baru yang akan menjadi tatanan kehidupan secara holistik dalam era baru.

Masyarakat Bali juga punya caranya tersendiri dalam mengembalikan keseimbangan alam. Cara masyarakat Bali dalam menyikapi munculnya wabah penyakit dilakukan sesuai dengan kearifan lokal yaitu dengan mengembalikan keseimbangan alam secara niskala, antara lain melaksanakan Upacara Bhuta Yadnya (Kurban Suci) dan Dewa Yadnya (Persembahan Suci kepada Hyang Widhi Wasa) dengan tingkatan yang mengikuti skala wabah, serta sipeng atau ngeneng ngening (tidak bepergian dan tidak beraktivitas di luar rumah selama wabah berlangsung).

Upacara Bhuta Yadnya dan Dewa Yadnya merupakan upaya pengembalian keseimbangan alam, memerlukan proses dan tahapan yang dilakukan pada hari-hari baik tertentu (subha dewasa).

Tujuannya adalah untuk mengembalikan wabah pada posisi dan fungsinya sebagaimana diciptakan oleh Hyang Maha Kuasa, karena setiap mahluk ciptaanNya memiliki tempat dan fungsinya masing-masing (Habitat) sehingga keseimbangan akan normal kembali.

Oleh karena itu, wabah pandemi COVID-19 tidak sepatutnya dihadapi dengan sikap/diksi melawan tetapi harus menghormati dengan cara mengembalikan kepada tempat dan fungsinya masing-masing (Habitat). Karena dengan diksi melawan, justru wabah COVID-19 akan semakin sulit dikendalikan, dan semakin ganas. kbc10

Bagikan artikel ini: