Digitalisasi pacu pendapatan UMKM lebih 160% di tengah pandemi

Kamis, 2 Juli 2020 | 18:53 WIB ET
Pandu P Sjahrir
Pandu P Sjahrir

JAKARTA, kabarbisnis.com: Penyebaran pandemi Covid-19 telah menggeser dan mengubah pola bisnis masyarakat terutama Usaha Mikro, Kecil dan Mikro (UMKM) dari konvensial ke platform digital. 

Dengan sarana ini pendapatan rerata UMKM Indonesia yang mengadopsi e-commerce meroket lebih dari 160%, dan dari sisi produktivitas meningkat 110%.

Adapun sekitar 70% pelaku usaha menyatakan akan terus memanfaatkan media digital melalui e-commerce dan media sosial. Atas hal tersebut , transformasi digital menjadi suatu kebutuhan untuk mengembangkan usaha.

Demikian hasil riset Insight unit kerja SEA yang berfokus pada penelitian dan kebijakan publik serta pengembangan ekonomi digital di Asia Tenggara dan Taiwan.

“UMKM di Indonesia telah aktif beradaptasi dalam menghadapi tantangan besar selama pandemi. Meski kita akui setiadaknya ada tiga tantangan besar bagi UMKM selama masa pandemi ini meliputi pasokan, cash flow dan permintaan,” ujar Pandu P Sjahrir, Presiden Komisaris Sea Group dalam webinar  ‘Data Digitalisasi Selamatkan UMKM di Indnesia di Tengah Pandemi’ di Jakarta, Kamis (2/7/2020).

Terangkum dalam data digitalisasi bulan Juni 2020 ini, adaptasi yang dilakukan para pelaku usaha untuk menata kembali di masa new normal adalah mengubah strategi pemasaran untuk meningkatkan penjualan. Sekitar 45% pelaku usaha muda berjualan lebih aktif di platform e-commerce, 1 dari 5 adalah justru merupakan pengguna baru e-commerce.

“Pelaku usaha ini meliputi industri rumahan dan student entrepreneur yang membantu ekonomi keluarga, dalam sektor retail, pertanian maupun kesehatan,” terangnya.

UMKM, kata Pandu, mengubah strategi produksi dan jenis barang untuk memenuhi permintaan pasar yang dinamis. Beberapa pelaku usaha mulai memproduksi barang yang populer seperti masker dan hand sanitizer.

Metodologi survei ini dijalankan kepada 20.000 anak muda usia 16 hingga 35 tahun, 2.200 diantaranya adalah pelaku usaha serta dilakukan melalui platform Garena dan Shopee selama periode Juni 2020, selaku anak perusahan dari Sea. UMKM di Indonesia telah aktif beradaptasi dalam menghadapi tantangan besar selama pandemi. Tiga tantangan UMKM selama masa pandemi ini meliputi pasokan, cash flow dan permintaan.

Para pelaku usaha yang bekerja dari rumah memiliki hambatan utama yakni biaya internet yang mahal dan tidak stabil. Faktor lainnya adalah tetap dirasa perlu interaksi fisik dengan konsumen. Dalam kaitannya dengan cash flow, pendanaan modal eksternal seperti bantuan pemerintah dan pinjaman online menjadi lebih penting bagi para pelaku usaha untuk menghadapi tantangan cash flow 

“Kami berharap dapat membantu memberi gambaran jelas dan mempercepat langkah transformasi digital yang signifikan dan berkelanjutan bagi UMKM di Indonesia. Terutama agar terjadinya kolaborasi di berbagai sektor yang tentunya perlu dukungan penuh dari pemerintah,” harap Pandu.

Atas hal ini, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyambut positif data digitalisasi yang dirilis Sea Insight guna mempercepat transfomrasi digital pada masa pandemi ini. Hasil studi ini sangat bermanfaat untuk berbagai sektor terutama para pelaku usaha.

“Hasil riset ini sebagai basis tolak ukur melakukan  langkah-langkah percepatan dalam aksesibilitas internet, meningkatkan keterampilan digital serta literasi digital yang akan kami dukung dengan sejumlah program seperti inkubasi, edukasi dan kurasi bekerjasama dengan berbagai e-commerce dan sektor swasta lainnya,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: