Berharap dapat izin, industri wedding Jatim gelar simulasi pernikahan kenormalan baru

Minggu, 5 Juli 2020 | 07:06 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan berhentinya aktifitas sejumlah industri, termasuk industri wedding atau industri pernikahan. Istilah Work From Home (WFH) tidak berlaku bagi mereka karena industri ini hanya bisa bekerja di lapangan.

Dampaknya ratusan atau bahkan ribuan tenaga kerja yang berhubungan dengan industri ini berhenti bekerja, mulai dari pekerja dekorasi, persewaan gedung, event organizer (EO), musik, fotografer hingga catering. Bahkan petani bunga dari kota Batu yang biasanya menyuplai kebutuhan bunga untuk pernikahan mengaku harus membuang bunganya karena tidak laku.

Agar kegiatan ekonomi tersebut bisa kembali berjalan, maka pelaku industri pernikahan atau wedding di Jawa Timur menggelar simulasi pernikahan saat pandemi Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Simulasi yang melibatkan seluruh pelaku industri pernikahan Jatim ini digelar di Dyandra Convention Center Surabaya, Sabtu (4/7/2020).

Penerapan protokol kesehatan yang ketat terlihat mulai dari pintu masuk area resepsi dengan pengecekan suhu tubuh, pemberian hand sanitizer dan keharusan menggunakan masker. Undangan pun menggunakan barcode. Di ruangan, tatanan meja dan kursi terlihat sangat longgar karena hanya diisi sekitar sepertiga dari kapasitas ruangan saat kondisi normal, tidak ada standing party. Ini ditujukan untuk meminimalisir menggerombolnya tamu saat masuk hingga pengambilan menu sajian. Begitu juga dengan tatanan sajian hingga pengambilannya, semua dilayani. Selain itu, dekorasi pelaminan juga dibuat berundak agar ketika pengambilan foto tidak berdempetan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Dekorasi Indonesia (Aspedi) Jatim, Sumitro mengatakan bahwa simulasi resepsi pernikahan tatanan normal baru ini ditujukan agar masyarakat, utamanya pemerintah, mengetahui dan yakin bahwa pelaku industri pernikahan sudah siap menggelar acara pernikahan sesuai dengan prosedur tetap (protap) kenormalan baru dengan memperhatikan physical distancing yang sudah diatur oleh Dinas Kesehatan.

"Andaikata resepsi pernikahan yang seperti ini diberi ijin digelar, risiko tertular covid atau terpapar covid bisa ditekan. Artinya, datang ke resepsi pernikahan dengan menggunakan standar yang ditetapkan lebih aman dibanding datang ke pasar atau ke mall. Jika pasar dan mall diperbolehkan beroperasi, maka kami berharap pemerintah juga memberikan ijin untuk pelaksanaan resepsi pernikahan," ujar Sumitro.

Ia menegaskan, bahwa selama ini industri pernikaha telah berkomitmen memerangi penyebaran Covid-19. Mendukung penuh Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengatasi penyebaran Covid-29 dan ikut berpartisipasi menanggulanginya.

Dan sejak pertengahan Mei 2020, pelaku industri pernikahan yang tergabung dalam Gabungan Penyelenggara Pernikahan Indonesia (GPPI) sudah membuat aturan protokol kesehatan, mulai dari dekor, EO, catering, venue, musik dan lain sebagainya. Dan aturan tersebut telah direkomendasikan ke kementerian terkait dan dinas terkait.

"Dengan simulasi ini rasanya, kami ingin mencurahkan rasa rindu. Sudah 4 bulan diam di rumah tidak bekerja apa-apa karena memang kami tidak bisa bekerja di rumah dan harus bekerja di lapangan. Saking rindunya, kita bikin yang seheboh ini. Kalau diurut dari hulu, selama 4 bulan ini petani di Batu saat panen selalu dibuang, makanya saat saya bilang akan membuat acara simulasi, mereka berikan kita gratis. Dengan harapan, pemerintah daerah atau provinsi bisa berikan ijin kepada kami sehingga hasil panen petani bunga bisa kembali dijual," tambahnya.

Keinginan yang sama juga diutarakan oleh General Manager Dyandra Convention Centre, Lusi Astuti bahwa selama pandemi, pihaknya tidak ada pemasukan sama sekali. Padahal biasanya, ia biasa melayani resepsi pernikahan setiap Sabtu dan Minggu. Dan dalam satu kali perhelatan pernikahan, ia bisa mempekerjakan sekitar 160 orang atau bahkan lebih. Sementara saat pandemi, semua terhenti. Semua pekerja menganggur dan tidak mendapatkan upah.

"Kalau diberi izin, kami akan berlakukan protokol kesehatan yang sangat ketat, sehingga jumlah tamu juga sangat terbatas dan berkurang banyak. Kami tidak memikirkan untung, yang kami pikirkan saat ini hanya bagaimana kegiatan ekonomi ini bisa mendapatkan izin, walaupun dengan sangat terbatas. Karena akan ada banyak tenaga kerja yang kembali bisa bekerja sebab sejak Maret hingga sekarang belum ada event sama sekali," kata Lusi.

Pada kesempatan yang sama, dokter Ponco Nugroho memberikan masukan, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian juga, yaitu alur undangan sebisa mungkin dibuat satu arah sehingga tidak ada kesempatan bagi tamu untuk berpapasan. Selain itu, sirkulasi udara dan adanya tim kehatan juga harus diperhatikan.kbc6

Bagikan artikel ini: