Serunya bertanam sayur hidroponik saat pandemi

Kamis, 9 Juli 2020 | 10:33 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Bertanam tidak lagi identik dengan persawahan yang membutuhkan lahan luas dan kotor. Bertanam juga bisa dilakukan dengan manfaatkan  lahan sempit yang ada di sekitar rumah di perkotaan dengan menggunakan metode hidroponik. 

Bagi masyarakat urban layaknya masyarakat Surabaya, bertanam dengan metode hidroponik menjadi salah satu pilihan jitu untuk bisa memuaskan hobi bertanam mereka, terlebih di saat merebaknya pandemi Covid-19. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat di RW 12 Kelurahan Medokan Ayu Rungkut Surabaya. 

Saat ini warga RW 12 telah memiliki empat spot lahan tanam sayuran hidroponik yang terletak di RT 4, RT 5, RT 6 dan RT 7. Pembangunan empat spot lahan hidroponik tersebut adalah bantuan dari salah satu bank swasta di Indonesia. Setiap satu titik atau satu spot, ada sekitar tiga meja tanam yang dikelola warga.

Ketua Kampung Hidroponik Surabaya, Reni Susilawati mengatakan bahwa ada banyak manfaat yang diperoleh masyarakat melalui aktifitas barunya dengan bertanam sayuran hidroponik. Selain bisa memenuhi kebutuhan sayur warga dan menghilangkam stres serta ketegangan di saat pandemi Covid-19, kegiatan ini juga memiliki nilai ekonomis. Karena hasil panen bisa dijual kepada masyarakat sekitar, toko, sejumlah dinas dan perkantoran. 

"Sekali panen, kami bisa menghasilkan sekitar Rp350 ribu hingga Rp 400 ribu per meja tanam. Sehingga sebulan bisa menghasilkan sekitar Rp 950 ribu hingga Rp 1 juta per titik, sementara biaya produksi hanya sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu," ujar Reni saat acara Online Solution Seminar (OSS) Indonesia yang digelar oleh Kadin Jatim bekerjasama dengan Aptiknas, Arebi, kabarbisnis.com dan Kampung Hidroponik Surabaya, Rabu (8/7/2020).

Menurut Reni, bertanam hidroponik sangat mudah dan murah. Setiap orang bisa memulainya dengan menggunakan barang bekas, misalnya dengan botol bekas air mineral atau dengan wadah plastik yang tidak dipakai. Begitu juga dengan area lahan, bisa ditempatkan di lahan yang tidak terpakai atau bahkan di depan rumah.

"Kalau kami dulu meja tanam menggunakan pipa gully, pipa yang paling bagus untuk media tanam hidroponik. Satu meja dengan ukuran 2 meter x 75 centimeter biayanya sekitar Rp 5 juta," terangnya.

Dengan berjalannya waktu, warga pun berinisiatif untuk menambah satu spot lagi di lokasi yang berbeda. "Kami juga menanami tembok-tembok warga dengan sayuran. Ini sangat menyenangkan dan menyejukkan. Perkampungan menjadi hijau dan segar," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Reni juga mendemonstrasikan mudahnya bertanam sayur dengan metode hidroponik. Seluruh peserta seminar yang sebagian besar adalah pebisnis terlihat antusias dan tertarik untuk mulai bertanam. 

Ketua Arebi Jatim, Rudy Sutanto mengatakan sangat tertarik dan ingin mempraktekkan di sejumlah lahan propertinya. Ia juga berinisiatif untuk menawarkan kepada sejumlah developer agar rumah yang mereka jual juga dikombinasikan dengan ketersediaan tanam hidroponik. 

Ketertarikan yang sama juga diutarakan oleh salah satu Kepala Sekolah Menengah Pertama di wilayah Surabaya Timur, bahwa ia ingin memanfaatkan lahan sekolah yang tidak terpakai untuk lahan tanam hidroponik sebagai bagian dari program Adiwiyata. kbc6

Bagikan artikel ini: