Rapid test buatan anak bangsa dibanderol Rp75 ribu, hasil keluar 15 menit

Jum'at, 10 Juli 2020 | 10:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia berhasil merilis alat rapid test Covid-19 buatan lokal, bernama RI-GHA Covid-19. Menariknya, alat ini dibanderol hanya Rp 75 ribu.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengaku harga rapid test buatan dalam negeri harus lebih murah dari impor. Harga jual yang diusulkan sebesar Rp 75 ribu.

Harga sebesar itu dinilai terjangkau dan tidak membebani masyarakat. Apalagi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/I/2875/2020, dimana tarif pemeriksaan rapid test dibatasi sampai Rp 150 ribu.

"Maksimum Rp 150 ribu, harga kita upayakan kita tekan semakin rendah. Saya sudah sampaikan kepada kepala BPPT Rp 75 ribu. Ini kan bisa jadi patokan riil di lapangan, kalau ada produk yang harganya di atas ini, kan tidak laku," ujarnya di Gedung Kemeko PMK, Kamis (9/7/2020).

Muhadjir mengatakan, karena diproduksi dalam negeri, rapid test kit yang dinamakan RI-GHA tersebut akan memiliki harga yang lebih murah dibanding test kit impor.

Pihaknya siap bersaing dan banting harga jika suatu saat harga produk rapid test impor lebih murah dari produk buatan dalam negeri.

"Saya yakin produk dalam negeri nanti rapid test lebih murah, mampu bersaing dan siap-siap, kalau ada produk luar yang banting harga, kita juga siap-siap banting harga," ujarnya.

Lebih lanjut, Muhadjir menyatakan pihaknya bersama Kemenristek akan terus menindaklanjuti untuk mendorong penggunaan produk dalam negeri tanpa harus bergantung produk luar. "Kita perlu ada revolusi mental untuk mencintai produk sendiri dan percaya diri dengan produk dalam negeri," ujarnya.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menargetkan, pihaknya akan memproduksi 400 ribu rapid test kit bulan Agustus mendatang.

Hal itu dilakukan guna mempercepat pemenuhan kebutuhan rapid test dalam negeri. Adapun untuk bulan ini, produksi rapid test kit dalam negeri ditargetkan mencapai 200 ribu unit. "Besaran produksi kami target 200 ribu bulan ini, bulan depan 400 ribu," kata Bambang.

Dia melanjutkan, pihaknya juga akan mencari mitra industri lain agar produksi rapid test mengalami percepatan. Saat ini, Kemenristek melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah memiliki 2 mitra untuk memproduksi rapid test, yaitu PT Hepatika Bumi Gora Mataram dan Laboratorium Prodia.

"Apalagi tadi seperti yang disampaikan Pak Menko PMK, Pak Presiden sudah menginstruksikan untuk menyetop impor produk terkait Covid-19 yang bisa diproduksi di dalam negeri," imbuh Bambang. kbc10

Bagikan artikel ini: