Di tengah pandemi, Siantar Top bidik pertumbuhan penjualan 10% di 2020

Jum'at, 10 Juli 2020 | 21:35 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi virus corona (Covid-19) ikut mengganggu pasar produk makanan ringan di Tanah Air. Meski demikian, PT Siantar Top Tbk tetap optimis penjualannya tahun ini tumbuh positif.

Emiten produsen makanan ringan berbasis di Sidoarjo ini menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 10% hingga akhir tahun ini dibanding realisasi penjualan tahun lalu.

Direktur Utama Siantar Top, Agus Suhartanto mengatakan, kinerja perseroan di awal tahun 2020 ini cukup bagus, dimana penjualan bersih pasa kuartal I/2020 mencapai Rp 945 miliar atau tumbuh 9% dibandingkan periode sama tahun lalu yakni Rp863 miliar.

"Dengan kinerja positif ini kami masih optimistis hingga akhir tahun 2020 penjualan perseroan bisa tumbuh 10 persen," ujarnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan di Surabaya, Jumat (10/7/2020).

Diakuinya pertumbuhan penjualan di kuartal I/2020 ini tidak setinggi realisasi tahun 2019 yang secara keseluruhan naik 24,25% dari Rp2,8 triliun pada 2018 menjadi Rp3,5 triliun pada 2019.

"Sedangkan kinerja laba bersih kita tahun lalu tumbuhnya 89,91% dari Rp255 miliar pada 2018 menjadi Rp482 miliar pada 2019," jelas Agus.

Dikatakannya, secara umum industri mamin juga terkena dampak Covid-19 mengingat adanya pembatasan sosial seperti tidak ada kegiatan sekolah yang selama ini menjadi salah satu pasar untuk produk makanan ringan untuk anak-anak. 

"Namun dalam kondisi seperti sekarang kami masih yakin dengan upaya promosi dan produk unggulan seperti French Fries, Gemez, Goriorio, Go Potato, Tic Tac yang masih diminati pasar. Kami juga terus memperluas jaringan distribution center untuk menyiapkan butter stock guna mempermudah distribusi produk ke daerah," ujar Agus.

Direktur Siantar Top, Suwanto menambahkan, perseroan juga tetap akan mengembangkan pasar ekspor yang selama ini sudah berkontribusi 9% yakni kebanyakan pasar dari China, Korea Selatan dan Taiwan.

"Tahun ini kita upayakan tetap kembangkan pasar ekspor ke negara-negara Asia, Timur Tengah dan Afrika," imbuhnya.

Sementara terkait rencana investasi baru, tambah Suwanto, perseroan memutuskan untuk menunda rencana pengembangan pabrik baru di Kertosono dan proyek Theme Park di Sidoarjo hingga kondisi memungkinkan.

Sedangkan pengembangan pabrik baru di Pasuruan tetap dilanjutkan secara lebih selektif, mengingat tingkat utilitas pabrik yang ada saat ini sudah mencapai 70% - 80%.

"Pengembangan pabrik baru di Pasuruan tetap berjalan, dan diperkirakan akhir tahun ini sudah selesai dengan harapan pada 2021 sudah beroperasi," imbuhnya.

Dengan kondisi itu, Suwanto bilang, perseroan merevisi capital expenditure (capex) unuk tahun 2020 yang sebelumnya Rp 569 miliar menjadi Rp 469 miliar. Dari total tersebut, sebesar Rp 319 miliar untuk perluasan usaha, Rp 50 miliar untuk anak usaha, dan Rp 100 miliar untuk pembagian dividen kepada pemegang saham. kbc10

Bagikan artikel ini: