Sasar milenial, Menteri Teten arahkan koperasi garap industri kreatif

Minggu, 12 Juli 2020 | 21:22 WIB ET
Menkop UKM Teten Masduki
Menkop UKM Teten Masduki

JAKARTA, kabarbisnis.com: Koperasi harus terus bertransformasi terhadap dinamika zaman merupakan suatu keniscayaan.Eksistensi sebagai unit bisnis berbasis kerakyataan dapat dilakukan salah satunya dengan merambah kepada industri kreatif yang diganderungi kaum muda milenial.

Tidak dapat dipungkiri saat ini regenerasi kepengurusan koperasi berjalan lambat. Ini menyebabkan potensi resiko yang besar jika ingin berkompetisi di masa depan. Hal ini terjadi lantaran koperasi cenderung terlambat mengubah strategi bisnisnya untuk merambah ke industri kreatif yang digemari kaum milenial.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki mengatakan, berdasarkan hasil kunjungannya pada lebih dari 100 unit koperasi sebagian besar pengurusnya dijalankan oleh orang-orang tua. Kondisi yang sama juga terjadi di kampus-kampus yang mana bisnis koperasi dilakukan tanpa adanya peran mahasiswa.

"Saya kaget setelah bertemu dengan 100 koperasi yang terbesar ternyata tidak ada anak mudanya, ini jangan-jangan koperasi mengalami stagnasi regenerasi. Tapi itu memang sebenarnya betul terjadi dan perlu dicarikan visi baru agar koperasi lebih diterima anak muda," kata Teten dalam diskusi daring di Jakarta, Minggu (12/7/2020).

Teten melihat saat ini koperasi-koperasi yang ada di Indonesia sebagian besar belum merambah pada industri kreatif dan cenderung menjalankan bisnisnya secara konvensional. Padahal, potensi industri kreatif sangat besar dan sangat diganderungi anak muda.

Upaya untuk digitalisasi koperasi pun harus dilakukan dengan menyasat target industri animasi, musik dan hiburan, game serta pariwisata. Sektor-sektor ini merupakan titik potensial yang digemari anak muda khususnya di kalangan mahasiswa.

"Dengan format yang modern jangan hanya nanti bisnis koperasi jadi tukang fotokopi atau bikin kaos atau bikin jaket almamater, bisnis lainnya juga penting karena milenial ini kan tertarik dengan ekonomi kreatif," terang Teten.

Meski saat ini profil koperasi yang saat ini sudah aktif, baik itu koperasi produsen, koperasi konsumen, koperasi jasa, koperasi simpan pinjam dan koperasi lainnya harus berada pada kesatuan ekosistem yang terintegrasi satu sama lain.

"Saat ini, sumber dan saluran pembiayaan yang ramah untuk UMKM dan koperasi tengah kami benahi dan LPDP sudah kita tetapkan 100% penyalurannya untuk koperasi dengan prosedur yang lebih mudah," ujarnya.

Koperasi simpan pinjam, bank wakaf mikro dan BMT bisa menjadi mitra saluran pembiayaan untuk UMKM. "Di tengah Covid-19, koperasi bisa menjadi partner pemerintah untuk mensukseskan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)," kata Teten.

Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Riza Damanik menuturkan, proses digitalisasi koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus dipercapat. Sebab, penerapan sistem daring untuk meningkatkan eksistensi dan peluang pasar yang dilakukan saat ini cenderung terlambat.

Padahal berdasarkan survei yang dilakukan bulan Maret lalu, usaha yang telah terintegerasi ekosistem digital mengalami pertumbuhan 19%. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat mengingat saat ini kondisi penanganan pandemi virus corona belum menunjukkan titik terang.

"Kami mendorong adanya platform yang nantinya akan digunakan memperkuat UMKM yang tergabung dalam koperasi. Ini saya kira sudah benar dan sudah harus ada karena saya justru menduga kita sudah terlambat sekali," kata dia.

Merujuk data Badan Pusar Statistik (BPS) tahun 2019, jumlah koperasi di seluruh Indonesia sebanyak 152.172 unit pada 2017, tumbuh 0,66% dibanding tahun sebelumnya. Namun jika dibandingkan dengan data 2006, jumlah koperasi telah meningkat 53,8% seiring pertumbuhan ekonomi domestik. Jumlah koperasi terbanyak berada di Jawa Timur, yakni 27.683 unit atau sekitar 18% dari total koperasi.

Selanjutnya, Jawa Tengah 21.667 unit, dan Jawa Barat 16.203 unit. Sementara wilayah yang mengalami pertumbuhan koperasi paling pesat adalah Papua. Pada 2006, jumlah koperasi di Papua hanya 944 unit, tapi pada 2017 meningkat 128% menjadi 2.158 unit. kbc11

Bagikan artikel ini: