Philip Morris ramal pasar rokok dunia bakal 'kiamat'

Selasa, 14 Juli 2020 | 18:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Philip Morris International (PMI) meramal penjualan rokok di seluruh dunia bakal berakhir dalam beberapa tahun ke depan, seiring berkurangnya jumlah perokok aktif. Hal itu tercermin dari penjualan rokok belakangan ini.

Untuk rokok hasil produksi Philip Morris, penjualan tinggal 706,7 miliar batang pada 2019 lalu. Penjualan itu turun 4,5 persen dibanding 2018.

Selama beberapa tahun ke depan, diperkirakan konsumsi rokok akan turun sebesar 3 persen setiap tahun.

Untuk mengantisipasi tersebut, mereka menyiapkan IQOS, filter rokok elektrik yang telah dimodifikasi dan rendah risiko.

Chief Executive Officer PMI, Andre Calantzopoulos mengklaim IQOS telah mendapat izin pemasaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (US Food and Drugs Administration/FDA) AS pekan ini sebagai sebagai alternatif yang lebih aman daripada rokok.

Dia mengatakan, jika izin tersebut dipertahankan, pihaknya yakin dapat memproduksi 90 hingga 100 miliar unit rokok elektrik pada 2021.

"Pada tahun 2025, produk-produk ini akan mewakili 38 persen hingga 42 persen dari pendapatan kami. Dengan asumsi, 30 juta orang telah beralih dari rokok ke produk kami," ujarnya dalam webinar, Senin(13/7/2020).

Philip Morris menjelaskan, IQOS merupakan produk alternatif untuk membakar tembakau yang biasa dilakukan perokok. Pengiriman produk tembakau elektrik cukup menggiurkan.

Data yang mereka miliki, penjualan mencapai 59,7 miliar unit pada 2019 atau naik 44,2 persen dibanding tahun sebelumnya.

"Saya pikir kami telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dan menginvestasikan banyak uang untuk mengembangkan produk-produk ini dan yang paling penting, menilai mereka," tutur Andre.

Vice President Strategic and Scientific Communications PMI) Moira Gilchrist mengklaim produk IQOS rendah resiko dibandingkan rokok konvensional. Untuk mengetahui keamanan tersebut, pihaknya telah menyelesaikan serangkaian uji klinis pada perokok dewasa

Uji klinis tersebut dilakukan dalam kurun waktu 5 hari di sebuah klinik kesehatan selama 3 bulan. Uji klinis dilakukan terhadap perokok.

"Kami memperhatikan mereka dengan sangat hati-hati untuk memastikan bahwa mereka tinggal dengan kelompok mereka, ditugaskan untuk penelitian jangka panjang, yaitu selama tiga bulan, di mana mereka pulang dan mereka datang kembali ke klinik untuk mengukur kadar bahan kimia dalam darah dan urin mereka," ujar Moira.

Moira menuturkan hasil penelitian tersebut menunjukkan IQOS mengurangi penggunanya terpapar 15 bahan kimia berbahaya ke level yang mendekati perokok yang berhenti merokok.

"Studi-studi tersebut menunjukkan paparan terhadap IQOS sangat, sangat sedikit, dengan tingkat paparan bahan kimia berbahaya dan berpotensi berbahaya sama dengan yang kami ukur pada mereka yang berhenti sepenuhnya selama penelitian," pungkas Moira. kbc10

Bagikan artikel ini: