Industri perhotelan butuh suntikan modal Rp21,1 triliun

Selasa, 14 Juli 2020 | 22:33 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, industri pariwisata nasional membutuhkan suntikan modal kerja kepada pemerintah sebesar Rp 21,3 triliun sehingga dapat terus beroperasi.

Menurut Haryadi, industri pariwisata membutuhkan dana segar untuk mampu bertahan menuju adaptasi kenormalan baru. Akibat pandemi Covid-19 menyebabkan pelaku usaha menutup operasi hingga gulung tikar. Menurut Haryadi nominal kerugian yang harus dialami dunia usaha ditaksir mencapai Rp 70 triliun.

“Ini Simulasi kebutuhan modal kerja untuk hotel dan restoran, yang kami hitung itu dari jumlah hotelnya adalah 715 ribu kamar dan 17.862 unit restoran. Ini kami hitung seluruh biaya overhead di luar bahan baku makanan dan minuman, itu kami ketemu angka Rp 21,3 triliun,” kata Haryadi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI yang disiarkan virtual di Jakarta, Selasa (14/7/2020).

Hitungan modal kerja tersebut merupakan ongkos recover 2 industri untuk enam bulan ke depan. Karena hingga saat ini, modal kerja dari dua sektor tersebut sudah habis digunakan untuk menutup biaya operasional selama hotel dan restoran tutup.

“Itu simulasi hitungan untuk modal kerja enam bulan yang dibutuhkan dengan asumsi mereka mengalami modal kerja yang sama sekali habis. Saat ini seluruh hotel dan restoran yang masih bertahan mengalami kerugian keuangan, cadangan modal kerja yang dimiliki para pengusaha hotel pun sudah habis,” jelas dia.

Beban modal kerja yang habis tersebut sudah digunakan untuk menanggung gaji karyawan, listrik, gas dan biaya operasional lainnya. “Jadi ini overhead, gaji pegawai, listrik, promosi pokoknya di luar bahan baku makanan dan minuman,” kata Haryadi.

Menurut Haryadi saat ini tingkat okupansi hotel hampir di semua daerah masih di bawah 15% meskipun pemerintah telah berangsur-angsur melonggarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ini juga terjadi pada layanan jasa pernikahan dan pertemuan yang masih minim permintaan. Penurunan jumlah pengunjung dipengaruhi pula dengan sedikitnya jadwal penerbangan pesawat dan mahalnya tes cepat atau rapid test virus corona. Imbasnya, tingkat okupansi hotel di wilayah-wilayah zona hijau masih sedikit.

"Kegiatan pertemuan dan pernikahan saat ini sudah mulai berjalan tapi masih dibatasi kapasitasnya 50% ini masih lemah permintaannya tapi sudah mulai berjalan. Berkurangnya jumlah penerbangan dan mahalnya tes Covid-19 ini membuat okupansi di daerah juga menjadi turun drastis," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: