Perebutan bahan baku tebu, Komisaris PTPN XI minta semua pihak tepati komitmen

Rabu, 15 Juli 2020 | 19:45 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Menyikapi audiensi Serikat Pekerja Pabrik Gula yang berasal dari PTPN X, XI, Serikat Pekerja Rajawali Nusantara, dan SPPP SPSI PG Kebon Agung yang melakukan  audiensi dengan komisi B DPRD Jawa Timur Senin (13/7/2020) kemarin terkait langkanya bahan baku tebu dan dugaan kompetisi tidak sehat yang dilakukan PG Swasta , Komisaris Utama PTPN XI Dedy Mawardi menegaskan dampak dari kompetisi bahan baku tebu (BBT) tersebut.

"Apa yang disampaikan kawan-kawan serikat pekerja kemarin benar, pola kemitraan yang sudah lama terjalin rusak akibat motif transaksional. Ini yang harus diperhatikan oleh pihak terkait, menagih komitmen para pabrik gula baru diantaranya harus memenuhi sekurang-kurangnya dua puluh persen dari keseluruhan bahan baku yang dibutuhkan berasal dari kebun sendiri, ini sudah diatur dalam Permentan maupun undang-undang tentang perkebunan yang artinya harus ditaati bila dilanggar harus ada konsekuensinya, instansi terkait yang jadi wasitnya," ungkap Dedy Mawardi, Surabaya, Rabu (15/7/2020).

Pihaknya menyayangkan komitmen tersebut tidak berjalan, sehingga pabrik gula baru tersebut mengambil BBT dari petani yang sudah bermitra dengan pabrik gula yang sudah eksisting. Hal ini mengakibatkan selain rusaknya pola kemitraan, BBT PG eksisting berkurang dan tidak bisa memenuhi kapasitas giling.

"Saat ini ada dua pabrik gula baru di Jawa Timur, musim giling ini mereka membeli tebu petani dari luar daerahnya, dan petani tersebut merupakan mitra pabrik gula eksisting dengan harga diatas rata-rata. Dampaknya luas, mulai dari rusaknya pola kemitraan, pengembalian petani atas pinjaman modal dari PG juga tersendat bahkan macet, hingga kapasitas yang tidak tercapai, idle capasity, yang akhirnya menyebabkan pabrik gula rugi dalam beroperasional," jelasnya lebih lanjut.

Bila hal ini terus berlanjut maka Dedy memprediksi akan ada banyak penutupan atau pengalihfungsian pabrik gula yang berakibat langsung pada nasib tenaga kerja.

"Tentunya hal ini akan berdampak pada tenaga kerja pabrik gula yang dialihfungsikan atau bahkan ditutup yang jumlahnya ribuan. Untuk itu kepada semua para pihak agar menepati komitmen masing-masing. Pola kemitraan dengan petani tebu yang sudah berjalan dari dulu jangan dirusak dengan motif transaksi. Inti permasalahan adalah kurangnya BBT, PG baru harus membangun kebun sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, demikian juga PG eksisting selain harus memenuhi BBT-nya juga menjaga performa dalam pabrik. Klop, semua pihak jaga komitmennya," ujarnya.

Terkait dengan upaya PTPN XI dalam memenuhi BBT dan performa pabrik, Dedy Mawardi menambahkan upaya manajemen PTPN XI diantaranya kerjasama agroforesty dengan berbagai pihak, sewa lahan dan akuisisi HGU untuk lahan tebu, terus membangun pola kemitraan dengan petani, hingga program modernisasi dan penambahan kapasitas pabrik gula. kbc6

Bagikan artikel ini: