Realisasi investasi kuartal II/2020 terhempas pandemi Covid-19

Rabu, 22 Juli 2020 | 17:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi investasi kuartal II/2020 hanya sebesar Rp 191,9 triliun. Angkanya turun 8,9% dibandingkan dengan posisi kuartal II/2019 yang mencapai Rp 200,5 triliun.

"Rencana BKPM realisasi investasi lebih dari Rp 200 triliun pada kuartal II 2020. Tapi karena sekarang kondisi pandemi virus corona makanya sangat berat," ujar Bahlil dalam konfrerensi virtual di Jakarta, Rabu (22/7/2020)

Bahlil merinci realisasi investasi itu terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 207 triliun atau 51,4% dari target dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 195,6 triliun atau 48,6% dari target. Realisasi PMDN naik 13,2%, sedangkan PMA turun 8,1%.

Adapun total realisasi investasi yang masuk ke Indonesia sebesar Rp 402,6 triliun pada semester I/2020. Realisasi yang terjadi di tengah penyebaran virus corona itu mencapai 49,3% dari target investasi tahun ini yang sebesar Rp 817,2 triliun.Jumlah investasi pada semester I 2020 naik tipis 1,8% dibandingkan dengan posisi semester I 2019 yang sebesar Rp 395,6 triliun.

Berdasarkan sektor, data secara keseluruhan semester I 2020 terlihat aliran investasi terbesar mengalir ke transportasi, gudang, dan telekomunikasi mencapai Rp 76,3 triliun atau 19 % dari total investasi. Kemudian, investasi mengalir ke sektor listrik, gas, dan air sebesar Rp 48,5 triliun atau 12 % dari total investasi.

Lalu, ke industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya Rp 45,2 triliun atau 11,2 % dari total investasi. Disusul dengan sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp33 triliun atau 8,2 persen, serta industri makanan sebesar Rp 29,6 triliun atau 7,4 % dari realisasi investasi.

Merujuk negara asal, aliran modal umumnya berasal dari Singapura mencapai US$4,7 miliar atau 34,4 % dari total investasi. Disusul dari China sebesar US$2,4 miliar atau 17,9 %, Hong Kong US$1,8 miliar atau 13,2 %, Jepang US$1,2 miliar atau 8,9 %dan Malaysia US$800 juta atau 5,9 %.

Sisanya, datang dari negara-negara lain dengan akumulasi US$2,7 miliar atau 19,7 % dari total investasi.Dari investasi ini, penyerapan tenaga kerja tercatat sebanyak 566.194 orang. Penyerapan tenaga kerja ini dilakukan untuk 57.815 proyek.

Adapun lima besar provinsi tujuan investasi yakni DKI Jakarta dengan nilai Rp 30,1 triliun, Jawa Barat Rp 28 triliun, Jawa Timur Rp 19,6 triliun, Banten Rp 13,6 triliun, dan Riau Rp 10 triliun.Menurut Bahlil, kesenjangan tujuan investasi pada kuartal II yang semakin melebar merupakan salah satu dampak sistemik Covid-19.

Padahal pada kuartal sebelumnya, masih ada beberapa wilayah Timur yang masih jadi tujuan investasi."Kalau tidak salah saat itu ada Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara," ujarnya.

Dijelaskannya, Singapura menjadi negara terbesar asal investasi RI yakni US$ 2 miliar pada periode tersebut. Hong Kong berada di poisis kedua dengan nilai US$ 1,2 miliar, Tiongkok US$ 1,1 miliar, Jepang dan Korea Selatan masing-masing US$ 600 miliar. Secara tahunan, invetasi Korea Selatan tumbuh 101% sehingga berhasil masuk ke peringkat lima terbesar.

Bahlil mengatakan banyak yang bertanya mengapa Singapura masih mencatatkan realisasi investasi tertinggi , meski terancam resesi ekonomi. BKPM juga mencatat secara akumulatif sepanjang semester I 2020, realisasi investasi Singapra mencapai US$4,7 miliar.

"Pasti banyak yang bertanya, kenapa Singapura yang kuartal kedua minus 41% tapi realisasi investasinya masing tinggi? Saya sampaikan bahwa dana yang masuk ke Singapura itu bukan dari negaranya.Itu hub saja," pungkasnya.kbc 11

Bagikan artikel ini: