Kadin Jatim jembatani dunia industri perkuat pasar dalam negeri

Kamis, 23 Juli 2020 | 19:23 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur berkomitmen membantu industri memasarkan produk mereka di pasar dalam negeri. Setelah berhasil memfasilitasi PT Maspion, kali ini Kadin Jatim berupaya menfasilitasi PT Pertamina Lubricant untuk memasarkan produk pelumas mereka di seluruh wilayah Jatim. Langkah ini sebagai salah satu upaya Kadin Jatim untuk kembali menggairahkan ekonomi daerah. 

Wakil Ketua Umum Bidang Minyak dan Gas Kadin Jatim Tri Prakoso mengatakan bahwa kebutuhan pelumas di wilayah Jatim cukup besar, terutama untuk industri. Di industri transportasi misalnya, mulai dari transportasi darat, laut hingga udara, pelumas menjadi salah satu produk yang sangat dibutuhkan demi kelancaran dan keberlangsungan usaha tersebut. 

Namun, karena kurangnya informasi yang didapatkan pelaku industri, akhirnya banyak pengusaha yang justru memilih produk pelumas dengan brand luar negeri, mengalahkan pelumas produk Pertamina Lubricant yang sejati sangat layak dan kualitasnya tidak kalah dibanding produk dari negara luar. 

"Kadin Jatim punya 38 Kadin Kabupaten dan Kota di seluruh Jatim. Kita bisa menggunakan mereka sebagai kepanjangan tangan dalam memasarkan produk pelumas Pertamina ini. Selain untuk supporting industri, bisa juga untuk pemasaran produk pelumas untuk kebutuhan ritel melalui pembangunan olimart," ujar Tri Prakoso saat rapat virtual meeting Kadin Jatim bersama PT Pertamina Lubricant, Rabu (22/7/2020).  Rapat virtual meeting ini dikuti oleh jajaran WKU Bidang Migas, Perhubungan, ESDM, Indusrti, Kontruksi, Jaringan Usaha Antar Provinsi, PT. PLN Distribusi Jawa Timur, PT. Pembangkitan Jawa Bali, INSA, ALFI dan PT. Maspion Group.

Menurutnya, pembukaan olimart oleh anggota Kadin Jatim di 38 kabupaten dan kota ini juga telah berhasil dilakukan oleh Kadin Jatim untuk membantu PT Maspion dalam memasarkan produknya di seluruh wilayah Jatim.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengurus Cabang ( DPC) Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Surabaya, Stenven Henry Lasawengen mengatakan bahwa masih banyak lini bisnis yang bisa dimasuki oleh Pertamina Lubricant, salah satunya adalah sektor transportasi laut atau shipping line.

Menurutnya, sektor shipping line Jatim miliki potensi yang sangat besar karena dari total jumlah perusahaan pelayaran di Indonesia yang mencapai 250 perusahaan, 180 perusahaan ada di Surabaya. Dan jumlah armada kapal yang dimiliki oleh 180 perusahaan pelayaran tersebut mencapai seribu unit kapal. 

Stenvent mengatakan, ada tiga segmen pasar lubricant di industri shipping line. Pertama kapal dengan bobot kurang dari  3000 GT sebesar 60 persen, kedua kapal dengan bobot lebih leih dari 3000 GT sebanyak 30 persen dan kapal dengan bobot 15 ribu GT sebesar 10 persen. 

"Dan kebanyakan mereka menggunakan pelumas  merek luar negeri. Saya coba tanya kenapa tidak menggunakan pelumas Pertamina, jawabannya sama. Kualitas dan masa pakainya lebih bagus pelumas luar. Padahal sebenarnya Pertamina juga memiliki pelumas dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih bagus. Hanya saja, mereka tidak mengetahui. Bahkan kalau ada produk yang hampir mirip dengan produk Pertamina, mereka justru lebih memilih produk luar. Rasa trust tidak dimiliki Pertamina di pasar pelumas shipping line," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Logistik Kadin Jatim, Henky Pratoko,  mempertanyakan adanya stimulus harga bagi kalangan industri logistik yang menggunakan pelumas Pertamina di masa pandemi. 

Apalagi potensi industri logistik ini juga cukup besar. Dari asosiasi traking, yaitu  Organisasi Angkutan Darat (Organda) di Surabaya saja, ada sekitar 8500 unit armada. Sementara Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia di Surabaya,  anggotanya juga mempunya sekitar seribu unit kendaraan truk. 

"Masa pandemi ini dan di masa menginjak new normal, apakah ada stimulus harga bagi angkutan darat yang selama ini mengalami penurunan masalah pendapatan. Kalau dibantu, negara pasti terlepas dari inflasi karena tidak tergantung produk luar negeri. Bayangkan saja, berapa bea masuk untuk membeli produk itu," ujar Henky. 

Selain itu, ia juga menyoroti soal kepercayaan konsumen terhadap produk pelumas Pertamina Lubricant. Henky mengatakan harusnya Pertamina menggandeng lembaga independen dari luar negeri yang melakukan peninjauan kualitas pelumas Pertamina dibandingkan dengan brand luar negeri. Ini sangat penting untuk mengetahui posisi pelumas Pertamina serta bisa membangun kepercayaan konsumen. 

Wakil Ketua Umum Bidang Konstruksi Kadin Jatim M Rizal mengatakan bahwa selama ini, informasi tentang produk pelumas Pertamina juga tidak sampai dengan benar kepada konsumen di sektor konstruksi. Sehingga mereka lebih memilih menggunakan pelumas merek luar negeri. Misalkan tentang lama masa penggunaan, hingga kualitas pelumas tidak secara gamblang dan jelas sampai ke konsumen. 

Untuk itu, Kadin Jatim akan membuat forum bersama yang akan mempermudah koordinasi antara pengusaha dengan pihak Pertamina Lubricant. "Virtual meeting ini kita jadikan awal forum bisnis, yang nantinya berguna untuk membicarakan segala hal yang terkait dengan bisnis pelumas dan tentang kebutuhan lainnya," sambung Tri Prakoso.

Pembuatan forum bersama  ini menurutnya, terinspisi dari langkah presiden Jokowi saat masih menjadi pengusaha kayu di tahun 1998 yang sempat membuat forum perkayuan dengan jargon "Bagaimana kita secara bersama-sama mengangkat kapal Titanic yang tenggelam". 

"Kita ibaratkan bangsa ini sebagai kapal Titanic yang tenggelam karena pandemi Covid-19. Kita harus angkat dan bangkit bersama. Bagaimana ekonomi yang tenggelam dan mengena kepada kita semua itu bisa kembali bangkit. Apalagi kadin Jatim juga dimint Pemprov Jatim untuk mendesain stimulus untuk mengangkat ekonomi Jatim," tambahnya.

Disisi lain, kerjasama yang akan dibangun bersama Pertamina Lubricant ini juga diharapkan bisa  menjadi alternatif bisnis bagi anggota Kadin di daerah yang saat ini usahanya lagi surut akibat pandemi Covid-19. "Ini akan sangat bermanfaat untuk dikembangkan. Barangkali bisa jadi harapan bagi teman daerah untuk membangkitkan ekonomi mereka," tambahnya. 

Menanggapi langkah tersebut,  Vice President Key Account Pertamina Lubricants  Sigit Pranowo, menyambut gembira. Ia mengatakan bahwa sebenarnya Pertamina Lubricant telah masuk di pasar pelumas shipping line. Hanya saja, kinerja pemasaran pelumas pertamina di sektor ini masih belum maksimal.

 

"Sebenarnya kalau di transportasi laut kami sudah eksis walaupun masih banyak ruang dimana kami mestinya secara pemasaran bisa masuk, khususnya di Surabaya karena Surabaya pusat maritim. Dan beberpa tahun yang lalu, kami juga telah rutin lakukan pertemuan dengan INSA Pusat, namun beberapa tahun terakhir kebiasaan yang bagus itu belum dilanjutkan lagi," terang Sigit. 

Untuk itu, ia berharap melalui kerjasama yang akan dibangun nanti, komunikasi dengan pengusaha bisa dihidupkan lagi. "Dan support dari Kadin sangat bagus untuk wilayah Surabaya, tentang pengetahuan produk maupun marketing untuk anggota INSA Surabaya," ujar Sigit.

Agar tidak berlarut, ia berjanji akan segera menindaklanjutinya dengan berkunjung ke kantor Kadin Jatim dalam waktu dekat untuk melakukan perbincangan secara mendalam tentang kerjasama yang akan dibangun.

Terkait stimulus yang dipertanyakan ALFI, Sigit mengatakan bahwa sebagai anak perusahaan BUMN, Pertamina Lubricant juga berkomitmen untuk menggairahkan ekonomi Indonesia. Dan di masa pandemi, Pertamina Lubricant berupaya memberikan kontribusi. Hanya saja, karena pemasaran tidak langsung ke konsumen, sehingga stimulus diberikan kepada distributor, yaitu berupa perpanjangan masa pembayaran. Karena distributor juga harus memberikan perpanjangan tempo kepada konsumen. "Dulunya distributor pelumas, membeli ke Pertamina secara cash.  Dan sekarang kami telah bekerjasama dengan pihak perbankan sehingga bisa memberikan tenggat waktu kepada distributor," katanya.

Sedangkan untuk diskon harga, Sigit mengaku bahwa diskon sebenarnya telah diberikan, tetapi tidak bisa diterapkan secara umum dan hanya di kondisi tertentu. Di pemasaran misalnya, ada stimulus yang diterapkan secara temporer. Karena sebenarnya Pertamina Lubricant saat ini juga mengalami kondisi yang sulit akibat kurs rupiah yang fluktuatif.kbc6

Bagikan artikel ini: