Ada fasilitas tarif nol persen, Kemendag genjot ekspor nanas dan pisang ke Jepang

Jum'at, 24 Juli 2020 | 14:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia berpotensi besar memenuhi pasar buah dan sayuran di Jepang sering dengan meningkatnya tren permintaan komoditas tersebut di negara tersebut.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun terus mendorong peningkatan ekspor produk hortikultura, khususnya sayur dan buah-buahan Indonesia ke Jepang.

Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kemendag, Sulistyawati mengatakan, ekspor buah dan sayuran berpotensi ditingkatkan ke Jepang. Pasalnya, dengan skema Pernjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Jepang (IJEPA), para pelaku usaha dapat memanfaatkan fasilitas tarif ekspor nol persen untuk komoditas nanas dan pisang.

"Pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional untuk mendorong ekspor ini sejalan dengan mandat Presiden Joko Widodo," katanya dalam siaran pers, Kamis (23/7/2020).

Sulistyawati menjelaskan, dalam kerangka IJEPA, kuota tarif nol persen yang ditetapkan untuk ekspor pisang segar yaitu sebanyak 1.000 metrik ton per tahun, sementara untuk nanas segar sebanyak 300 metrik ton per tahun. Namun untuk masuk ke pasar Jepang, ada sejumlah spesifikasi yang harus dipenuhi, seperti persyaratan maksimal berat nanas 900 gram.

"Selain itu, Jepang juga meminta produk sayur dan buah dalam keadaan beku (frozen) agar bisa bertahan lama," imbuhnya.

Konsul Jenderal KJRI Osaka, Mirza Nurhidayat menambahkan, impor produk sayur dan buah Jepang meningkat karena produksi dalam negeri Jepang semakin sedikit.

Hal ini tentu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing produk sayur dan buah. Tiga hal utama yang perlu diperhatikan dalam proses memasuki pasar Jepang menurut Mirza ialah kualitas, kuantitas, dankontinuitas.

"Kualitas terkait dengan pemenuhan persyaratan standar kelayakan pangan yang diakui Jepang, pengemasan dengan deskripsi yang jelas, dan pelabelan yang menarik. Kuantitas terkait dengan konsistensi jumlah produk yang diekspor. Sedangkan kontinuitas terkait dengan kesanggupan dalam mempertahankan keberlanjutan ekspor. Diperlukan kolaborasi dan kerja keras semua pihak agar ketiga poin utama ini dapat terlaksana," jelas Mirza.

Sekadar diketahui, tren pertumbuhan impor sayuran Jepang dari Indonesia naik signifikan selama lima tahun terakhir sebesar 11,5 persen per tahun. Bahkan, pada kuartal pertama 2020, impor Jepang dari Indonesia justru meningkat sebesar 24,2 persen (YoY).

"Tingginya kenaikan impor sayuran Jepang dari Indonesia salah satunya disebabkan adanya peralihan negara pemasok dari pasar Tiongkok akibat pandemi Covid-19. Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Filipina adalah negara-negara Asia Tenggara yang menjadi pesaing Indonesia untuk produk sayuran di pasar Jepang," ujarnya.

Sedangkan, impor buah Jepang selama kuartal I/2020 mencapai US$750,9 juta atau naik 7,4 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan dengan impor sayuran Jepang. Tingginya impor tersebut salah satunya disebabkan peningkatan konsumsi masyarakat Jepang akan buah yang menghasilkan vitamin tinggi untuk menjaga daya tahan tubuh selama masa pandemi Covid-19. kbc10

Bagikan artikel ini: