Pertamina rangkul Kimia Farma kembangkan bahan baku farmasi

Minggu, 26 Juli 2020 | 22:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Subholding refinery and petrochemical PT Pertamina (Persero)  PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) bersinergi dengan PT Kimia Farma Tbk untuk mengoptimalkan potensi nilai tambah dari pengolahan produk turunan petrokimia menjadi bahan baku farmasi, seperti parasetamol. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) secara virtual.

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin mengklaim sinergi ini sesuai arahan presiden untuk meningkatkan kemandirian sekaligus membantu menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor farmasi. Pangkalnya, 95% bahan baku masih dipasok dari luar negeri.

Budi menambahkan sinergi berawal dari penjelasan dan kajian yang dilakukan Pertamina untuk mengoptimalkan bahan baku di Kilang Cilacap menjadi bahan baku farmasi. "Tidak sampai satu bulan kajian sudah keluar," ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/7/2020).

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menambahkan, pihaknya telah menetapkan produk petrokimia sebagai lini bisnis (business line) andalan di masa depan saat terjadi transisi energi. 

"Untuk itu, Pertamina mencoba identifikasi peluang untuk masuk pada bahan baku farmasi dan logistik. Dan gayung bersambut dengan Kimia Farma, dan kita sudah melakukan penjajakan. Kami berterima kasih atas support pemerintah," paparnya.

Menurut Nicke Pertamina secara teknis telah melakukan kajian awal proyek dan selanjutnya berkolaborasi bersama Kimia Farma untuk diformulasikan dalam bentuk perjanjian kerja sama (PKS). Untuk mendukung realisasinya, Kilang Cilacap sudah dipersiapkan dan salah satunya untuk pengolahan petrokimia menjadi bahan baku farmasi.

Setelah di Cilacap, bakal dilanjutkan di kilang lainnya dengan skala dan jenis yang lebih beragam. Sebagai holding, Pertamina akan mengawal proses ini agar dapat terwujud sesuai harapan pemerintah.

Direktur Utama Holding BUMN Farmasi Honesti Basyir  mengatakan penandatanganan MoU meliputi aspek tekno ekonomi serta penelitian dan pengembangan (litbang).

"Integrasi bisnis di holding BUMN Farmasi perlu diiringi dengan menggandeng partner strategis untuk memperkuat kemampuan kompetitif, terutama dalam menjamin suplai bahan baku farmasi dan pengembangan produk petrokimia. Sehingga, kami berharap dapat merasakan efisiensi dari kerja sama bisnis ini," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: