Gandeng penerbit dan akademisi, Facebook utamakan berita orisinal

Senin, 27 Juli 2020 | 09:35 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Platform jejaring sosial terkemuka, Facebook baru saja memperbarui cara pemeringkatan berita di News Feed. Perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini komitmen untuk lebih memprioritaskan laporan dan cerita orisinal dengan penulis yang jelas.

Perubahan ini diumumkan oleh VP Global News Partnerships Facebook Campbell Brown, dan Product Manager Jon Levin. Dikutip dari Facebook Newsroom, perubahan ini berdasarkan penelitian pengguna dan dibuat dengan tanggapan dari penerbit berita (media massa) dan pakar akademik.

Pihak Facebook mengungkapkan, berita orisinal memainkan peran penting dalam memberikan informasi kepada orang-orang di seluruh dunia, mulai dari berita baru, laporan investigasi mendalam, mengungkap fakta dan data baru, hingga berbagi informasi penting pada saat krisis.

"Jurnalime penting ini membutuhkan waktu dan keahlian, sehingga kami ingin memastikan itu diprioritaskan di Facebook," demikian keterangan di Facebook Newsroom seperti dikutip, kemarin..

Facebook akan memprioritaskan artikel di News Feed yang diidentifikasi sebagai laporan orisinal. Caranya, perusahaan akan melihat artikel-artikel di topik cerita tertentu, lalu mengidentifikasi yang paling sering dikutip sebagai sumber asli.

"Kami akan mulai mengidentifikasi laporan orisinal dalam berita berbahasa Inggris, dan kami akan melakukan hal yang sama untuk berita dalam bahasa lain ke depannya," jelas Facebook.

Sebagian besar berita yang dilihat pengguna di News Feed tetap berasal dari berbagai sumber, yang mereka atau teman-temannya ikuti. Namun ketika sejumlah laporan dibagikan oleh penerbit dan tersedia di News Feed pengguna, maka Facebook akan mendorong yang asli agar bisa tersebar lebih luas.

"Menentukan laporan asli dan standar untuk itu adalah hal yang rumit, jadi kami terus bekerja sama dengan penerbit dan akademisi untuk memperbaiki ini dari waktu ke waktu," ungkap pihak Facebook.

Facebook juga telah mulai mengurangi konten berita yang tidak memiliki informasi transparan tentang staf editorial dari penerbit.

Perusahaan akan meninjau berbagai artikel berita untuk byline atau laman staf di situs web media yang mencantumkan nama depan dan belakang reporter, atau staf editorial lain. Byline merupakan keterangan nama penulis yang tertera di dalam sebuah berita atau artikel.

"Kami menemukan bahwa penerbit yang tidak memasukkan informasi ini sering kurang dipercaya, dan memproduksi konten dengan clickbait atau penuh dengan iklan," demikian penjelasan Facebook.

Perihal transparansi nama penulis ini, Facebook untuk tahap awal menerapkannya secara terbatas. Perusahaan menyadari di beberapa wilayah, transparansi justru akan membahayakan jurnalis. Sehingga, perusahaan akan mempertimbangkan lingkungan pers tempat penerbit berita bersangkutan beroperasi. kbc10

Bagikan artikel ini: