Atasi Covid-19, Kadin Jatim komitmen budayakan K3 di seluruh lapisan masyarakat

Selasa, 28 Juli 2020 | 20:07 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur berkomitmen untuk membudayakan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di seluruh lapisan masyarakat. Hal ini menyusul banyaknya pekerja yang terpapar Covid-19 di lingkungan kerja seperti perkantoran.

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan bahwa saat ini, pandemi Covid-19 telah berdampak pada seluruh lapisan masyarakat. Dan tidak ada satu pun usaha yang tidak terdampak atas merebaknya virus asal Wuhan tersebut. Akibatnya, kinerja ekonomi Indonesia melambat.

Di triwulan I/2020, ekonomi Indonesia  hanya mampu tumbuh sebesar 2,7 persen dan di triwulan II yang diperkirakan akan mengalami minus 4 persen. Sementara di triwulan III/2020 pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan mencapai nol persen. Sehingga harapan hanya di triwulan IV/2020.

Untuk itulah, K3 menjadi sangat penting dan menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan kinerja ekonomi. Karena jika K3 telah diterapkan di lingkungan industri, maka produktifitas perusahaan akan naik dan menjadi lebih baik.

"Kadin Jatim terus mengimbau seluruh pengusaha dan juga masyarakat secara luas agar budaya K3 diterapkan dalam kehidupan mereka. Dari hal yang tidak biasa, karena dipaksa akan menjadi  biasa dan akhirnya menjadi terbiasa, menjadi budaya. Melalui Kadin Institute, Kadin Jatim siap untuk melakukan pelatihan K3 dan siap bekerjasama dengan seluruh pihak," tegas Adik dalam webinar yang digelar oleh Kadin Jatim bersama Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Jatim dengan tema "Urgensi K3 Dalam New Normal", Surabaya, Selasa (28/7/2020).

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur Himawan Estu Bagijo mengatakan bahwa penerapan K3 sangat penting, tidak hanya saat pandemi saja, tetapi penerapan K3 ini menjadi bagian dari proses industri. Jika penerapannya bagus, maka produksi akan meningkat. Sebab ketika industri tidak mendapatkan masalah, maka industri akan maju dan bisa menghasilkan produk yang baik.

"Terlebih dengan masuknya era persaingan global dengan penerpaan teknologi yang sangat luar biasa, maka tantangan industri menjadi sangat berat, persaingan sangat tinggi. Sehingga unsur K3 sangat penting dilaksanakan," ujar Himawan.

Direktur SDM Pelindo 3, Edi Priyanto yang menjadi salah satu narasumber mengatakan bahwa penerapan budaya kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 menjadi bagian investasi bagi entitas bisnis yang sangat penting di seluruh sektor usaha. Terbukti budaya K3 bisa meminimalisasi pengeluaran tidak perlu akibat biaya yang harus ditanggung dari kecelakaan kerja.

"Dengan kata lain, budaya K3 secara tidak langsung sanggup menghindarkan perusahaan dari kerugian. Sebab biaya yang dikeluarkan akibat kecelakaan kerja tidak kecil. Bahkan efek domino yang ditimbulkan dari kecelakaan kerja cukup panjang, ditambah dengan brand awareness perusahaan yang terancam jatuh, Biaya langsung maupun tidak langsung menjadi risiko perusahaan,” kata Edi Priyanto yang juga menjabat sebagai Pengurus Asosiasi Ahli Keselamatan & Kesehatan Kerja (A2K3 Jawa Timur).

Edi menambahkan bahwa perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang meliputi pengobatan atau perawatan serta biaya yang harus diasuransikan. Sementara perusahaan kehilangan potensi omzet maupun laba, serta hilangnya waktu hingga sanksi hukum.

Mata rantai yang ditimbulkan akibat kecelakaan kerja mirip gunung es. Jika tidak ditangani, biaya yang ditimbulkan akan semakin besar. Edi mencontohkan anggaran untuk legal/hukum, waktu penyelidikan, penyediaan fasilitas gawat darurat di rumah sakit, dan sewa peralatan jika ada gangguan aset.

Perusahaan masih dituntut mengeluarkan gaji pegawai yang mengalami kecelakaan, melatih pegawai pengganti, upah lembur dan ekstra waktu untuk pekerjaan di bidang administrasi. “Itu belum termasuk hilangnya nama baik perusahaan. Itu jauh lebih mahal,” tegas Edi.

Berdasarkan data dari Kementerian Tenaga Kerja, angka kecelakaan kerja mampu ditekan dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2015 jumlah kecelakaan kerja mencapai 110.285 kemudian turun menjadi 105.182 (2016) dan turun hingga 80.392 (2017).

Sementara ILO memperkirakan pekerja meninggal rata-rata 2,78 juta jiwa setiap tahun di seluruh dunia hingga tahun 2017. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2014 yang mencapai 2,33 juta jiwa.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang K3 dan Pengawasan Disnakertransduk Jatim, Sigit Priyono mengatakan bahwa tenaga kerja merupakan aset dari semua pihak, utamanya untuk bangsa dan negara.

Dan di Jawa Timur, ada hampir 3,3 juta pekerja atau TK, khususnya di industri besar dan kecil di Jatim dengan jumlah perusahaan sekitar 46 ribu perusahaan. "Inilah tugas kita, tantangan kita bagaimana menerapkan keselamatan kerja di tempat kerja. Dan inienjadi tanggung jawab bersama, pemerintah, industri dan juga tenaga kerja serta akademisi," ungkap Sigit.

Kenyataannya banyak industri yang kecolongan, banyak pekerja terpapar tidak di tempat kerja mereka tetapi justru di lingkungan rumah atau kos-kosannya. Karena mereka berada di perusahaan terbatas waktu. Untuk itulah, protokol kesehatan tidak hanya harus duterapkan di tempat kerja tapi juga lingkungan rumah.

"Ini harus dipaksa, karena dari terpaksa akhirnya bisa menjadi terbiasa. Karena tidak semua perusahaan sadar untuk melaksanakan K3. Dan Covid memaksa kita untuk menerapkannya,"  tambah Wakil Ketua Umum Bidang SDM dan Ketenagakerjaan Kadin Jatim, Nurul Indah Susanti.

Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya, Sajiyo mengatakan Industri harus menjamin pekerja bisa bekerja dengan efisien dan efektif. Sementara Covid sangat berisiko dan penularannya tidak bisa diidentifikasi.

"Ini jadi tantangan bagi pemberi kerja. Bagaimana mereka tetap bisa memberikan jaminan keamanan dan kesehatan bagi seluruh pekerja," ujarnya.

Untuk itu, industri harus menerapkan sejumlah kebijakan. Pertama mengatur posisi di tempat bekerja,  jarak harus sesuai dengan aturan physical distancing. Kedua Managemen pekerja, usia lanjut diatas 50 atau dibawah 50 tahun dengan risiko penyakit harus diperlakukan khusus.  Ketiga meminimalisir hilangnya waktu kerja akibat sakit.

"Karenanya, ketika ada yang terpapar Covid-19, maka yang diistirahatkan tidak hanya yang sakit tetapi juga seluruh pekerja. Sehingga pemberi kerja harus memastikan penerapan protokol kesehatan," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: