Terhempas Covid-19, Matahari rugi Rp350 miliar, Ramayana Rp55 miliar

Selasa, 4 Agustus 2020 | 11:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pandemi virus Corona (Covid-19) ikut mengganggu bisnis industri di sektor ritel dalam negeri. Dua ritel terbesar di Indonesia baru-baru ini melaporkan kinerja enam bulan pertama mereka yang ternyata berakhir merugi.

PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) misalnya, mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 357,87 miliar. Demikian pula dengan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) yang juga merugi hingga Rp 55,3 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi, kinerja negatif LPFF terjadi karena anjloknya total pendapatan sebesar 62% menjadi Rp 2,25 triliun dari sebelumnya yang sebesar Rp 5,95 triliun.

Koreksi terbesar pendapatan berasal dari pos penjualan eceran dari Rp 3,81 triliun menjadi Rp 1,44 triliun, penjualan konsinyasi dari Rp 2,08 triliun menjadi Rp 760,07 miliar.

Selain itu, penjualan kotor semester I-2020 LPFF juga ambles menjadi Rp 3,93 triliun atau 62,7% lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu, demikian pula dengan pendapatan bersih juga turun 62,1% menjadi Rp 2,25 triliun.

"Pandemi Covid-19 telah secara signifikan berdampak pada operasi Matahari pada kuartal kedua. Sebagai tindak lanjut perseroan mengambil langkah pengurangan biaya secara menyeluruh, termasuk upaya untuk memperoleh keringanan sewa, yang telah menghasilkan penurunan pengeluaran operasional sebesar 53,8% pada kuartal kedua," kata CEO dan Wakil Presiden Direktur Matahari Terry O'Çonnor dalam siaran persnya, seperti dikutip Senin (3/8/2020).

Hal serupa juga dialami oleh RALS. Jumlah pendapatan Ramayana di semester I-2020 ini tercatat turun menjadi Rp 1,47 triliun, turun dari pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,48 triliun.

Koreksi pendapatan terbesar berasal dari pendapatan penjualan barang beli putus sebesar Rp 1,23 triliun, turun dari pendapatan sebelumnya yang sebesar Rp 2,86 triliun. Selain itu, koreksi pendapatan terjadi juga di komisi penjualan konsinyasi menjadi Rp 247,6 miliar dari pendapatan komisi sebelumnya sebesar Rp 627,1 miliar. kbc10

Bagikan artikel ini: