Penjualan listtrik PLN UID Jatim turun 2,03 persen di masa pandemi

Kamis, 13 Agustus 2020 | 16:59 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kinerja penjualan listrik PT PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur sepanjang masa pandemi Covid-19 dari Januari hingga Juli 2020 mencapai Rp 22,05 triliun atau mengalami penurunan sebesar 2,03 persen. Penurunan tersebut diakibatkan turunnya konsumsi listrik pelanggan di hampir seluruh golongan tarif, utamanya pelanggan industri.

Senior Manager Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN UID Jatim, Agung Surana mengatakan, penurunan tertinggi terjadi pada pelanggan industry karena berhentinya aktifitas ekonomi pada masa pandemi. Secara kumulatif, dari Januari hingga Juli 2020, penjualan listrik untuk pelanggan industry mencapai Rp 9,242 triliun dengan total daya terjual sebesar 8.497 GWh atau turun 4,4 persen. Sementara di bulan Juli, pendapatan listrik dari pelanggan industri mencapai Rp 1,338 triliun atau turun sebesar 10,55 persen.

Penurunan yang sama terjadi pada pelanggan golongan tarif bisnis. Selama periode Janurai hingga Juli, penjualan listrik pelanggan bisnis mencapai Rp 3,363 triliun dengan total daya terjual 2.732 GWh atau turun sebesar 4,3 persen. Sementara di bulan Juli saja, penjualan mencapai Rp 460 miliar dengan total daya 389 GWh.

"Untuk pelanggan golongan tarif sosial, penjualan selama Januari hingga Juli mencapai Rp 579 miliar dengan daya terjual sebesar 737 GWh atau turun 1,47 persen. Dan di bulan Juli saja, penjualan mencapai Rp 73 miliar dengan total daya 98 GWh," kata saat acara Press Conference denga tema "Tantangan Penyediaan Daya Listrik untuk Pemulihan Ekonomi" yang digelar secara virtual, Surabaya, Rabu (12/8/2020).

Hanya pelanggan golongan tarif pemerintah dan rumah tangga yang mengalami kenaikan. Secara kumulatif dari Januari hingga Juli, penjualan listrik untuk pemerintah naik sebesar 4,25 persen menjadi Rp 861 miliar dengan total daya terjual mencapai 612 GWh. Sedangkan rumah tangga naik 12,42 peren dengan total daya terjual 8.933 GWh atau sekitar Rp 7,787 triliun. Ini disebabkan karena banyaknya warga yang WFH atau berbisnis dari rumah.

"Dengan adanya pandemi Covid-19, tren penjualan per tarif menjadi berubah. Adanya himbauan bekerja dari rumah dan pemberlakuan PSBB berdampak pada penurunan kontribusi kWh jual tarif industry. Pada bulan Januari kontribusinya sebesar 41,24 persen turun menjadi 37,88 persen di bulan Juni. Sebaliknya kontribusi tarif Rumah Tangga meningkat dari 38,32 persen di bulan Januari naik menjadi 43,41 persen di bulan Juni.," terang Agung.

Karena banyaknya industri yang mengurangi jam kerja dan operasional serta banyaknya perkantoran dan mall yang tutup, maka beban puncak selama pandemi juga mengalami penurunan. Penurunan tertinggi terjadi pada bulan April, dari 5.824 MW pada April 2019 menjadi 5.475 MW pada bulan April 2020.

"Penurunan beban puncak ini terus berlangsung hingga bulan Juli tetapi prosentasenya semakin kecil. Pada Juli 2020, penurunan beban puncak PLN Jatim semakin kecil dari 5.453 MW di tahun lalu menjadi 5.393 MW. Dan di periode transisi menuju new normal, aktifitas perekonomian di Jatim kembali bergerak sehingga terdapat kenaikan di tarif Industri dan tarif Bisnis pada bulan Juni dibanding Mei," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: