Kadin Jatim: Pembukaan pariwisata pasca Covid-19 harus perhatikan perlindungan anak

Kamis, 13 Agustus 2020 | 20:17 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan bahwa pariwisata menjadi sektor andalan dalam pemulihan ekonomi Jatim pasca Covid-19. Untuk itu, pemulihan kinerja sektor ini menjadi prioritas utama bagi Kadin Jatim.

"Kemarin pemerintah telah mengumumkan bahwa  PDB triwulan II/2020 minus 5,3 persen, sementara di triwulan pertama masih positif 2,9. Yang jadi taruhan di triwulan III/2020. Kalau triwulan III minus, maka kita akan masuk jurang resesi. Kita mempunyai tanggung jawab bersama bagaimana caranya bisa menggerakkan ekonomi agar tidak masuk jurang resesi. Dan pariwisata adalah sektor andalan untuk gerakkan perekonomian," ujar Adik Dwi Putranto dalam acara acara East Java: The begining of Indonesia, penyusunan grand desain pariwisata Jawa Timur ramah anak dan berbasis lokal di kantor Kadin Jatim, Surabaya, Kamis (13/8/2020).

Pariwisata lanjutnya, menjadi salah satu episentrum pertumbuhan ekonomi Jatim karena ada banyak sektor yang berkaitan erat dengan kinerjanya, seperti sektor jasa, kuliner hingga pertanian dan UMKM. Untuk itu, sektor ini harus menjadi priotitas dalam pemulihannya.

Namun yang harus diperhatikan adalah bagaimana pariwisata ini bisa kembali dibuka  dengan memperhatikan perlindungan terhadap anak-anak. Karena anak-anak, khususnya di masa pandemi Covid-19 ini sangat rentan mengalami eksploitasi.

"Anak-anak harus kita lindungi. Dan menurut saya, harus ada Perda yang khusus mengatur tentang perlindungan anak di sektor pariwisata. Dan Kadin punya cara bagaimana perlindungan anak tetap terjaga dalam peningkatan industri wisata Jatim,"ujarnya.

Hal ini senada dengan yang dikatakan Direktur Eksekutif ALIT Indonesia, Yuliati Umrah bahwa selama pandemi, banyak ditemukan anak-anak yang memilih putus sekolah. Dan hingga saat ini, anak-anak tersebut belum dipastikan nasibnya. Jangan sampai kemudian, pembukaan sektor pariwisata ini menjadi cela baru bagi oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan eksploitasi kepada mereka.

"Karena sebelum pandemi pun, ada ribuan anak yang mengalami eksploitasi seksual di sektor pariwisata. Untuk itu, pembukaan kembali sektor pariwisata harus memperhatikan perlindungan anak-anak," ujar Yuli.

Terkait adanya temuan tersebut, Adik mengatakan bahwa hal ini bisa diminimalisir dengan peningkatan kualitas lulusan sekolah kejuruan dengan menerapkan pendidikan vokasi sistem ganda.

"Sejauh ini pendidikan tidak link and match   dengan dunia kerja. Kalaupun ada yang sudah ngelink, mereka tidak match. 

Sehingga muncul cela yang kadang dimanfaatka oleh segelintir orang untuk melakukan eksploitasi terhadap anak," tambahnya.

Dan saat ini, Kadin berupaya meningkatkan kualitas SDM dengan terus menyosialisasikan pentingnya pendidikan vokasi sistem ganda, termasuk di sektor industri pariwisata. Ini penting dilakukan guna meminimalisir pekerja, khususnya anak yang bisa dieksploitasi.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jatim, Andriyanto mengatakan,  hal fisik yang juga harus diperhatikan ketika pembukaan pariwisata dilakukan adalah menghadirkan kepercayaan bahwa anak merasa terlindungi ketika berkunjung.

"Ketika anak berdestinasi ke sana, anak akan merasa aman dan nyaman. Sehingga hal ini menciptakan lingkungan kondusif nyaman dan aman itulah yang namanya destinasi wisata ramah anak. Seperti menyediakan odong-odong, pemilihan tumbuhan atau bunga yang tidak berduri, pemilihan cat yang tidak mencolok, lantai tidak licin dan tidak tinggi serta adanya klinik anak.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Sinarto mengatakan bahwa saat ini, sektor pariwisata sudah mulai bergerak bangkit. Hampir separuh dari jumlah destinasi wisata di Jatim telah melakukan reaktivasi.

"Sekarang Pemda terus melakukan monitoring pelaksanaan. Kalau pembukaanya  tidak sesuai dengan protokol kesehatan, Pemda harus tegas dengan kembali menutup dan melakukan pendampingan, seperti yang dilakukan oleh Pemda Banyuwangi beberapa hari yang lalu," terang Sinarto.

Bahkan di Malang, okupansi hotel saat ini ada yang sudah mencapai 80 persen. Perhotelan sangat ketat dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti penyediaan tempat cuci  tangan,  hand sanitizer, deteksi suhu, masker. "Bahkan makan juga banyak yang dikirim ke kamar. Artinya, semua harus dilayani," tambahnya.

Walaupun sektor wisata tidak lepas dari perkembangan ekonomi makro, namun dengan sejumlah upaya yang telah dilakukan untuk membangkitkannya, ia optimistis kinerja sektor wisata di triwulan III akan tumbuh sebesar 20 persen .

"Terlebih kemarin Bu Khofifah juga telah memberikan bantuan alat kesehatan untuk persiapan pembukaan kembali 470 desa wisata di Jatim," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: